Ada alasan mengapa beberapa kafe di Menteng tidak pernah masuk daftar viral di TikTok, tempat seperti itu tidak butuh keramaian untuk membuktikan kualitasnya, tidak butuh influencer berjajar dengan tripod di pojok ruangan, dan tidak terobsesi dengan latte art berbentuk hati yang sempurna. Kafe itu, Lucent Pâtisserie, bertahan karena reputasi diam-diam. Sebuah tempat di mana kesepakatan besar terjadi tanpa tepuk tangan, di mana eksekutif muda datang bukan untuk kongkow ala Gen Z, tetapi untuk menenangkan diri di tengah perang korporat yang tidak pernah benar-benar tidur.
Kania tiba tiga puluh menit lebih awal, duduk di meja samping jendela besar yang membiarkan cahaya matahari sore menerobos masuk membentuk persegi keemasan di lantai. Langit-langit tinggi dengan lampu gantung logam membuat ruangan terasa luas, tetapi komposisi interiornya, kursi kayu solid, panel dinding berwarna biru gelap, dan menu yang dicetak rapi di kertas linen, menciptakan suasana intim, nyaris eksklusif.
Dia memesan pain au chocolat, memilih pastry paling klasik yang tidak pernah memberinya kejutan buruk. Selain itu, Kania memerlukan sesuatu yang gulanya cukup tinggi untuk menopang kepercayaan diri yang sedang dia pelihara dengan hati-hati pagi ini.
Tablet sudah menyala di atas meja, menampilkan deck awal yang Kania bangun semalam hingga larut, beberapa layout, potongan tagline, palet warna yang mengambil nuansa biru laut dengan sentuhan emas minimalis, semua terasa matang, mapan, bahkan dia berani menyebutnya elevated.
Setiap elemen itu dihasilkan dari amarah yang telah dia sulam menjadi produktivitas, dari pengalaman pribadi yang kemarin merobek dirinya, dan Kania pikir itu justru membuat desainnya lebih “hidup”. Dia siap, bukan hanya untuk mempresentasikan konsep, tetapi untuk membuktikan bahwa di luar hubungan kacau yang baru saja runtuh, Kania masih merupakan kekuatan besar di industri kreatif Jakarta.
Kania merapikan rambut yang dia ikat rendah, menegakkan punggung, memegang garpu kecil, dan menghabiskan suapan pastry pertama dengan kepuasan kecil. Entah dari mana keyakinan itu muncul, tetapi Kania merasa bahwa hari ini dia akhirnya akan memulai babak di mana dia mengambil kendali penuh atas ceritanya, profesional maupun emosional. Dan tepat ketika dia menelan suapan kedua, pintu kaca kafe terbuka dan seseorang masuk, sebuah gerakan sederhana yang langsung membelah keramaian kecil menjadi dua. Aris Pramudya.
Aris tidak perlu memperkenalkan diri, aura yang melekat pada laki-laki itu cukup kuat untuk membuat dua barista berhenti sejenak di belakang counter, dan seorang lelaki berjas di sudut ruangan tanpa sadar menoleh.
Kemeja putihnya tampak seperti baru keluar dari dry-cleaner, lipatan lengan hingga siku memperlihatkan lengan yang tidak berlebihan berotot tetapi terasa disiplin seperti seseorang yang lari pagi tiga kali seminggu tanpa mengunggahnya di Instagram. Jam tangan kulit cokelat tua dengan dial minimalis mengilap di pergelangan tangan kiri. Rambut hitamnya disisir ke belakang tanpa kilau berlebihan, membiarkan struktur wajahnya berbicara dengan sendirinya, garis rahang tajam, hidung ramping, mata yang dalam dan fokus seperti lensa kamera auto-zoom yang terus menganalisis dunia. Aris bukan tipe yang tersenyum lebar. Yang dia lakukan hanya mengangguk kecil ketika matanya menangkap Kania, dan itu cukup sebagai salam formal.
Kania berdiri sepersekian detik, sedikit kikuk lalu kembali menemukan bumi di bawah telapak kakinya. Dia menyodorkan kursi di hadapannya. “Aris. Terima kasih sudah mau ketemu.”
Aris menarik kursi dan duduk, gerakannya presisi seperti seseorang yang terbiasa membuat keputusan cepat dengan sedikit ruang untuk keraguan.
“Waktuku terbatas,” ucapnya pelan, suara baritonnya seperti kopi hitam tanpa gula, pahit tetapi mantap. “Silakan.”
Dan dengan itu, Kania menyadari bahwa opening of the pitch berada sepenuhnya di tangannya. Dia membuka tablet, memperlihatkan slide pertama. “Ini draft awal untuk Blue Ocean Corp. Aku pikir kita bisa memulai dari identitas warna mereka, tetap setia dengan brand equity existing, tapi—”
Aris mengangkat alis sedikit. Bukan skeptis, lebih seperti orang yang menilai.
Kania lanjut, lebih cepat dari biasanya, terdorong oleh keinginan untuk mengesankan sekaligus menghancurkan kemungkinan keraguan yang mungkin muncul.
“Tujuannya adalah membangun kesan aspiratif, target market kelas atas, ekspatriat, dan konsumen domestik premium. Tone-nya sophisticated tapi masih approachable. Sedikit luxury, tapi tidak membuat orang merasa ditinggalkan. Ini palet warna awal—”
Kania menggeser layar: ombre biru ke emas, font serif modern, tagline berbunyi Redefine Your Horizon.
Dan selama beberapa detik, Aris tidak bicara. Benar-benar tidak bicara. Dia hanya melihat. Tidak menatap pasif, tetapi menatap seperti seseorang yang membaca DNA desain sampai ke molekulnya.