Re:LUARGA

Fanny F. Cussoy
Chapter #2

1 - Mata Badai

Pendar hologram membentuk sosok seorang wanita anggun dalam balutan kemeja putih susu serta celana bahan warna krem. Keriput menghiasi wajahnya yang teduh dan keibuan, sementara rambut kelabu sebahunya tersisir rapi. Segala tentang sosok wanita itu tampak cukup manusiawi kecuali sorot matanya yang kosong serta senyumnya yang kaku, nyaris robotik.

“Ngobrolnya kita lanjut besok, ya. Eyang capek, mau istirahat dulu. Kamu juga, istirahat dulu kalau udah capek. Jangan sampai sakit.”

Sosok wanita yang menyebut dirinya eyang itu melambaikan sebelah tangan, lalu menghilang begitu saja di udara kosong. Puft, seperti gelombang sabun yang pecah.

Sena mencengkeram tablet di tangannya, menahan napas. Sensasi ganjil yang tidak bisa ia namai menjalari punggungnya seperti ombak dingin, sesuatu yang selalu ia rasakan tiap kali menyaksikan sosok rekaannya itu menghilang di udara usai satu ketukan jarinya di layar tablet.

Shut down, end of presentation

Sedetik kemudian, suara tepuk tangan memecah keheningan.

“Itu tadi nenek saya. How did you do that?”

Jacob Adiwangsa berdiri dari balik meja kerjanya, menatap Sena dengan mata berbinar seperti seorang bocah yang baru saja menyaksikan pertunjukan sirkus paling memukau di dunia. Pertanyaannya membuat Sena meloloskan napas yang sejak tadi tertahan. Lega. Bagaimana tidak, seorang Jacob Adiwangsa baru saja memuji presentasinya. Anak bangsa yang mencatatkan namanya dalam jajaran sepuluh pengusaha muda paling berpengaruh di Asia versi salah satu majalah ekonomi berskala internasional selama tiga tahun terakhir. Midas di dunia bisnis, sebut orang-orang, karena segala yang disentuhnya berubah jadi emas.

“Ekspresinya masih kaku banget, sih,” Jacob menyambung, “But you can fix that, right?”

Sena mengangguk tanpa ragu. Bahkan andai tidak bisa sekalipun, ia toh akan mengangguk juga.

Great!” Jacob tampak senang, “Yang penting dari segi pilihan kata, udah mirip banget sama Eyang Putri, sampai saya rasanya… medinding?”

Jacob mengusap lengannya sendiri seperti orang kedinginan, membuat Sena mengoreksi, “Merinding.”

“Ah, yes, maksud saya itu,” Jacob terkekeh. Pria itu menepuk pundak Sena selagi berjalan melewatinya, lalu menghampiri sebuah kubus putih bersih seukuran kotak cincin yang tergeletak di lantai dekat meja tamu ruang kerjanya. Proyektor mini yang tadi menyemburkan pendar hologram yang membentuk sosok virtual sang nenek. Jacob mengambil benda itu dari lantai, mengacungkannya tinggi di udara dengan hati-hati seperti tengah mengangkat sebongkah permata. Di bawah pendar lampu kristal yang menggantung megah di langit-langit, serangkaian huruf berkilau perak dari permukaannya.

“Re:LUARGA,” Jacob mengejanya dengan khidmat, “Nice name.”

Saat ia kemudian mengalihkan pandang ke arah Sena, seulas senyum penuh kemenangan menghiasi wajahnya.

Lihat selengkapnya