Re:LUARGA

Fanny F. Cussoy
Chapter #3

Rinraya

Arunika pernah bilang, namanya berarti cahaya fajar. Seberkas sinar pertama yang terlihat di langit menjelang terbitnya matahari setiap pagi. Dan bagi Sena, memang seperti itulah Arunika: hangat, menyilaukan, baik pada siapa saja tanpa pandang bulu. Tidak seperti Sena yang pendiam dan lebih suka menjadi pengamat di luar arena, Arunika suka berbaur. Lebih mudah didekati, lebih mudah diajak berteman. Sena ingat bagaimana binar hangat selalu memancar dari sepasang mata bulat Arunika. Juga bagaimana senyum nyaris tak pernah absen menghiasi wajah kakak perempuannya itu, bahkan pada saat-saat tersulit sekalipun.

Dan saat ini, anak perempuan yang duduk di seberang meja makan bersama Sena itu membuat Sena merasa seperti tengah berhadap-hadapan dengan replika kakak perempuannya, hanya saja dalam versi lebih muda dan lebih… mendung.

Perawakan anak perempuan itu kurus, tidak tinggi. Ia mengenakan kaus bergambar tokoh kartun yang tak lucu, dibalut jaket kelabu yang jelas-jelas tampak terlalu besar untuk tubuh cekingnya. Biru jins yang ia kenakan tampak pudar, pun ransel hitam yang ia bawa serta koper beroda ukuran tanggung yang juga kelabu warnanya. Namun yang paling menarik perhatian Sena, tentu saja, adalah wajahnya. Alasan yang membuat Sena menolak tawaran Yanto untuk mengantarkan anak itu ke kantor polisi terdekat dan malah mengajaknya naik ke unit apartemennya.

Sena tidak pernah melihat wajah anak itu sebelum ini, tapi ia mengenali segala yang dilihatnya di sana. Sepasang mata bulat itu, bentuk hidung dan bibirnya, cetak wajahnya. Semuanya milik Arunika Satya. Bahkan gaya rambutnya pun mengingatkan Sena pada sosok kakak perempuannya itu sebelum mereka berpisah: rambut sebahu yang dikucir satu di atas tengkuk dengan poni lurus yang dipotong tepat di atas alis.

Sungguh, Sena merasa seperti tengah bertatap muka dengan kakak perempuannya lagi setelah dua puluh tahun tidak bertemu. Dan rasanya benar-benar… sulit dijelaskan.

“Nama kamu siapa?” Sena akhirnya memecah keheningan, setelah entah berapa lama menatap lekat-lekat wajah anak perempuan di seberangnya itu.

“Rinraya. Tapi semua orang panggilnya Rin.”

Di luar dugaan Sena, suara anak itu terdengar tegas. Kalem, tapi tegas. Tidak lemah. Sama seperti sorot matanya yang tanpa gentar membalas tatapan Sena.

“Kelas berapa kamu?”

“Tujuh.”

“Berarti umur tiga belas?”

Anak itu menggeleng. “Dua belas, Om.”

Dua belas, Sena mengulang dalam kepalanya. Begitu saja, otak Sena dengan cepat melakukan perhitungan. Dua belas tahun yang lalu, Sena baru berumur delapan belas. Itu artinya Arunika, yang lebih tua enam tahun darinya, baru 24. Di saat Sena tengah berjuang menghadapi ujian kelulusan SMA serta bersiap masuk perguruan tinggi, Arunika melahirkan anak ini. Dan hebatnya, Sena tidak tahu apa-apa tentang itu. Sama sekali.

Lihat selengkapnya