Matahari mulai merambat turun di balik garis gedung-gedung Sudirman ketika Kania meluncur ke arah Kemang. Kotak kado dan kue ulang tahun kecil duduk pelan di kursi penumpang seperti penumpang VIP. Dia menaiki taksi online untuk memastikan riasan wajah sederhana, yang dia poles di toilet kantor lima belas menit sebelumnya, tidak rusak oleh angin panas jalanan Jakarta.
Studio foto yang dituju terletak di sebuah gedung industrial, fasad beton dengan huruf logam besar bertuliskan TITAN.HOUSE di atas pintu masuk kaca, sebuah studio foto bagian dari perusahaan milik Raka, Titan Capital. Begitu Kania melangkah ke dalam, dia disambut simfoni cahaya lampu sorot, dengungan generator, dan aroma khusus yang hanya muncul di tempat seperti ini, parfum mahal model, hairspray, kertas backdrop baru yang segar disobek, dan kopi dingin dengan es yang mulai mencair.
Kania menarik napas panjang, menyetel ulang energi. Oke. Ini dia momen kejutan. Dia menenteng kotak kado ke depan tubuhnya, sedikit gugup tetapi penuh antusiasme, seperti seorang pemeran pembuka dalam film romansa modern yang yakin akhir cerita akan bahagia.
Set foto berada di tengah ruangan, langit-langit tinggi dengan tiang besi, kabel-kabel menjuntai bagai tali raksasa. Di belakang kamera, seorang fotografer berambut keriting memberikan instruksi sementara lampu strobo berkedip mengikuti irama shutter.
Dan di pusat semua itu, dengan kemeja hitam lengan terlipat, rambut tersisir rapi, dan sikap wibawa yang nyaris teatrikal, berdiri Raka.
Kania hampir tersenyum refleks melihatnya. Raka di mode kerja selalu punya daya tarik tertentu, percaya diri, cekatan, selalu tahu apa yang dia mau, dan biasanya tahu bagaimana mendapatkan hasil terbaik. Raka terlihat berputar ke samping, mengangkat tangan untuk mengarahkan angle wajah model di depannya. Vanya. Model utama kampanye itu. Tubuhnya ramping, rahang tegas, rambut gelombang yang jatuh dramatis di satu sisi, mengenakan blazer oversized yang entah bagaimana terlihat seksi alih-alih terlalu besar.
Vanya tersenyum ke arah kamera dan Raka membalasnya dengan senyum santai, senyum yang selama dua tahun terakhir Kania pikir eksklusif.
Kania menahan napas sejenak, tidak karena cemburu, tetapi murni karena bangga.
Inilah dunia yang mereka bangun bersama. Proyek kreatif tempat keduanya berperan, dia dari sisi konsep branding dan desain, Raka dari sisi arah visual dan produksi. Keduanya seperti dua belahan mesin yang mulus bergerak.
Kania melambai kecil ke fotografer. “Hey, Mas Alzi.”
“Eh, Mbak Kania!” Alzi mengangguk cepat sambil tetap fokus. “Final week, ya. Gila ini brief-nya, nyaris bunuh diri.”
Kania tertawa kecil. “Nanti kita bunuh kliennya aja biar selesai.”
Beberapa kru terpingkal pelan. Ya, di sini dia sudah seperti langganan. Orang-orang tahu siapa dia, dan tahu hubungan dia dengan Raka.
Sesi berjalan beberapa menit lagi sebelum fotografer akhirnya berseru lega, “Break lima belas, hydrate people!”
Lampu studio diredupkan, teknisi mulai mengganti lensa, dan make-up artist menghampiri Vanya dengan brush besar. Raka menepuk bahu fotografer, mengucapkan sesuatu sambil tertawa.
Kania mengangkat kue kecilnya, ukuran personal, tetapi indah dengan frosting putih mulus, dan melirik jam tangan. 07.20. Kalau dia cepat, dia bisa memberikan kejutan kecil dan masih sempat meminta Raka menyelesaikan sesi dengan energi baru. Dia menoleh mencari Raka di tengah kerumunan kru. Namun, Raka sudah tidak ada.
Kania mengerutkan dahi, menapak maju melewati tumpukan kabel, melintasi background kertas putih yang terhampar panjang, hingga mencapai koridor gelap menuju area belakang. Dia tidak bertanya pada siapa pun. Dia ingin kejutan itu benar-benar kejutan.
Plus, dia tahu pola Raka, kalau break, dia kadang menghilang sebentar ke ruang VIP untuk berdiskusi strategi atau … sekadar rehat.
Kania memindahkan kotak kado ke bawah lengan, hati berdebar manis.