Sena tidak pernah merasa setakut ini.
Seolah jika ia melangkah masuk ke dalam sedan hitam mengkilat yang terparkir di hadapannya, segalanya akan menghilang. Semua yang ia tahu, semua yang ia sayangi. Segalanya tidak akan sama lagi.
Jadi Sena bergeming. Terpaku di tempat dengan kedua tangan mencengkeram tali ransel hitam bututnya. Berharap satu orang saja menyadari pemberontakan kecilnya, lalu memberitahunya bahwa ia tidak perlu pergi. Bahwa ia bisa tetap tinggal seperti semua anak lain di sini.
Namun semua barangnya sudah terkemas rapi di dalam bagasi. Ia tidak punya pilihan selain berangkat.
“Sena baik-baik, ya, di sana.”