Re:LUARGA

Fanny F. Cussoy
Chapter #6

Kejutan

Sena tidak suka belanja, kecuali belanja ke toko buku. Dari dulu, ia selalu lebih senang menghabiskan uang jajan yang ia tabung untuk membeli buku ketimbang mainan ataupun baju. Dan sejak tinggal sendirian di apartemen sewaktu mulai memasuki dunia kerja, Sena tidak pernah menginjakkan kakinya di supermarket kecuali saat kulkasnya benar-benar kosong atau persediaan mi instannya tandas. Kebetulan sekali, dua hal itu menimpanya bersamaan kali ini.

Hari ini Minggu, jadi Sena tidak perlu berangkat ke kantor. Seperti kebiasaannya tiap kali ia perlu pergi belanja di hari Minggu, Sena keluar rumah hanya beberapa menit setelah jam buka supermarket demi menghindari keramaian. Namun kali ini, Sena tidak berangkat sendirian. Ia mengajak Rin juga, bukan karena berusaha bonding atau alasan romantis sejenisnya melainkan karena ia masih tidak cukup mempercayai anak itu untuk meninggalkannya sendirian di apartemennya.

Rin bisa dibilang bersikap manis seharian kemarin. Anak itu menghabiskan nyaris seluruh waktunya di meja makan, entah membaca buku, mengerjakan sesuatu yang tampaknya berkaitan dengan pelajaran sekolahnya—Sena tak tahu pasti karena tidak bertanya—atau berkutat dengan ponselnya. Beberapa kali anak itu menawarkan diri untuk melakukan pekerjaan rumah—menyapu, mengepel, atau sekadar mengelap meja—tapi tentu saja Sena menolak. Apartemennya sudah bersih, dan Sena tidak suka orang asing mengutak-atik rumah maupun barang-barangnya. Yah, walaupun secara teknis, Rin tidak sepenuhnya ‘asing’. Anak itu juga tidak mengganggu sama sekali sepanjang Sena bekerja di kamar tidurnya sendiri, tapi tetap saja. Sena tidak akan bisa belanja dengan tenang kalau ia meninggalkan Rin sendirian di apartemennya.

Supermarket terdekat dari apartemen Sena tergolong jauh untuk dicapai dengan jalan kaki, jadi seperti biasa, Sena membawa mobil. Mobil listrik yang berhasil ia beli dengan hasil keringatnya sendiri tiga tahun lalu, setelah berulang kali menolak niat Darmoko menghadiahinya mobil. Melihat Rin dalam diam mengagumi interior mobil listriknya seperti anak kecil yang baru pertama kali diajak ke kebun binatang, Sena tergelitik bertanya, “Kamu ke tempat saya naik apa?”

“Ojek online,” jawab Rin selagi berusaha memasang sabuk pengaman, “Papanya Tiara sebenarnya nawarin mau antar Rin, tapi Rin sungkan. Rumahnya Tiara jauh kalau dari sini.”

“Jadi kamu dibiarin naik ojol sendirian malam-malam kayak gitu?”

Nada tidak terima dalam suara Sena membuat Rin meliriknya gugup.

“Sebenarnya nggak malam, sih, Om,” Rin menyahut, “Rin berangkat habisnya pulang sekolah, jadi sampai sini agak sorean. Tapi kata satpam yang jaga di depan, Om Sena belum pulang. Jadi ya… Rin mondar-mandir dulu sekitar sini. Baru balik pas malamnya.”

Rin masih berkutat dengan sabuk pengamannya sembari menjelaskan kronologi kedatangannya ke apartemen Sena kemarin lusa, membuat Sena sedikit tidak sabar. Tanpa berkata-kata, Sena pun membantu anak itu memasang sabuk pengamannya—hanya sekali tarik dan klik. Beres. Sabuk pengaman Rin aman terpasang.

