Re:LUARGA

Fanny F. Cussoy
Chapter #9

Sapta Warna

Rin menoleh, menatap Sena ragu-ragu dalam kegelapan. Sewaktu dilihatnya Sena mengangguk, ia pun menelan ludah dan mengucapkannya.

“…Aku pulang.”

Dan, voila, lampu apartemen Sena menyala seluruhnya. Juga pendingin ruangan, pelantang suara yang mengalunkan musik instrumental dari plafon, serta layar datar di ruang tengah.

Welcome home, Rinraya. Ada lagi yang bisa saya bantu?”

Rin terlonjak di tempat mendengar sebuah suara mekanis menyapanya dari layar datar di ruang tengah. Ia kembali melirik Sena—yang lagi-lagi mengangguk—sebelum menyahut, “Ng-nggak ada, makasih. Eh, maksudnya Rin, kamu bisa… off sampai dibangunin Om Sena… besok pagi. Makasih.”

You are very welcome. Selamat beristirahat, Rinraya.”

Terdengar bunyi ‘klik’ dari pintu depan, lalu volume musik instrumental yang mengalun dari plafon pun meningkat sedikit. Si asisten virtual sudah berpamitan. Rin kembali menoleh ke arah Sena.

“Gampang, kan?” Sena mengangguk lagi, “Lain kali kalau kamu pulang duluan, tinggal setor muka ke layar kecil tadi, lalu masukin pinnya. Berapa?”

“631258,” Rin menyahut, dan Sena memberinya anggukan persetujuan. Kalau menurutmu angkanya random, memang. Sena sengaja memilih angka yang tidak ada signifikansinya dalam hidupnya agar kombinasinya sulit ditebak. Ia sudah mewanti-wanti Rin tidak boleh menuliskannya di mana pun kecuali di dalam otaknya karena ia sendiri pun begitu, jadi kalau sampai Rin tidak bisa masuk karena melupakan kombinasi pinnya, itu salahnya sendiri.

Semalam, Sena memang sudah mendaftarkan wajah dan suara Rin ke dalam sistem smart home unit apartemennya. Apartemen Sena mengkombinasikan face recognition dan pin enam digit untuk membuka pintu depan, jadi hanya orang-orang tertentu yang didaftarkan Sena ke dalam sistem yang bisa masuk ke apartemennya tanpa dirinya. Sebelum menambahkan Rin, hanya Sena sendiri dan Retha yang terdaftar. Namun gara-gara Rin terpaksa menunggu berjam-jam di koridor karena Sena baru pulang mendekati jam sembilan malam kemarin—ya, Sena lupa sama sekali soal pintu depannya—Sena berinisiatif mendaftarkan Rin ke dalam sistem. Ia mungkin masih canggung dengan kemunculan tiba-tiba serta keberadaan anak itu dalam kesehariannya, tapi ada sesuatu dalam diri Rin yang membuat Sena entah bagaimana merasa bisa mempercayainya. Sena hanya berharap dirinya tidak keliru.

Kebetulan hari ini Rin berada di sekolah sampai pukul enam sore gara-gara kerja kelompok, jadi Sena bisa menjemputnya. Sebagian rekan setim Sena memang masih lembur di kantor gara-gara dua proyek direvisi sekaligus, tapi asal Sena membawa bagiannya pulang dan mengerjakannya di rumah, tidak ada yang protes ia keluar kantor tepat waktu. Lagi pula, semua anggota tim Sena juga tahu betapa disiplinnya Sena soal pekerjaan. Saking disiplinnya, mereka sempat terheran-heran saat pertama kali tahu Sena punya pacar. Kirain kamu bakal pacaran sama android bikinan kamu sendiri, kelakar salah satu dari mereka.

“Gimana tadi sekolahnya?” Sena bertanya selagi membuka wadah nasi capcai serta mi goreng yang tadi dibelinya di kedai langganan dalam perjalanan pulang. Ia sejatinya tidak terlalu tertarik mendengar apa saja yang dikerjakan Rin di sekolah, tapi ia ingat Darmoko kerap menanyakan hal yang sama padanya dulu, saat ia baru diadopsi. Pertanyaannya sama sekali bukan soal minat, tapi soal niat. Sena hanya tidak ingin Rin merasa diasingkan omnya sendiri.

“Tadi ada tes Bahasa Inggris,” Rin menyahut antusias sembari membantu Sena mengangkut piring-piring ke meja makan, “Soalnya nggak kayak di latihan, tapi harusnya Rin bisa, sih.”

Anak itu lalu menceritakan juga soal kerja kelompoknya tanpa diminta—tugas wawancara untuk menulis artikel berita tentang profesi tertentu—sebelum teringat sesuatu. Ia minta izin pada Sena untuk menghilang sejenak ke kamarnya, lalu keluar tidak sampai lima menit kemudian dengan selembar kertas di tangan.

“Tadi Rin dikasih ini di sekolah,” Rin menyodorkan lembaran itu pada Sena. Isinya pemberitahuan soal pembagian rapor tengah semester. Jadwalnya akhir pekan ini, hari Sabtu, dan wali murid diharapkan datang untuk mengambil rapor sekaligus diskusi dengan wali kelas soal perkembangan siswa. Sena pikir yang begini adanya hanya di akhir semester saja.

“Tapi soalnya Mama nggak ada, rapornya boleh Rin ambil sendiri,” anak itu menambahkan, lalu duduk di seberang Sena di meja makan. Oh ya, sejak ada Rin, Sena memang tidak lagi makan malam di sofa bersama dua bantal. Meja makan Sena, akhirnya, berfungsi sebagaimana mestinya.

“Sabtu kantor saya libur,” Sena duduk juga, “Saya bisa ngambil kalau kamu mau.”

Seketika, kedua mata Rin membulat. Berbinar. “…Beneran, Om?”

Sena memindahkan sebagian nasi capcai ke piringnya sendiri sembari mengedikkan bahu.

“Terserah kamu, sih. Kamu mau ambil sendiri aja?”

Lihat selengkapnya