Getar ponsel dalam saku celana panjangnya membangunkan Sena.
Kedua kelopak matanya terasa berat, sementara kepalanya berdenyut-denyut seperti habis dihantam godam. Tidak berhenti sampai di situ, nyeri menjalari leher dan punggungnya yang kaku, buah ketiduran dalam posisi duduk di lantai bersandarkan meja kerjanya di kamar. Ponsel dalam saku celananya masih setia bergetar tanpa putus hingga Sena akhirnya mengeluarkan benda itu dengan malas dari dalam saku dan menekan tombol silang besar yang terpampang di layar untuk membuatnya diam. Baru kali ini ia mengutuki kebiasaannya sendiri yang selalu memasang alarm tepat jam lima pagi, bahkan pada akhir pekan seperti hari ini.
Sena tidak ingat kapan tepatnya ia mulai tertidur semalam. Pikirannya berkabut, dan segala keruwetan serta perasaan tak nyaman yang menderanya semalaman masih terasa begitu jelas. Menenggak sebutir parasetamol mungkin membantu, pikir Sena, tapi baru saja ia membuka pintu kamar tidurnya—ia menyimpan kotak obatnya di lemari dapur—pemandangan yang dilihat Sena di meja makan seketika mengusir pergi kantuk yang masih tersisa.
Anak perempuan itu, Rinraya, tertidur di ruang makan. Ia memangku ransel hitam bututnya sementara kedua lengannya terlipat di atas meja, difungsikan sebagai bantal. Pintu kamar tamu apartemen Sena, yang menghadap tepat ke dapur, masih terbuka dalam keadaan sama persis seperti saat Sena meninggalkannya semalam.
Ah, ya, betul juga.
Semalam, usai Rin bilang Arunika telah tiada, Sena begitu saja memutus pembicaraan. Ia menyuruh anak itu tidur di kamar tamu apartemennya—ia bahkan membukakan pintunya juga—lalu pergi mengurung diri di kamar tidurnya sendiri. Melarikan diri, karena kenyataan bahwa ia tidak akan pernah bisa bertemu Arunika lagi rupanya menghantamnya lebih kuat daripada yang ia bayangkan. Namun sekarang, melihat sosok Rin yang tertidur pulas di ruang makannya, Sena tahu ia tidak bisa melarikan diri lebih lama lagi. Ia perlu—harus—tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Jadi, sesuai rencana, Sena menenggak sebutir parasetamol demi meredam denyut menyiksa di kepalanya. Ia tahu ia semestinya mengisi perut dahulu sebelum minum obat, tapi masa bodoh. Ia butuh berpikir jernih sekarang, dan sakit kepala sama sekali tidak membantu. Sewaktu Sena lalu keluar dari kamar mandi usai mencuci muka, dilihatnya Rin menggeliat bangun. Anak itu mengucek kedua matanya yang masih terbuka setengah, menatap sekeliling dengan bingung sebelum terlonjak di tempat melihat Sena menatapnya lekat-lekat. Beradu pandang dengan Sena tampaknya mengusir kantuk anak itu sepenuhnya.
“Pagi, Om,” Rin menyapa dengan canggung.
Alih-alih balas menyapa, Sena mengedikkan dagu ke arah pintu kamar tamunya yang masih terbuka, “Kenapa kamu nggak tidur di sana?”
Rin menoleh sekilas ke arah kamar tamu sebelum kembali menatap Sena.
“Kamarnya bersih banget, Om. Rin jadi sungkan,” sahut anak itu jujur.
Kamar tamu apartemen Sena memang nyaris tidak pernah berfungsi sebagaimana mestinya. Kamar itu ada karena layout apartemen Sena dari sananya berkamar dua, dan berhubung Sena tidak pernah mengundang teman untuk bermalam, kamar itu lebih banyak menganggur daripada tidak. Kecuali satu malam saat Andika menginap pada minggu pertama kepindahan Sena kemari, kamar itu malah dipakai Sena untuk menyimpan sebagian koleksi buku lamanya serta beberapa setelan formal dan kemeja batik yang hanya ia kenakan saat harus menghadiri acara resmi bersama keluarga angkatnya.
Sena bisa saja mengomel karena Rin tidak menurutinya, tapi ia memilih tidak melakukannya. Mengomel sama sekali bukan gayanya, lagi pula ada banyak hal yang lebih penting untuk dibahas sekarang. Jadi Sena mengambilkan segelas air putih untuk Rin sebelum kembali duduk di seberangnya di meja makan, sama seperti semalam.
“Makasih, Om,” Rin mengangguk sopan sebelum meminum air putihnya dua teguk.
Sena bersedekap, tidak menyahut. Ia menghabiskan beberapa saat menimbang-nimbang sebaiknya mulai dari mana, sebelum akhirnya bersuara juga.