RE-DESIGN US

Kagura Lian
Chapter #4

THE BILLION-RUPIAH VENGEANCE

Ada sesuatu yang berubah ketika Kania melangkah memasuki ruang town hall pagi itu, sesuatu yang tidak berhubungan dengan parfum citrus yang dia semprotkan sebagai pelindung emosional atau blazernya yang jatuh sempurna di bahu setelah dia melewati malam penuh kekacauan. Perubahan itu terasa seperti tarikan karet gelang yang diregangkan terlalu jauh, tegang, berdenyut, dan siap meletus kapan saja.

Town hall kantor Lumos Creative Agency tampak seperti versi modern ruang multipurpose hotel butik, dengan dinding kayu oak minimalis dan layar LED hitam besar di bagian depan ruangan. Catering kecil, donat glazur, mini croissant, dan kopi hitam panas, tersusun rapi di meja belakang, tetapi hampir tidak tersentuh karena suasana pagi itu mendidih oleh antisipasi dan ambisi.

Di layar LED besar, sebuah logo biru muda muncul. Bold. Simple. Korporat tetapi menantang. Blue Ocean Corp.

Kerumunan karyawan sudah memadati ruangan ketika Kania masuk, secangkir kopi kedua di tangannya, kacamata hitam sudah dilepas dan kecermatan profesional memancar di balik mata yang masih sedikit merah. Dia mengambil posisi di tengah ruangan, cukup dekat untuk menangkap visible clues dari CEO, tetapi tidak terlalu depan hingga menarik perhatian yang tidak diinginkan.

Suara percakapan orang-orang naik turun dalam gelombang kecil.

“Aku dengar budget-nya gila banget.”

“Rebranding lengkap, dari identitas visual sampai campaign nasional.”

“Kalau kita dapat ini, Lumos naik kelas.”

Energi itu menular, bukan seperti semangat festival, tetapi seperti medan perang sebelum pertempuran.

CEO Lumos, Bu Maya, naik ke panggung kecil dan mengetuk mikrofon.

Suara riuh mereda.

“Selamat pagi semuanya. Terima kasih sudah berkumpul.” Nada suaranya profesional tetapi mengandung sesuatu yang hampir elektrik. “Hari ini, saya ingin menyampaikan kabar penting, ini mungkin jadi momen terbesar tahun ini, bahkan tiga tahun ke depan. Lumos telah diundang untuk pitching tertutup proyek rebranding dari Blue Ocean Corp.”

Seruan dan decak kagum kecil terdengar spontas seperti letupan popcorn meletus acak.

Bu Maya tersenyum, lalu menekan klik pointer kecilnya, memunculkan slide baru, grafik naik, diagram target pasar, dan tagline “Transforming Indonesian Horizons.”

“Blue Ocean bukan hanya perusahaan properti yang memiliki jaringan mall dan hotel terbesar di Asia Tenggara,” lanjutnya, “mereka akan meluncurkan komplek mixed-use baru di lima kota, termasuk Jakarta, Surabaya, dan Bali. Rebranding ini akan menentukan citra mereka untuk dua dekade ke depan.”

Ada jeda dramatis, dan CEO membiarkannya menggantung, sebelum melanjutkan,

“Proyek ini bernilai … satu miliar rupiah dalam phase pertama.”

Jika ruangan tadi penuh antisipasi, kini berganti menjadi semacam kekaguman histeris terkontrol. Satu miliar. Dalam dunia kreatif, itu bukan hanya angka, itu validasi.

Kania meneguk kopi. Tekaknya menegang sedikit.

Pitching tertutup. Terbatas. Hanya agensi-agensi terpilih.

Dan di industri yang sempit seperti ini, tidak mungkin Lumos satu-satunya yang dipanggil.

CEO melanjutkan. “Kita sudah mendapat info siapa saja yang kemungkinan diundang. Dan ya … persaingannya tidak main-main.”

Klik. Slide baru muncul.

Genesis Collective

PixelForge Studio

ArkaVision Labs

Dan—

Nama terakhir muncul pada layar, seakan digambar dengan neon.

Titan Capital Studio (Owner & Creative Director: Raka Dharmawan)

Lihat selengkapnya