RE-DESIGN US

Kagura Lian
Chapter #3

MASKS AND METRICS

Ada pagi-pagi tertentu yang terasa seperti kelanjutan mimpi buruk, bukan bab pertama sebuah hari baru. Kania terbangun dari tidur yang tidak pernah benar-benar dimulai, mata menatap langit-langit kamar apartemennya yang biasanya terasa netral dan aman, tetapi kini seolah memerangkapnya dalam ruang asing yang dingin dan sempit.

Apartemennya di bilangan Kuningan itu biasanya menjadi sanctuary yang Kania banggakan, sudut kerja rapi dengan lampu neon putih minimalis, bedding satin warna moss green yang serasi dengan tirai, rak kecil berisi sample print dan Pantone swatches sebagai dekorasi fungsional. Namun pagi ini, semua itu terlihat berantakan. Di meja kaca, masih ada kotak pizza setengah terbuka dari malam sebelumnya, sisa topping mengering seperti bukti kriminalitas emosional. Sebuah gelas kopi kosong tergeletak di lantai, berdampingan dengan sepak tisu kering yang terlempar begitu saja waktu dia terlalu capek untuk peduli. Dan bantal di sampingnya memperlihatkan noda maskara tipis yang memanjang, bekas garis hitam dari air mata yang tercecer tanpa izin.

Ponselnya bergetar lagi. Kania memejamkan mata. Dia tahu tanpa melihat bahwa notifikasi itu berasal dari satu nama yang kemarin tak pernah dia bayangkan akan membencinya. Raka.

Layarnya menyala bertubi-tubi, WhatsApp, telepon tak terjawab, bahkan pesan suara yang jumlahnya sudah belasan. Semua dengan nada memohon, mengelak, menjelaskan, atau mungkin memelintir realitas seperti biasa.

“Kita harus bicara.”

“Aku bisa jelasin.”

“Itu enggak seperti yang kau pikirkan.”

“Kania, please ….”

Kania membuka layar ponsel, menatap tsunami kata-kata kosong itu selama tiga detik, dan melakukan tindakan paling berdaulat yang bisa dia lakukan pagi itu. Menekan Clear All. Tidak satu pun dibaca. Notifikasi berganti menjadi sunyi. Dia membiarkan ponselnya jatuh di kasur dan menghela napas panjang, mengumpulkan serpihan dirinya yang masih berserakan. Kepalanya berat seperti disesaki balok beton, dan tenggorokannya kering, serta perih. Walaupun begitu, ada suara kecil, nyaris tenggelam, yang mengingatkan bahwa hari Selasa tidak memperbolehkan seseorang berhenti bernapas hanya karena malam sebelumnya hatinya digilas.

Kania menarik selimut ke samping, memaksa diri berdiri. Kaki terasa seperti bukan miliknya saat menginjak lantai. Namun, dia bergerak, perlahan, mekanis, seperti tentara tanpa perasaan menjalani instruksi dasar hidup.

Kania masuk ke kamar mandi, tanpa menyalakan lampu dulu, membiarkan cahaya pagi yang dingin memantul di cermin. Wajahnya muncul samar-samar, mata sembap, garis merah tipis di putih matanya, kulit kusam. Dia menyalakan keran air dingin dan membasuh wajah berkali-kali, menunggu rasa hangus di tenggorokan berubah menjadi dingin yang menenangkan. Mandi air dingin itu bukan hanya kebiasaan, tetapi cara untuk memaksa tubuh berpikir bertahan.

Setelah mandi, ritual perang dimulai. Serum, moisturizer, sunscreen, concealer dengan warna kuning untuk menetralisir merah, foundation tipis setara armor, dan maskara yang Kania lapis perlahan dengan tangan stabil meski napasnya tidak. Terakhir, lipstik merah matte, warna yang cukup berani untuk menang, cukup tajam untuk jadi tameng.

Dia berdiri di depan lemari, memandang isi rak yang penuh blazer dan setelan, pilihan seragam dunia SCBD yang tidak pernah menunggu siapa pun. Kania memilih salah satu yang paling dia simpan untuk presentasi besar, blazer hitam tailored dengan garis tegas di bahu, celana cigarette hitam, dan blouse satin ivory. Sepatu pump rendah yang nyaman tetapi tetap profesional. Hari ini dia tidak boleh terlihat seperti perempuan yang dikhianati. Dia harus terlihat seperti ancaman.

 

Perjalanan menuju kantor terasa seperti adegan film dengan filter warna biru dingin.

Kania berjalan cepat menuju stasiun MRT, menjaga langkah stabil. Dia masuk ke gerbong dan bersandar pada tiang sambil menarik napas panjang.

Kacamata hitam berbingkai besar Kania kenakan, bukan hanya untuk menyembunyikan mata sembap, tetapi untuk menciptakan jarak antara dirinya dan dunia. Di kaca jendela, pantulan dirinya kembali muncul. Blazer sempurna. Lipstik sempurna. Rambut disisir rapi dan dikunci dengan hairspray ringan. Namun, matanya, jika seseorang menatap cukup dekat, menyimpan badai.

Kania memejamkan mata sejenak dan mendengarkan suara kereta yang meluncur, logam bergesek dengan ritmis di rel bawah tanah, suara pemberitahuan stasiun melalui speaker yang dingin tetapi familier. Di dalam kepalanya, dua suara bertarung sengit.

Satu ingin berteriak, meluapkan seluruh kesakitan dan penghinaan, menyelam ke mode destruktif total. Yang lain, lebih kaku tetapi lebih rasional, berkata: Jika kamu jatuh sekarang, kamu memberinya kemenangan ganda.

Saat MRT melambat mendekati stasiun Istora Mandiri, Kania menghembuskan napas dan membuka mata. Jakarta seperti biasa, berisik, penuh energi, sibuk, dan tidak peduli dengan tragedi personal seorang desainer grafis.

Kania melangkah turun.

Lihat selengkapnya