Nama lengkapnya Joanne Margaretha Adiwangsa, tapi semua orang memanggilnya Retha. Alasannya simpel: Retha lebih mudah diucapkan ketimbang Joanne, jadi perempuan itu lebih suka dipanggil begitu. Dan jika nama belakangnya terdengar familier, ya, kau benar. Retha memang masih ada hubungan saudara dengan si pengusaha muda Jacob Adiwangsa. Sepupu satu-satunya dari kakek-nenek yang sama, sekalipun keduanya bisa dibilang jauh dari kata dekat.
Sena pertama kali bertemu Retha sewaktu menempuh kuliah S2 di Singapura dengan beasiswa yang ia peroleh sendiri, bukan dengan nama besar Darmoko Kartabuana. Retha, yang saat itu tengah menjalani pendidikan spesialis bedah saraf, sedang berada di Singapura untuk menemani salah satu profesornya ikut konferensi di sana. Seorang teman SMA Retha yang kebetulan satu kampus dengan Sena mengundang Retha ke acara perkumpulan mahasiswa Indonesia, dan di sanalah Sena bertemu perempuan itu.
Sena biasanya tidak terlalu suka menghadiri gathering semacam itu. Ia lebih senang berurusan dengan keramaian hanya saat dirasanya perlu—diskusi seputar kuliah atau sejenisnya—tapi hari itu, Sena sedang tidak ingin mendekam di kamar seorang diri. Lagi pula, ia bisa mendapat makan malam gratis di sana, jadi tidak ada ruginya juga ia hadir. Toh tidak ada yang protes sekalipun Sena menghabiskan sebagian besar waktunya menyendiri di pojok kafe tempat gathering itu digelar untuk membaca, hingga seseorang tiba-tiba saja menduduki kursi kosong di sebelahnya.
“Anak neurosurgery juga, ya?”
Sena ingat ia sempat terpana sewaktu mendongak dari bukunya dan mendapati Retha, duduk di sebelahnya, tersenyum padanya. Bagaimana tidak, gadis itu memang cantik, bahkan jika dilihat lewat lubang sedotan sekalipun. Sena biasanya tidak senang diajak bicara saat sedang membaca, tapi sapaan Retha saat itu entah bagaimana tidak terdengar mengganggu. Ia juga biasanya tidak pernah terlalu peduli pada teman-teman kuliahnya yang notabene berwajah cantik, tapi entah kenapa Retha berbeda. Mungkin karena aroma vanila lembut yang tercium dari sosok gadis itu, atau karena sepasang matanya yang berbinar mengingatkan Sena pada Arunika. Entahlah.
“Bukan,” Sena menyahut datar, membuat kedua alis Retha terangkat.
“Terus ngapain baca begituan?” Retha menuding buku tebal yang terbuka di pangkuan Sena. Buku tentang neurologi yang ditemukan Sena di perpustakaan kampusnya saat mengumpulkan referensi untuk tesisnya. Buku itu sejatinya tidak berhubungan dengan apa yang sedang ia kerjakan, tapi Sena sedang ingin mencari selingan.
“Iseng aja,” sahut Sena jujur, “Kovernya bagus.”
Retha melongo sesaat sebelum tawanya pecah. Gadis itu diam saja sudah memukau, tertawa apalagi.
“Sori,” Retha buru-buru meredam tawanya sendiri melihat Sena tidak ikut tertawa, “Ini pertama kali aku tahu ada orang baca buku itu cuma karena iseng dan kovernya bagus.”
Gadis itu lalu mengulurkan tangan kanannya ke arah Sena.
“Joanne Margaretha. Panggil aja Retha.”
Sena, walaupun masih canggung karena baru saja ditertawakan, menyambut uluran tangan Retha.
“Arkasena Satya. Panggil aja Sena.”
Perkenalan itu pun berlanjut menjadi obrolan panjang yang berakhir dengan saling tukar nomor kontak. Sena sejatinya tidak berharap Retha benar-benar akan menghubunginya lagi selepas malam itu. Dari apa yang Sena amati setelah mereka usai mengobrol, Retha sama sekali berbeda dengannya. Tipikal social butterfly yang selalu menjadi pusat perhatian di mana saja ia berada, gadis periang yang selalu dikelilingi seabrek teman. Sena mungkin terlihat menarik malam itu hanya karena ia kebetulan saja sedang membaca buku tentang neurologi tapi selebihnya, Sena tidak yakin Retha bahkan akan mengingatnya.
Namun, Sena salah besar. Selang dua hari setelah pertemuan pertama mereka, saat Sena tengah pusing-pusingnya merevisi tesis yang dicerca habis-habisan oleh profesor pembimbingnya, satu pesan singkat masuk ke ponselnya. Dari Retha.
‘Safely landed back home :) Aku ganggu gak?’
Dan satu pesan singkat itu menjadi awal pesan-pesan berikutnya yang lebih panjang. Obrolan mereka bersambung nyaris setiap hari, tidak hanya lewat chat tapi juga panggilan telepon dan bahkan, sesekali, video call. Untuk pertama kalinya sejak berpisah dengan Arunika, Sena menemukan seseorang yang bisa ia ajak bicara tentang nyaris apa saja. Seseorang yang bisa menghilangkan rasa penat yang ia rasakan seharian hanya dengan mendengar suara serta tawanya. Seseorang yang membuatnya berdebar-debar, sesuatu yang sama sekali baru bagi Sena yang sepanjang hari hanya tahu bekerja dan belajar. Jadi saat Sena akhirnya lulus S2 dan diangkat menjadi pegawai tetap di Neofuturindo Corp, hal pertama yang ia lakukan setelah kembali ke Indonesia adalah meminang Retha menjadi pacarnya. Gadis itu, tentu saja, menerimanya dengan senang hati.
Dan sekarang, Retha yang sama duduk di seberang Sena di meja makan dengan lengan terlipat di depan dada serta ekspresi wajah yang… entahlah. Tatapannya bolak-balik beralih dari Sena ke sosok anak perempuan kecil yang duduk di samping Sena, tampak masih sulit percaya dengan apa yang dilihatnya. Lima tahun berpacaran dengan Sena, rasanya baru kali ini pria itu memberinya kejutan se-mengejutkan ini.