RE-DESIGN US

Kagura Lian
Chapter #1

MORNING RUSH & THE PERFECT PLAN

Kania menempelkan kartu MRT pada gate masuk di Stasiun Istora Mandiri dan pintu otomatis itu membuka dengan suara bip pendek. Gelombang manusia yang bergegas mengalir di sekelilingnya, ada yang menenteng laptop bag, ada yang sibuk mengobrol via earphone, ada pula yang, seperti Kania, memegang terlalu banyak hal sekaligus dan tetap berusaha terlihat tertib.

Di tangan kanannya ada totebag hitam yang beratnya seperti penuh batu. Di tangan kiri, kotak kado persegi yang dibungkus kertas emas metalik dan pita satin biru navy. Di dalamnya terlipat kemeja slim fit warna emerald green, bagian dari rencana sempurna malam ini.

“Kalau sampai kusut, aku bakal nangis,” gumamnya pelan.

Kereta tiba tepat waktu, janji transportasi publik di kota yang jauh lebih cepat berdenyut dari detak jantungnya. Pintu bergeser terbuka dan Kania melompat masuk, mencari tempat berdiri paling strategis, dekat pintu, tetapi masih cukup aman agar tidak tertabrak tas orang. Kereta padat tetapi tidak sampai membuatnya kehilangan ruang bernapas. Dia memencet tombol unlock ponselnya dan kilatan notifikasi menyerbu layar seperti parade kecil sebelum perang.

 

Slack: Client Sinar Beton—update urgent request (Super urgent).

Email: RE: RE: Final visual deck timeline fix.

WhatsApp group: Tim Lumos Internal: Meeting dimajukan jadi 08.45.

 

“Serius?” Kania memijit pangkal hidungnya. “Aku belum sampai pintu keluar Sudirman.”

Namun, jemarinya bergerak cekatan, membuka laptop mentalnya dalam kepala, memikirkan revisi warna Pantone 7541 yang diminta klien semalam jam 11, request penggantian tagline “Strength Through Structure” menjadi “Better Concrete, Better Tomorrow”, yang menurutnya terdengar seperti iklan shampoo pria, dan tambahan hero visual yang katanya harus lebih “aspiratif.”

Revisi aspiratif jam delapan pagi.

Ya, baiklah.

Kania mengetik balasan cepat:

 

Oke noted. Begitu sampai kantor aku revisi. Mohon kirim copy tagline baru yang sudah final, ya.

Sent.

 

Kereta berhenti di Dukuh Atas BNI dan manusia berhamburan turun. Pintu menutup, kereta kembali menderu. Dalam satu detik keheningan mikro, Kania mendesah lega. Disiplin udara AC kereta membuatnya sedikit lupa bahwa di atas sana, Jakarta sudah memanas.

Kania memandang layar ponsel lagi, kali ini membuka folder foto tersembunyi berisi menu restoran La Brise Rive Droite, restoran Prancis yang memesona dengan interior gelap-kayu di Senopati. Malam ini. Pukul delapan malam. Raka akan datang tanpa tahu apa pun. Dinner surprise. Kemeja baru. Kue dengan dekorasi minimalis bertuliskan Happy 32nd, Rak dalam tipografi serif elegan.

“Perfect,” bisiknya, meski suaranya tenggelam dalam deru rel.

Ketika kereta berhenti di Stasiun Istora-Mandiri, Kania keluar bersama ratusan langkah kaki lain dan naik eskalator menuju permukaan. Begitu kaca atap stasiun tergeser di belakangnya, udara panas menyerangnya seperti selimut tebal yang dipanaskan dengan setrika raksasa.

Pagi itu SCBD sudah hidup sepenuhnya. Gedung-gedung kaca menjulang dengan kilau yang terlalu terang seolah ikut memaksakan optimisme pada tiap pejalan kaki yang lewat. Klakson tak sabar dari Jalan Jenderal Sudirman memantul di antara tembok tinggi, dan aroma kopi dari kedai-kedai berbaris sepanjang trotoar mengundang semua orang untuk memulai hari dengan kafein.

“Latte almond milk biasa ya, Kak Kania?” Barista di pojokan kios kecil sudah mengangkat cup to-go bahkan sebelum Kania sempat membuka mulut.

Di SCBD, identitas seseorang bisa diketahui dari kebiasaan kopinya.

“Kamu penyelamat.” Kania tersenyum. “Please make it double shot. Hari ini bakal panjang.”

Lihat selengkapnya