Re:
Manusia mendapatkan sesuatu dari manusia lain. Manusia melepaskan sesuatu dari manusia lain.
Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Tanpa manusia lain, manusia hanyalah sebuah cangkang kosong yang tak jelas mau diapakan. Saling membutuhkan, saling bergantung, itu adalah kodrat manusia.
Karena manusia tak bisa hidup sendiri, manusia akan selalu berubah. Seiring berjalannya waktu, seiring bertambahnya usia, manusia akan selalu berubah. Tak ada satu pun manusia yang sama seperti dirinya yang kemarin.
Tapi akankah perubahan itu membawa kita ke arah positif, atau sebaliknya?
Manusia tidak bisa hidup sendiri. Manusia membutuhkan manusia lain. Tapi sayang sekali, dunia ini membutuhkan keseimbangan. Yin dan Yang. Apa pun itu tak selamanya berdampak baik. Pengaruh manusia lain, banyak melahirkan pribadi manusia-manusia palsu. Manusia-manusia bertopeng, manusia-manusia berkedok.
Jika sudah begitu, sulit membedakan siapa yang tulus dan siapa yang tidak di antara para manusia haus pengakuan itu. Ingin menonjolkan bahwa dirinya adalah manusia berbudi luhur, dan berusaha mati-matian menyembunyikan kedok aslinya. Selalu berusaha mengikuti arus, mengikuti tren.
Lalu untuk manusia yang menolak mengikuti arus dan lebih memilih berdiri sendiri akan di labeli aneh, kuper, hingga lebih parahnya, manusia sesat.
Tidakkah kalian lelah bersandiwara?
Tidakkah kalian merasa kecil dengan mengikuti dunia orang lain?
Apakah kalian sebenarnya krisis identitas, atau hanya sekedar krisis pengakuan saja?
Jika Anda ikut bertanya, dan mempunyai jawabannya, jawablah pada diri Anda sendiri.
Saya tidak butuh. |
Ray
“Aku lepas baju ya, Kak?” kata perempuan itu sambil langsung melepas hijabnya, menampilkan rambut berwarna merah muda yang di gelung tinggi, lalu melepasi bajunya. Aku bingung, dia ngomong dengan nada bertanya, atau minta ijin, atau sebenarnya cuma mau ngasih tahu kalo dia mau bugil setengah?
“Branya perlu dilepas juga gak, Kak?” kali ini benar-benar bertanya setelah semua lembar kain telah menanggalkan tubuhnya. Sepertinya ini bukan tato pertamanya. Ku lihat ada tato entah apa di lengan kiri dan tato bunga dan kupu-kupu di punggung kiri bawah.
“Gak usah,” kujawab singkat. “Aku siapin senjata dulu, ya.”
“Senjata?”
“Alat tatonya.”
“Oh, iya Kak. Boleh sambil ngerokok gak Kak?”
“Hm? Terserah lah.”
“Jujur, tadi agak syok waktu lihat kamu. Maksudku, kesan pertama kamu kayak cewek kalem gitu, tapi sekarang udah nggak,” aku mencoba memulai obrolan. Perempuan itu sudah berbaring tengkurap di meja tato di hadapanku.
“Kak … Ray, ya?” tanyanya ragu.
“Iya.”
“Oh, panggil aku Kiky aja Kak.”
“Kenapa kok minta aku yang tato? Kan ada yang lain, kita kenal aja juga nggak, dan aku juga bukan tukang tato terkenal, malah lebih terkenal Bang Wisnu atau Mbak Rara. Aku masih pemula ini.”
Kiky tidak menjawab, dan malah sibuk dengan ponselnya.
“Soalnya penasaran,” jawabnya akhirnya.
“Ha?”