Re:LUARGA

Fanny F. Cussoy
Chapter #10

Nusa Antara

Tidak ada yang lebih melegakan daripada presentasi yang berjalan lancar.

Hari ini, Sena dan timnya menghabiskan pagi bertandang ke lembaga bimbingan belajar baru yang menjadi klien mereka. Revisi aplikasi yang hendak digunakan untuk mengajar di LBB tersebut sudah selesai, dan Sena lega kliennya tidak mendadak meminta hal yang sudah mereka ganti dikembalikan lagi seperti semula dengan alasan sesimpel ‘Maaf, Mas, ternyata bagusan yang kemarin’. Sekadar informasi, jenis klien yang begitu sama sekali tidak langka. Sering, malah. Namun berhubung si pemilik LBB dan rekan-rekan pengajarnya tidak rewel, Sena dan timnya tidak perlu menyiapkan presentasi lanjutan. Proyek aplikasi kali ini resmi selesai, terlepas dari urusan administrasi yang bukan bagian tim Sena, dan Sena pun tidak menolak ajakan rekan setimnya untuk makan siang bersama dulu di luar sebelum kembali ke kantor sebagai perayaan kecil-kecilan. Ia bahkan mengusulkan tempatnya—ya, Nusa Antara.

Pembicaraannya dengan Dennis sewaktu mengambil rapor Rin memang mengusik pikiran Sena berhari-hari. Ia tidak bisa berhenti penasaran tentang suami Arunika. Tidak, Sena sama sekali tidak berniat mencari sosok ayah Rin lalu menyuruh anak itu tinggal dengan manusia tidak bertanggung jawab itu. Ia hanya penasaran. Terlalu banyak yang tidak ia ketahui tentang Arunika, dan ia ingin tahu. Itu saja.

Restoran yang disebut Dennis pernah menjadi tempat Arunika bekerja sekaligus bertemu mantan suaminya itu—sebut saja mantan, toh ia minggat—kebetulan berada tidak jauh dari LBB klien Sena. Letaknya juga masih sejalanan dengan arah pulang ke kantor, jadi tidak ada yang heran apalagi curiga sewaktu Sena mengusulkannya. Dari pencarian singkat yang sempat Sena lakukan sebelum tidur semalam, ia tahu restoran itu sudah berdiri 15 tahun. Sesuai namanya, Nusa Antara berfokus pada menu-menu khas Nusantara. Kesan tradisional yang dekat dengan alam juga kental terasa dari elemen interiornya: motif kayu pada lantai parquet-nya, dekorasi anyaman bambu serta palem-palem artifisial, hingga sepeda ontel di salah satu sudut ruangan. Sena baru kali ini menginjakkan kaki di sana—ia bahkan baru mendengar namanya dari Dennis tempo hari—tapi ia bersyukur restoran itu tidak begitu ramai padahal sudah masuk jam makan siang. Jadi Sena dan timnya sama sekali tidak kesulitan mendapat meja.

Tim Sena sejatinya terdiri dari delapan orang, tapi hanya separuh yang berangkat presentasi hari ini. Selain Sena yang merancang konsep dan memastikan aplikasi buatan mereka berjalan sesuai logika yang seharusnya, ada Pak Lius selaku ketua tim, Ridwan yang bertanggung jawab soal desain dan tampilan aplikasi, serta Keira si anak baru sekaligus satu-satunya anggota perempuan di tim Sena. Gadis yang dari tadi sibuk berkutat dengan ponselnya sendiri itu sejatinya tidak banyak berkontribusi selama presentasi, tapi Sena sempat mendengar bosnya bertitah pada Pak Lius untuk membawa serta Keira dengan alasan si pemilik LBB seorang perempuan. Biar enak, sama-sama ada perempuannya, kata si bos. Seksis amat, pikir Sena, tapi ia memilih tidak menyuarakan pendapatnya. Bahkan sekarang pun, sejak meletakkan pantat di kursi restoran, mata gadis itu tidak lepas dari gawai di tangannya. Benar-benar tipikal anak muda zaman sekarang.

Tidak seperti Keira yang bergabung dengan tim Sena baru hitungan bulan, Ridwan sudah setim dengan Sena selama dua tahun belakangan. Pria bawel itu seumuran dengan Sena, dan sekalipun wataknya ibarat bumi dan langit jika disandingkan dengan Sena, harus Sena akui Ridwan adalah rekan kerja yang andal. Andai tidak hobi datang terlambat dan celetukannya tidak 80% menyinggung perasaan orang, Sena mungkin sudah mempertimbangkan Ridwan untuk sekalian dijadikan teman baik. Namun untuk saat ini, sepertinya teman sekantor saja sudah cukup.