“Makasih, Om,” kata anak itu spontan. Sena hanya menggumam sebagai balasan, dan sepanjang perjalanan kurang lebih lima belas menit ke supermarket, keduanya tidak mengobrolkan satu hal pun. Hanya musik instrumental piano yang mengalun pelan dari pelantang suara mobil Sena yang terdengar sepanjang jalan, sambil sesekali disela deru mesin mobil serta klakson dari luar sana.

 Sesuai prediksi Sena, supermarket yang ia tuju tidak ramai sewaktu keduanya sampai. Seperti biasa ia mengambil keranjang alih-alih troli di depan pintu masuk supermarket, karena apa yang ia beli tidak pernah banyak. Rin, tanpa banyak bertanya, mengekor di belakang Sena.

Jujur, belanja berdua bersama anak perempuan seperti Rin membuat Sena canggung. Beberapa kali ia merasa karyawan supermarket atau pengunjung lain yang berpapasan dengannya mencuri pandang ke arah mereka berdua, seolah baru saja menyaksikan pemandangan ganjil. Mungkin Sena saja yang kegeeran—ia belanja tidak sampai empat kali dalam sebulan, jadi mustahil karyawan di sana hafal padanya. Juga orang-orang asing itu, mana ada yang mengenalinya lalu merasa aneh melihatnya tiba-tiba belanja bersama anak perempuan kecil yang tak pernah kelihatan sebelum ini? Sena saja tidak kenal orang-orang itu sama sekali.

Namun perasaan canggung itu mendorong Sena memperhatikan penampilan Rin lebih saksama. Anak perempuan itu, lagi-lagi, mengenakan jaket kelabunya yang kebesaran di atas kaus ungu muda—atau ungu pudar?—bersablon gambar unicorn yang sudah mengelupas di beberapa titik. Ia mengenakan jins yang sama seperti yang ia kenakan pada hari kedatangannya ke apartemen Sena, dengan sandal jepit mengalasi kedua kakinya yang kurus. Sena, di sisi lain, tampak necis walaupun hanya mengenakan kardigan rajut biru dongker di atas kaus putih polos berukuran pas badan. Logo Adidas terlihat jelas pada bagian paha kiri celana lari warna hitam yang ia kenakan—dan itu asli, bukan versi abal-abal seperti yang banyak berseliweran di toko daring dengan harga super miring. Dan berhubung Sena memang terbiasa memakai sneakers ke mana-mana, itu juga yang ia pakai hari ini—sneakers putih yang semerek dengan celananya—walaupun agendanya hanya belanja mi instan di supermarket. Bukan bermaksud sombong apalagi merendahkan, tapi memang ada gap yang cukup terasa di antara penampilan keduanya. Sena jadi khawatir—apa ia kelihatan seperti sedang menculik anak orang sekarang?

“Om cuma belanja ini aja?”—suara Rin menyeret Sena keluar dari lamunannya.

Sena pun menatap isi keranjang belanja di tangannya: berbungkus-bungkus mi instan serta mi cup dalam satu varian rasa, serta beberapa bungkus camilan dan soda kaleng.

“Kamu mau rasa yang lain?” Sena balas bertanya. Sena memang selalu membeli mi instan rasa mi goreng standar serta mi cup varian soto. Tidak pernah yang lain. Sena mungkin tidak pernah membatasi genre buku yang ia baca, tapi urusan mi instan, ia paling malas coba-coba.

“Bukan,” Rin menggeleng, “Maksud Rin, Om nggak beli telur atau daging gitu? Atau buah sama sayur? Kan kemarin seharian Om makan mi instan terus.”

Ah, jadi itu maksudnya.

“Saya nggak bisa masak,” tukas Sena ringkas. Selama ini, solusinya ketika ia sedang tidak ingin makan mi instan—atau saat mi instannya habis di saat yang salah—adalah memesan di luar. Kadang Laksmi juga mengiriminya masakan, tapi ibu angkatnya itu makin jarang melakukannya belakangan ini. Sena sudah terbiasa tidak menyimpan stok bahan mentah di kulkasnya, tapi jawabannya itu entah kenapa membuat kedua mata Rin seketika berbinar.

Lihat selengkapnya