Re:

Feyre
Chapter #4

Dongeng 2 - Manusia, Mengapa Kita Ada (Bagian 1)


Re:

Saya sering berpikir, untuk apa saya dilahirkan sebagai manusia. Meski saya yakin bahwa jiwa saya adalah seekor kucing. Dalam ajaran masa kecil saya, saya di doktrin bahwa manusia adalah makhluk paling mulia, melebihi malaikat, seorang khilafah atau pemimpin di bumi. Meski kini yang ada hanyalah sebuah pertanyaan, “Kalau manusia adalah pemimpin bumi, mengapa mereka masih berbuat kerusakan bukannya melindungi?” 

Buddha pernah berkata, bahwa dilahirkan menjadi manusia adalah sebuah keberuntungan yang luar biasa. Tapi saya bukan orang yang beruntung. Kalau boleh memilih, saya ingin jadi air saja. Mengalir, tanpa beban. Mau jernih, atau kotor penuh lumpur tak akan protes. Mau dia dibuat bersuci, atau cebok sehabis boker, tak akan protes. Malah air memberi kehidupan di muka bumi ini. Apa jadinya kita tanpa air?

Manusia di mata saya tak lebih hanya sekumpulan makhluk kerdil sombong yang merasa ‘paling’ dalam banyak hal.

Pernahkah Anda mendaki gunung atau bukit? Tidak perlu yang tinggi. 2000 meter di atas permukaan laut saja. Atau bahkan cuma beberapa ratus meter dari permukaan desa terdekat.

Dapatkah Anda melihat sebuah kota dari atas puncaknya. Bisa. Tapi apakah Anda bisa melihat ribuan manusia yang berjejalan di sana? Tidak. Menemukan di mana rumah Anda berada pun pasti akan sangat sulit.

Padahal hanya dilihat dari puncak gunung, manusia sudah tampak seperti amuba yang butuh diteropong lewat mikroskop. Bagaimana kalau dilihat dari tempat Tuhan yang sering digambarkan berada jauh di atas sana? Tapi begitulah manusia, sombongnya minta ampun.


Tapi Tuhan kan bukan manusia? Ya jelas bisa lihat lah.



Ya sudah kalau begitu.

Saya diam.




𓇢𓆸



Ray

Akhir-akhir ini aku sering kepikiran, sejak kapan aku jadi manusia yang suka mempertanyakan? Makin ke sini kok rasanya diriku semakin menjadi manusia super menyebalkan yang menentang segala sesuatu. Tapi tidak. Aku tidak menentang. Hanya mempertanyakan. Dan aku mengharapkan sebuah atau beberapa buah jawaban. Bukan cercaan.

Kalau di tarik kembali, semua berawal dari zaman SD dulu. Aku lupa kapan tepatnya, mungkin sekitar kelas 5 SD. Itu adalah pertanyaan menyebalkan dariku yang (kemungkinan besar yang) pertama.

“Pak, mana yang benar. Manusia pertama itu Nabi Adam, atau manusia purba-nya Darwin?” (Karena zaman itu sedang populernya teori Evolusi punya Darwin di antara teman-teman di sekolahku).

Dan tentu saja, karena itu pelajaran agama, siapa pun pasti sudah tahu jawabannya. Namun yang disayangkan, pertanyaan itu masih menghantuiku hingga kini. Bahkan aku sudah beberapa kali berdiskusi (atau berdebat) dengan banyak orang dari berbagai latar belakang, tapi tetap saja belum ada jawaban yang memuaskanku.


Mungkin aku akan terus bertanya.

Mungkin sampai mati.

Mungkin aku harus nunggu ketemu malaikat.

Mungkin aku harus nunggu dipertemukan dengan Tuhan.

Kalau memang ada.

Atau kalau aku gak berakhir jadi daging barbekyu duluan.




𓇢𓆸



Lihat selengkapnya