“Ray! Buruan! Keburu penuh tuh warnet,” suara keras Didit menggelegar dari ujung lorong kelas yang sudah hampir kosong.
Tiap hari Selasa. Tidak, bukan tiap hari Selasa kami pergi ke warnet. Kalau itu, hampir tiap hari (selama sisa uang saku masih mencukupi). Tapi ada sesuatu yang selalu menggangguku tiap hari Selasa.
Berawal dari tahun ajaran baru dua bulan yang lalu. Ah, iya, maaf. Cerita ini bersetting sepuluh tahun yang lalu, ketika aku baru masuk kelas 3 SMA. Memang bukan awal dari segalanya, tapi aku memang lagi pingin cerita aja, masalah?
Tahun 2009.
Seperti biasa, tidak ada yang istimewa tiap kenaikan kelas. Ganti guru mata pelajaran, ganti ruang kelas juga. Kebetulan, kali ini aku mendapat ruang kelas di lantai empat, lantai paling atas. Untungnya, sejak kelas 1, siswa di kelas tidak pernah berubah. Masih orang-orang yang sama. Hal yang melegakan untuk seseorang yang tidak terlalu suka bergaul dengan orang baru sepertiku.
Berbicara tentang kelas dan guru baru, kita tidak bisa memilih akan mendapat guru yang seperti apa dan bagaimana. Mungkin kita bisa tahu siapa namanya dan yang mana orangnya. Tapi bagaimana sifatnya, bagaimana dia mengajar? Entahlah. Coba rasakan sendiri adalah jawaban yang tepat.
Guru juga manusia. Sangat tepat sekali. Hanya saja, jika kita berbicara tentang karakter dan kepribadian manusia, satu planet jawabannya. Tidak ada yang sama. Semua memiliki khas dan pembedanya masing-masing. Siapa sih yang suka disama-samakan?
Guru … ada yang baik hati, ada yang ramah, ada yang killer, ada yang murah nilai, ada yang pelit nilai. Ada yang humoris, ada yang selalu serius, ada yang pilih kasih, ada pula yang sifatnya paradoks—kadang baik, kadang jahat. Ada yang merasa selalu benar.
Dan begitulah. Aku pernah iseng bertanya kepada beberapa teman sekelas tentang mata pelajaran favorit mereka. Hasil polling teratas ditempati oleh Olah Raga, yang kedua … komputer (saat kutanya alasannya, ternyata itu adalah kesempatan emas untuk download anime dan drama Korea ilegal). Dan untuk mata pelajaran yang paling dibenci, posisi teratas diduduki Matematika, dan yang kedua Bahasa Inggris. Entah kenapa. Benci aja, katanya.
Lalu bagaimana denganku? Jujur saja. Aku tidak pernah memiliki mata pelajaran yang kusuka atau kubenci seperti itu. Yah, walaupun aku tidak terlalu suka pelajaran Olah Raga … karena aku malas. Jika reinkarnasi itu ada, aku yakin di kehidupan sebelumnya aku adalah seekor kucing. Makan, tidur, rebahan. Tapi aku tidak sebenci itu dengan olah raga, kok.
Pelajaran yang kusuka? Jawabannya hanya satu: relatif. Semua tergantung dengan guru yang mengajar. Mau se-me-nye-nang-kan bagaimana pun suatu mata pelajaran, kalau gurunya menyebalkan, aku akan selalu berharap waktu akan berlalu dengan cepat. Bahkan aku kadang menghabiskan waktu belasan menit untuk memandangi jam dinding di depan kelas, menaruh jari telunjuk dan tengahku di pelipis kanan, menirukan gaya Romy Rafael di TV, menanamkan sugesti dari alam bawah sadarku agar jarum jam berputar dengan cepat (tapi selalu gagal. Mungkin kita memang tidak bisa menghipnotis jam dinding—atau mungkin aku salah ilmu. Harusnya bukan hipnotis, tapi mentalis).
