Ray
Sisa perjalanan hampir kebanyakan kuhabiskan untuk menerka-nerka siapa orang aneh yang memulai chat kemarin. ‘Hujan’? Bukan nama yang terdengar aneh untuk sebuah nickname. Tapi aku benar-benar tidak pernah mendengar atau melihat nama itu sebelumnya.
Hanya tersisa beberapa menit hingga kereta ini akhirnya tiba di stasiun tujuanku: Stasiun Kota Baru. Apa yang harus kulakukan? Lagipula … memangnya si ‘Hujan’ misterius ini mengenal atau setidaknya mengetahui wajahku? Hanya Haze yang tahu tentang identitasku sebagai pemilik blog Re: itu. Apakah dia membocorkannya pada seseorang? Tidak, kurasa tidak mungkin.
Justru, yang lebih aneh adalah bagaimana dia tahu apa yang sedang kulakukan? Jujur saja, semua ini menimbulkan perasaan yang sangat tidak nyaman buatku. Aku ingin putar balik. Tapi mustahil. Satu-satunya opsi yang kumiliki sekarang adalah turun secepat mungkin, lalu segera pergi. Tapi … di sisi lain aku penasaran.
Aaaarrghhh! Tau ah.
Kereta yang kutumpangi akhirnya berhenti saat aku sibuk memikirkan hal ini. Dengan enggan, kuraih backpackku dan berjalan keluar. Kugelengkan kepala sekuat tenaga, meyakinkan diri bahwa itu hanya orang iseng.
“Maaf, Mas Ray?” seorang bapak-bapak paruh baya, mungkin berusia awal 50-an menghampiriku. Aku menatapnya heran dari atas ke bawah. Wajahnya agak lusuh dengan jaket hitam kulit yang kebesaran. Rambutnya sudah mulai beruban, dan tatapannya agak sendu. Apakah bapak ini si ‘Hujan’? Kenapa rasanya gak mungkin ya?
“Iya, Bapak siapa?” tanyaku ragu.
“Saya diminta antar Mas Ray ke luar,” balasnya sambil mengisyaratkanku untuk mengikutinya. Aku tak bergeming dan tetap berdiri di tempatku.
“Disuruh siapa, Pak?” tanyaku mencoba memastikan.
“Orangnya gak bilang sih, Mas. Cuma ngasih ciri-ciri Masnya, sama ngomong, ‘bilang saja hujan’, gitu. Saya cuma tukang ojek di pangkalan depan, Mas,” jawab bapak itu agak takut.
‘Hujan’? Sialan. Orang itu benar-benar ada di sini?
Rasa penasaranku mengenyahkan rasa khawatir dan was-wasku. Akhirnya, kuputuskan saja untuk mengikuti bapak itu. Que sera sera. Apa pun yang terjadi, itu urusan nanti.
Bapak itu berjalan mendahuluiku, sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan aku tetap mengikutinya. Setelah beberapa saat, kami melewati pintu keluar dan bapak itu mengisyaratkanku untuk ke area parkir pinggir jalan, menuju sebuah mobil Audi A5 Sportback silver yang terparkir di sana.
“Itu, Mas,” kata bapak itu sambil menunjuk mobil itu dan berjalan ke sana. Ia kemudian mengetuk kaca mobil yang tertutup, yang segera dibuka perlahan oleh siapa pun yang ada di dalamnya. Aku berdiri agak jauh, mengamati.
“Ini Mas Ray-nya, Mas,” kata bapak itu kepada orang di dalam mobil. Kemudian bapak itu berbalik ke arahku, mengangguk sejenak, lalu beranjak pergi. Melihat mobil mewah itu, aku tidak bisa menahan pikiran untuk menduga jangan-jangan orang ini adalah suruhan ayahku. Aku memang tidak memberitahunya ke mana aku pergi, tapi ia jelas tahu dan mungkin dapat menebak bahwa rumah Mbah Rati adalah salah satu tujuannya. Mungkin itulah alasan kenapa ia mungkin mengirimkan orang untuk menemuiku di sini.
Dengan enggan, aku berjalan mendekat, dan berdiri di samping kaca yang terbuka, untuk mendapati di dalamnya adalah seorang pemuda, mungkin seusiaku, yang dengan santai menyandarkan sikunya di kaca mobil sambil menghisap pod rokok elektrik di tangannya.
“Ehem!” aku memecah keheningan. Ia menoleh ke arahku, dan tersenyum simpul.
“Kamu orang suruhan Arhan?” tanyaku sebelum orang itu mulai mengatakan apa pun, mencoba memastikan apakah dia memang orang suruhan ayahku.
“Arhan? Siapa Arhan?” tanyanya balik, menatapku dengan heran.
“Gak kenal Arhan?” tanyaku lagi. Ia menggeleng. Aku menatapnya dengan curiga. “Kamu bisa tahu aku di kereta, tahu aku mau ke sini, tapi gak tahu siapa Arhan?” lanjutku.
“Memang siapa Arhan?” ia kukuh bertanya.