Re:
Ketika kita bertanya kepada seseorang, “Pernahkah kamu jatuh cinta?” saya yakin hampir semua dari mereka tidak akan ada yang menjawab `tidak`.
Tetapi ketika saya mencoba menanyakan hal yang sama kepada diri saya sendiri, entah mengapa rasanya susah sekali untuk mendapatkan jawabannya. Yang akhirnya malah membuat saya berpikir keras, “Apa saya memang pernah jatuh cinta?” dan ujung-ujungnya, malah membuat saya bertanya-tanya tentang hal lain, “Lagipula, apa itu `cinta`?”, bagaimana definisinya, ciri-cirinya, pengaplikasiannya?
Ah iya … saya kan cuma robot.
Ray
►[Ray, Rara nerima lamaran gue!]
Itulah hal pertama yang terpampang di ponselku ketika aku baru saja menghidupkannya di pagi hari. Sebuah pesan singkat dari Mas Wisnu yang dikirim melalui aplikasi Whatsapp. Dengan masih setengah sadar, kubalas pesannya,
[Wah, syukurlah, Mas. Udah gak berantem lagi kan?]◄
Dan dengan cepat aku mendapatkan balasan dari Mas Wisnu.
►[Enggak dong. Eh, hari ini studio tutup aja dulu ya.]
► [lu kasih tau Adi.]
► [Gue mau ke rumahnya Rara. Mau ngomong sama ortunya.]
[Oh, oke siap bos! Semoga lancar.]◄
Tidak ada balasan. Kulemparkan ponselku lalu kembali merebahkan diri di atas kasur. Pikiranku melayang entah ke mana. Teringat lagi saat kemarin Mas Wisnu menampakkan wajah marah dan kecewanya terhadap Mbak Rara, dan kini, mereka tampaknya telah atau akan menjadi pasangan yang bahagia.
Kalau dipikir-pikir lagi, sudah lama aku tidak pernah menjalin hubungan dengan seseorang. Terakhir aku berpacaran dengan temanku saat awal-awal kuliah, dan itu pun hanya bertahan kurang dari tiga bulan. Sudah berapa tahun berlalu? Hmm … .
Pikiran ini tiba-tiba muncul di kepalaku. Begini:
Ketika aku melihat seorang lawan jenis, yang lumayan cantik menurutku, aku tahu bahwa perasaanku itu bukan cinta, tetapi hanya sebuah ketertarikan. Dan jujur saja, perasaan ini tidak hanya muncul saat aku melihat perempuan saja, laki-laki juga. Bukan, aku bukan gay. Seperti yang sudah kubilang, perasaan tadi adalah sebuah ketertarikan. Sebuah perasaan yang sama seperti ketika aku melihat pemandangan alam, atau melihat sebuah karya seni yang cukup indah atau menarik. Bukan perasaan yang mengarah ke arah perasaan seksual. Hanya sebatas kekaguman visual belaka.
Ketika aku bertemu dengan seseorang yang sangat pintar, cerdas, jago di segala bidang, aku juga memiliki perasaan pada orang itu. Tapi lagi-lagi itu bukan cinta, tetapi menurutku itu adalah kombinasi dari perasaan tertarik, kagum, respek, dan mungkin sedikit rasa iri.
Kalau kuingat-ingat lagi, aku pernah berpacaran sebanyak 4 kali seumur hidupku. Dan semuanya, aku merasakan hal yang sama. Aku tetap berada dalam kondisi di mana aku tidak tahu apa itu `cinta`. Aku tidak tahu apakah aku benar-benar pernah jatuh cinta kepada mereka. Yang kutahu adalah, perasaanku kepada mereka hanyalah di ranah suka. Sebuah perasaan general kepada semua orang. Maafkan aku, wahai para mantan-mantanku.
Pernah sekali aku berpacaran dengan seorang perempuan, aku sangat menyukainya. Lalu hingga suatu hari, hubungan kami harus berakhir. Dan aku merasakan sebuah dorongan untuk mengajaknya kembali. Sedangkan aku tahu, perasaan yang menimbulkan dorongan itu bukanlah cinta, melainkan obsesi.
Pernah juga aku diajak jalan berdua oleh seorang perempuan. Dia hanya teman, terlepas apakah dia memiliki perasaan tertentu padaku atau tidak, aku tidak tahu. Saat aku pergi berdua dengannya, ada rasa deg-degan. Tetapi otakku dengan cepat merasionalkan hal itu sebagai kombinasi dari perasaan penasaran, tertarik, dan excited dengan hal baru. Dengan kata lain, aku sedang pergi berdua dengan seorang perempuan yang tidak memiliki hubungan cukup dekat denganku, dan itu membuatku bersemangat tapi juga was-was. Sejauh ini, aku masih belum menemukan definisi dan bagaimana itu `cinta`.
Ketika pernah ada yang mengajakku untuk melakukan hubungan intim, malah perasaanku saat itu adalah bingung dan enggan. Jelas ini bukan cinta. Kupikir-pikir lagi, sepertinya aku memang seorang aseksual. Dan ketika aku membayangkan harus melakukan hal itu dengan mengabaikan perasaanku tadi, kuyakin itu pun hanyalah sebuah perasaan nafsu, bukan karena cinta.
Jadi pertanyaanya, apakah aku pernah jatuh cinta atau mencintai? Entahlah, aku bingung.
Tetapi yang aku yakin, aku mencintai diriku sendiri. Meski untuk menyadari dan menerima hal ini, butuh waktu cukup lama buatku. Akan kuceritakan di lain waktu saja tentang perjalananku dalam proses untuk mencintai diriku sendiri (kalau ingat).
Karena bosan, kuputuskan untuk bangun dan memulai hari pagi ini. Hari ini libur, jadi kurasa, aku mau berselancar di internet saja seharian. Kuraih handuk yang tergantung di balik pintu, kusampirkan di atas bahu kiriku sambil meraih cangkir kosong kotor di atas meja di depan komputer. Setelah kunyalakan kompor dan memasak air, kutinggal untuk mandi sebentar, lalu menyeduh kopi Ijen yang baru saja kudapatkan kemarin melalui kiriman paket dari salah satu kenalanku yang tinggal di Bondowoso.
Kubuka blog kecilku yang bernama Re:, memandanginya, bingung mau apa. Tidak ada ide. Lalu kulihat sebuah notifikasi dari sebuah live chat yang kusematkan sebagai fitur di blogku, yang tiba-tiba muncul. Yah, mungkin aku mau chatting saja dengan orang random di luar sana.