Kembali ke hari Selasa. Akan kuceritakan tentang apa yang terjadi sejak dua bulan lalu di hari Selasa. Tidak ada hal khusus usai pembagian kelas, perkenalan wali kelas baru, lalu memilih siapa saja yang akan menjadi pengurus kelas. Dan aku … entah bagaimana dinominasikan menjadi ketua kelas (lagi) dengan suara bulat, tanpa voting, hanya karena alasan sejak kelas 1 akulah yang menjabat sebagai ketua kelas, pemilik ranking tertinggi semester kemarin, sudah berpengalaman, dan populer sebagai siswa ganteng dan misterius (kalau tidak tahan, muntah saja tidak apa-apa); yang tanpa ba-bi-bu, Yang Terhormat Ibu Wali Kelas langsung ketok palu menyatakan diriku sebagai ketua kelas, tanpa memberikan waktu untukku protes dengan alasan waktunya sudah mepet—bisa dibilang suatu kejadian ajaib.
Kemudian lanjut dengan rutinitas seperti biasa. Ada jam kosong spesial, lalu ketua kelas turun ke ruang Tata Usaha atau TU, mengambil lembaran jadwal pelajaran, kembali ke kelas, menyerahkannya kepada sekretaris kelas agar ditulis di papan tulis, yang kemudian mendapat banyak protes dari para warga kelas yang budiman calon masyarakat penerus bangsa, yang menuntut agar lembaran jadwal pelajaran itu difotokopi saja. Lalu Ibu Sekretaris Kelas yang setali tiga uang, menghampiri meja ketua kelas untuk meminta persetujuan dan saran penyelesaian masalah. Namun sayangnya, Bapak Ketua Kelas sudah pura-pura ketiduran.
Dan pada hari Selasa, jam terakhir, dua jam pelajaran, adalah Olah Raga. Aku tidak punya masalah apa pun dengan ini. Setelah berganti seragam, kami turun ke lapangan outdoor sekolah yang terletak di tengah-tengah kompleks bangunan. Di bagian samping kiri dan kanan, serta belakang, adalah bangunan empat lantai yang kebanyakan berfungsi sebagai ruang kelas. Ruang kelasku ada di gedung belakang, lantai empat, nomor dua dari kiri. Gedung bagian depan adalah bangunan dua lantai yang khusus untuk ruang guru, perpustakaan, atau ruang serbaguna lainnya.
Karena jam terakhir, entah kenapa rasanya jadi lebih santai. Setelah pemanasan dan melakukan olahraga ringan untuk satu jam pelajaran, Pak Andi, guru Olah Raga kami tiba-tiba hilang entah ke mana, menyuruh kami untuk berolah raga sendiri sesuka hati. Aku … tentu saja tidak akan melakukannya. Kebanyakan anak laki-laki sedang asyik bermain voli, sedangkan anak perempuan bermain lompat karet. Karna aku tidak tertarik dengan itu semua, kuputuskan untuk duduk di bangku taman di sebelah kanan dan jadi penonton saja.
Sambil menyandarkan punggung di sandaran dan menyilangkan lengan, perhatianku terpaku pada permainan voli tim laki-laki yang terlihat semakin seru—walau tetap saja, aku tidak berniat untuk ikut serta. Sesekali kuedarkan pandangan ke sekeliling, ke setiap sudut sekolah yang muat dalam batas penglihatanku. Dan di sanalah, di lantai empat bangunan sebelah kiri (atau sekarang bangunan di hadapanku), di ruang paling ujung. Aku tidak tahu apakah itu ruang kelas atau apa, aku belum pernah ke sana. Tapi dari balik jendela, kulihat gadis itu melihat ke arahku, tersenyum.
Ya, gadis. Rambutnya panjang terurai bergelombang, mungkin siswi seangkatan? Atau adik kelas? Aku menatapnya, dan dia menatap balik dengan ekspresi tersenyum yang sama, membuatku sedikit bingung. Kami saling memandang untuk waktu yang lama.
“Lihatin apaan?” Ahmad, wakil ketua kelas dan juga teman baikku, tiba-tiba melemparkan dirinya di bangku di sampingku, membuatku sedikit terhenyak dan menoleh ke arahnya. Hembusan angin kecil yang tercipta saat ia menghempaskan diri menguarkan aroma kecut khas keringat.
“Tuh, siapa sih? Lihatin mulu dari tadi,” kataku sambil menunjuk ke arah gadis itu yang … hilang?
“Siapa?” tanya Ahmad sambil melihat ke arah jari telunjukku.
“Tadi ada cewek di situ. Lihatin terus sambil senyum-senyum,” balasku sambil mengabaikan eksistensi gadis itu yang sudah lenyap dari pandangan.
