Re:LUARGA

Fanny F. Cussoy
Chapter #4

Sebelum Berpisah

Sena tidak ingat seperti apa suara tawa ibunya. Atau kebiasaan apa yang tak pernah absen dilakukan ayahnya setiap pagi sebelum berangkat kerja. Yang Sena ingat, ibunya selalu tersenyum dan ayahnya nyaris tak pernah marah. Arunika, walaupun tidak jarang terlibat pertengkaran kecil dengannya, menyayanginya setengah mati. Sena ingat betul keluarga kecilnya bahagia sekalipun tidak kaya, hingga hari itu datang dan memporak-porandakan segalanya. Tanpa pertanda, tanpa aba-aba.

Waktu itu Sena baru delapan tahun. Baru naik ke kelas dua, dengan nilai rapor yang menurut wali kelasnya terbaik satu angkatan. Liburan panjang kenaikan kelas baru saja dimulai, dan Arunika mengawalinya dengan acara liburan ke luar kota bersama teman-teman sekelasnya. Sena awalnya merengek minta ikut pergi, tapi ibunya berhasil membuat Sena berubah pikiran dengan berjanji akan mengajaknya jalan-jalan ke toko buku usai mengantar Arunika yang akan berangkat naik bus dari sekolahnya.

Sena masih ingat Arunika tersenyum lebar padanya sewaktu melambai dari jendela bus yang mulai bergerak. Juga bagaimana sesudah itu ia berjingkat girang sepanjang jalan menuju mobil tua lungsuran mendiang kakeknya di parkiran sekolah Arunika, terlampau bersemangat menagih janji jalan-jalan dari ibunya. Ia juga ingat ia duduk di jok belakang sendirian, bermain tebak-tebakan bersama ayah dan ibunya sepanjang perjalanan menuju toko buku hingga sesuatu menghantam mobil mereka dengan keras dari arah depan, bersamaan dengan jeritan yang memekakkan telinga serta bunyi kaca pecah yang lebih mengerikan daripada deru guntur mana pun yang pernah Sena dengar.

Selanjutnya, Sena tidak ingat apa-apa.

Hal berikutnya yang Sena tahu, ia terbangun di ranjang rumah sakit dengan kaki kiri yang patah dan rasa sakit di sekujur tubuh, serta Arunika yang sesenggukan di sisinya. Seumur hidup, baru kali itu Sena melihat kakak perempuannya yang selalu ceria menangis seperti itu. Dua hari setelahnya, setelah puluhan kali bertanya ‘mana Mama dan Papa?’ dan tak pernah dijawab, barulah Sena tahu alasan yang membuat Arunika menangis sewaktu melihatnya sadar: mobil tua lungsuran mendiang kakek mereka tak pernah sampai ke toko buku. Sebuah truk yang hilang kendali menabrak mobil mereka dari arah depan di tengah perjalanan, menewaskan Mama dan Papa saat itu juga sekaligus melukai belasan orang lain di sekitar lokasi kecelakaan. Hanya Sena yang selamat, sekalipun cedera di kaki kirinya membuat Sena tidak bisa lagi berlari normal seperti anak-anak lain seusianya.

 Begitu saja, kehidupan Sena dan Arunika berubah total. Mereka harus angkat kaki dari kontrakan sederhana yang seumur hidup mereka sebut rumah dan menghabiskan berbulan-bulan berpindah tempat tinggal dari rumah kerabat yang satu ke kerabat lainnya. Ayah ibu mereka sama-sama anak tunggal, jadi tidak ada saudara yang benar-benar bersedia mengasuh dua anak tambahan di tengah kondisi ekonomi yang pas-pasan. Sena dan Arunika pun hanya bisa pasrah saat sepupu-sepupu orang tua mereka akhirnya bersepakat memasukkan keduanya ke panti asuhan setelah setengah tahun saling tuding soal siapa yang semestinya mengasuh mereka.

Tempat tinggal baru mereka sejatinya tidak buruk. Walaupun sederhana, setidaknya Sena dan Arunika tidak perlu lagi berbagi kasur sempit yang digelar di lantai ruang tamu setiap malam. Tidak perlu lagi menyantap sarapan di bawah tatapan tak rela dari kerabat yang mereka tumpangi, atau mendengar bisikan penuh gerutu soal pengeluaran yang membengkak semenjak kedatangan keduanya. Mereka bahkan bisa kembali bersekolah dan, yang terpenting, keduanya tetap bersama. Mereka mungkin hanya punya satu sama lain, tapi bagi Sena, tidak ada penghiburan yang lebih menenangkan daripada itu. Asal Arunika ada di sisinya, Sena tidak butuh apa-apa lagi.

Hingga sekali lagi, hidup memutuskan bermain-main dengannya.

Pada akhir tahun pertama Sena dan Arunika tinggal di panti asuhan, sebuah tawaran adopsi dialamatkan pada Sena. Datangnya dari Darmoko Kartabuana, seorang pengusaha sukses dengan nama besar di bidang media dan pertelevisian. Darmoko mengenal Sena sewaktu menghadiri salah satu acara makan malam sederhana yang diadakan panti yang mengasuh Sena. Acara yang digelar tiga bulan sekali itu adalah semacam apresiasi pada para donatur panti, dan Darmoko adalah salah satu dari orang-orang murah hati itu. Darmoko mengaku ia dan istrinya jatuh cinta pada sosok pendiam Sena yang santun dan cerdas, dan sejak saat itu, keduanya terang-terangan menunjukkan ketertarikan—dan kesediaan—untuk mengangkat Sena menjadi anak. Mereka bahkan berani menjamin akan memperlakukan Sena sebaik mereka memperlakukan Andika, anak kandung mereka sendiri yang hanya empat tahun lebih tua dari Sena.

Syaratnya hanya satu. Hanya Sena yang diadopsi, Arunika tidak.

Awalnya, tentu saja, Sena menolak. Sebaik-baiknya Darmoko dan Laksmi—istri Darmoko—padanya, Sena tidak mau menukar kakak perempuannya dengan segala kenyamanan yang ditawarkan calon keluarga barunya itu. Ia tidak mau berpisah dari Arunika, titik. Arunika seharusnya merasakan hal yang sama, bukan? Setidaknya Sena berkeyakinan demikian, hingga suatu malam setelah kunjungan Darmoko dan Laksmi entah untuk yang keberapa kalinya, Arunika mengajaknya mengobrol berdua saja di teras panti.

Lihat selengkapnya