Pagi Sena selalu dimulai dengan rutinitas serupa.
Alarm ponselnya akan berbunyi tepat jam lima pagi, dan Sena akan mengawali hari dengan melipat selimut serta merapikan tempat tidurnya—ya, seperti lirik salah satu lagu anak-anak yang familier itu, setiap hari. Setelahnya, Sena akan menghabiskan hampir setengah jam di kamar mandi: mandi, sikat gigi, bercukur tiap dua hari sekali, lalu berganti pakaian. Sena tidak terbiasa sarapan di rumah kecuali saat akhir pekan, jadi ia akan berangkat kerja tanpa makan pagi. Sebagai gantinya, ia akan mampir dulu ke sebuah kedai kopi 24 jam dalam perjalanannya ke kantor, memesan segelas iced americano tanpa tambahan apa pun. Selalu sama, setiap pagi.
Hari ini pun, Sena mengawali Senin-nya dengan rutinitas yang sama. Bangun pagi, melipat selimut, merapikan tempat tidur, lalu ke kamar mandi. Segalanya berjalan seperti biasa, kecuali satu hal. Ia tidak bangun pagi sendirian di apartemennya. Ya, ada Rin.
Keponakan Sena itu sepertinya tidak punya masalah dengan bangun pagi. Ia bahkan sudah menunggu di ruang makan setelah Sena selesai mandi, tidak lupa minta izin dulu sebelum gantian ia yang mandi. Setelah menghabiskan kurang lebih sepuluh menit di dalam sana, Rin keluar lagi sudah mengenakan seragam sekolahnya. Paduan kemeja putih dan rok biru tua bermotif kotak-kotak yang panjangnya melewati lutut. Pada bagian saku kemejanya, terbordir gambar sebuah buku yang terbuka dan memancarkan tujuh garis cahaya, dengan dua kata tertulis di sana: Sapta Warna.
Melihat logo familier itu, Sena tertegun.
Bukan, bukan karena dulu Sena juga bersekolah di tempat yang sama. Sena tertegun karena dulu Arunika-lah yang bersekolah di sana. Sekolah yang seharusnya akan Sena masuki juga seandainya kedua orang tuanya tidak tewas dalam tabrakan celaka hari itu dan Sena tidak pernah diadopsi seorang Darmoko Kartabuana.
“Om, Rin boleh minta air putihnya buat dibawa ke sekolah?”
Pertanyaan Rin menyentak Sena keluar dari lamunannya.
“Ambil aja,” Sena berdeham, lalu buru-buru menyiapkan tas kerjanya sendiri. Rin mengucapkan terima kasih—anak itu tidak pernah lupa mengucapkan kata ajaib satu itu—dan setelah memenuhi botol minumnya dengan air dari kulkas, anak itu mengenakan jaket kelabunya yang kebesaran dan memanggul ransel, siap berangkat.
“Bawaan kamu cuma itu?” Sena menuding ransel hitam Rin. Ia ingat salah satu seniornya di kantor pernah mengeluhkan bagaimana anaknya yang baru masuk SMP harus membawa tiga tas tiap kali ke sekolah. Satu untuk buku, satu untuk laptop, satu lagi untuk bekal makan siang. Sena, sih, dulu satu tas saja cukup.
“Iya, Om,” Rin mengerjap, “Kenapa?”
“Nggak,” Sena menyahut, “Ya udah, ayo.”
Sena menyambar kunci mobil serta tas kerjanya, lalu menurunkan sneakers putihnya dari rak sepatu di foyer. Kantor Sena tergolong sedikit longgar urusan berpakaian, jadi kecuali ada jadwal presentasi penting di depan klien, Sena selalu mengenakan sneakers ke kantor. Namun baru terpakai sebelah kiri, ia mendengar Rin berkata, “Anu, Om, Rin berangkat sendiri aja nggak apa-apa.”
Sena menoleh, menatap Rin seolah anak itu baru saja mengaku umurnya sudah dua puluh.
“Naik?” Sena spontan bertanya.
Rin merogoh saku roknya, mengacungkan ponsel model lamanya.
“Saldo Rin masih cukup buat hari ini.”
“Ojol, maksud kamu?”
Rin mengangguk. Sena menggeleng.
“Bareng saya aja. Kantor saya satu jalanan.”
***
Sena berdusta sewaktu ia bilang kantornya searah dengan sekolah Rin. Sekalipun tidak bersekolah di sana, Sena tahu persis di mana Sekolah Swasta Sapta Warna berada, dan letaknya sejatinya berlawanan arah dengan gedung perkantoran tempat Neofuturindo Corp terdaftar. Sena jadi harus memutar agak jauh, tapi setidaknya kedai kopi langganannya benar-benar masih satu jalanan dengan sekolah Rin sehingga ia tidak perlu memikirkan alternatif sarapan yang lain.
“Satu iced americano, ya,” seorang pemuda ceking bercelemek hitam berdiri di belakang mesin kasir, mencatat pesanan Sena, “Atas nama siapa, Kak?”
“Arka.”