“Fans lu kali,” ujar Ahmad singkat sambil merebahkan punggungnya, dengan kepala mendongak ke atas, lalu memejamkan mata. Aku mengangkat bahu, lalu kembali memperhatikan anak-anak yang masih berolah raga.
Kupikir memang begitu, hingga aku menyadari satu hal: gadis itu akan selalu ada di sana, setiap Selasa, di jam Olah Raga, berdiri di tempat yang sama, memandang dengan tatapan dan senyuman yang sama. Tidak di hari lain, tidak di jam lain. Dan dia akan hilang tiap kali ada orang lain yang ikut memandang ke arahnya. Aku juga tidak pernah melihatnya di jam-jam lain atau di tempat lain (meskipun aku memang lebih banyak menghabiskan waktu kosong untuk tidur di kelas). Apakah dia … hantu? Pikiran konyol ini mau tak mau akhirnya menyeruak di dalam kepalaku.
Itulah kenapa, tadi, saat satu jam terakhir kami bebas berolah raga sendiri, aku memutuskan untuk naik ke sana, setidaknya hanya demi memuaskan rasa penasaranku. Karena masih jam pelajaran, hampir tidak ada siapa pun di lorong sekolah kecuali beberapa guru yang berpapasan denganku dan menanyakan kenapa aku berkeliaran seperti itu, tetapi kebanyakan hanya cuek dan melanjutkan urusannya.
Setelah tiba di lantai empat, aku langsung bergegas ke ruangan paling ujung, di mana ini adalah pertama kalinya aku menginjakkan kaki di lantai ini. Aku tidak melihat penanda ruangan apa pun yang biasanya dipasang di atas pintu. Bahkan, pintunya pun tertutup. Dengan was-was, khawatir jika di dalam ternyata sedang jam pelajaran, aku melongokkan kepala di jendela. Kosong. Bahkan … ini bukan ruangan kelas sama sekali. Di bagian dalam, kulihat banyak meja dan kursi ditumpuk, yang kuduga ruangan ini digunakan sebagai gudang untuk menyimpan meja-kursi yang sudah rusak.
Deg! Pikiran itu kembali muncul. Apakah gadis itu … benar-benar hantu? Kuraih gagang pintu yang tertutup itu, dan kubuka perlahan. Tidak sesuai ekspektasi. Padahal aku mengharapkan adegan seperti di film horor—suara pintu berdecit, aroma apak ruangan yang lembab, dan debu tebal yang berterbangan. Tapi itu semua … tidak ada. Ruangan itu walau dijadikan gudang, cukup bersih dan rapi, bukti bahwa ruangan ini memang sering dimasuki dan dibersihkan.
Aku melangkah masuk, dan kali ini sesuai dugaan, gadis itu tidak ada. Aku … tidak terlalu percaya cerita hantu seperti itu. Walau aku yakin makhluk seperti itu memang ada, tapi kisah horor seperti itu tidak mungkin ada di kehidupanku. Aku menolak. Sebaliknya, aku mulai berpikir bahwa selama ini aku hanya berhalusinasi. Mungkin penampakan gadis itu hanya citra yang diciptakan oleh otakku, dengan jadwal tiap hari Selasa, di jam Olah Raga, entah kenapa. Dengan perasaan agak puas (meski masih sedikit penasaran), aku memutuskan untuk kembali turun ke lapangan.
“Hei,” suara lembut itu menghentikanku dari langkahku di ambang pintu, sedikit mengagetkan. Dengan cepat aku berbalik badan. Gadis itu di sana. Sambil bersandar santai di tumpukan meja, tangan kanannya melambai ke arahku. Aku hanya menatapnya, pikiranku kosong, tak ada satu kata pun yang keluar.
“Kamu cari aku?” tanyanya kemudian dengan tetap bersandar di meja.
“Iya. Kamu kenapa lihatin aku terus dari dulu tiap jam Olah Raga?” aku balik bertanya, mencoba bersikap biasa saja, termasuk mengenyahkan pikiran bahwa gadis ini mungkin memang hantu—atau bukan.
“Aku gak lihatin kamu,” jawabnya, “kamu aja yang kepedean.”
“Oh? Ya sudah, maaf kalau begitu,” balasku sambil beranjak melangkah keluar.