Pak Lius beda lagi. Sang ketua sekaligus anggota paling senior di tim Sena itu adalah mentor Sena bahkan sejak Sena baru berstatus anak magang di Neofuturindo Corp. Pria berusia setengah abad itu sabarnya luar biasa, satu-satunya senior di kantor yang bagi Sena cukup enak diajak bicara bahkan tentang hal-hal di luar pekerjaan. Pak Lius adalah satu dari sedikit orang di kantor yang tahu Sena anak angkat seorang konglomerat, tapi tidak sekali pun pria itu memperlakukan Sena berbeda hanya gara-gara statusnya.

“Tumben nggak nolak, Sen,” Ridwan berkomentar setelah mereka selesai memesan, “Biasanya paling ansos kalau diajak keluar.”

“Hush, udahlah,” Pak Lius yang menyahut, “Sekalinya Sena mau, malah nyinyir kamu. Kayak tetangga saya aja. Lagian ini jam makan siang masih lama selesainya, kok. Kita nggak bakal telat balik kantornya, tenang aja.”

“Saya mah tenang, Pak Li! Situ, tuh, yang anti molor garis keras. Semenit lewat aja udah perkara. Lateness intolerance,” Ridwan mengedikkan dagu ke arah Sena, dengan sengaja memelesetkan istilah lactose intolerance untuk menyindir sisi disiplin Sena. Yang disindir hanya tertawa kecil, mengangkat bahu. Memang saat keterlambatan seringkali dianggap lumrah, menjadi tepat waktu seolah anomali. Lagi pula, Ridwan juga sering menyebutnya OCD hanya karena meja kerjanya tidak pernah tidak terlihat rapi, jadi Sena sudah terbiasa dengan celetukan Ridwan yang kadang membuat panas telinga.

“Udah pernah ke sini, Sen?” Pak Lius bertanya, mungkin mencegah Ridwan berkicau lagi.

“Belum, sih, Pak, tahunya dari teman,” kata Sena, “Mumpung ngelewatin juga.”

“Tapi dekornya cheesy, deh. Palemnya kelihatan banget kalau fake. Moga aja masakannya nggak fake juga,” Ridwan berkomentar lagi, lalu lanjut bercerita tentang restoran masakan Indonesia lain yang ia tahu. Makanan yang mereka pesan datang tidak lama kemudian, dan topik obrolan bergeser menjadi soal pekerjaan. Sena tidak terlalu menyimak—selagi menyantap nasi sotonya, ia lebih banyak mengedarkan pandang. Menyimak tiap detail tempat yang pernah disambangi Arunika mungkin setiap hari, entah sejak kapan dan hingga kapan. Sena juga diam-diam memperhatikan karyawan di sana, mulai dari kasir, pramusaji, hingga juru masak yang sesekali kelihatan sosoknya di dalam dapur. Apakah salah satu dari mereka mengenal Arunika? Kalau ia nekat bertanya, kira-kira ia harus bertanya pada yang mana?

Mereka selesai makan tidak lama kemudian, dan saat ketiga rekan kerjanya berjalan menuju pintu keluar setelah usai membayar, Sena sengaja berlambat-lambat di paling belakang. Ia masih menimbang dalam hati bagaimana ia akan mencari tahu soal Arunika saat dilihatnya salah satu juru masak keluar dapur, berbelok menuju koridor yang mengarah ke toilet. Membiarkan instingnya bicara, Sena memanggil Pak Lius dan berkata, “Saya ke toilet bentar, Pak. Duluan aja.”

“Oh, oke,” sahut Pak Lius santai. Selagi ketiga rekannya keluar restoran, Sena pun berjalan cepat menyusul si juru masak. Ia sendiri tidak masuk ke toilet pria, dan setelah mondar-mandir sejenak di koridor, juru masak yang dibuntutinya keluar juga dari toilet staf. Pria yang kira-kira seumuran dengan Pak Lius itu tampak terkejut sewaktu Sena mencegatnya.

“Maaf, Pak, mau tanya,” Sena berdeham, “Bapak kenal… Arunika Satya? Dulu pernah kerja di sini juga.”

Pria itu tampak berpikir sejenak sebelum mengangguk. Jantung Sena rasanya seolah salto di dalam rongga dadanya. Beruntung sekali ia langsung menanyai orang yang tepat.

“Tapi udah berhenti lama, sih,” pria itu menambahkan, “Saya udah lama nggak ketemu juga. Kenapa, ya?”

Lihat selengkapnya