Re:LUARGA

Fanny F. Cussoy
Chapter #11

Girls' Day Out

Bagi Rin, Arunika adalah seluruh dunianya.

Ke mana-mana berdua, melakukan apa saja berdua. Asal ada Arunika, Rin yakin hidupnya akan baik-baik saja, apa pun yang terjadi. Mereka mungkin tidak kaya, tapi keberadaan Arunika membuat segalanya cukup bagi Rin. Lebih dari cukup.

Makanya, sewaktu wali kelasnya muncul di ambang pintu kelas di tengah jam pelajaran Bahasa Indonesia hari itu, lalu mengajaknya ke kantor kepala sekolah untuk menyampaikan kabar duka itu, dunia Rin runtuh seketika.

Gelap, tidak ada sisanya.

Rin ingat setelah Arunika meninggalkannya, tidak ada hal lain yang ingin ia lakukan selain tidur. Segalanya terasa melelahkan, tidak ada artinya, jadi ia hanya ingin tidur saja. Lelap dan lama. Siapa tahu ia akan melihat Arunika lagi sewaktu membuka mata. Hingga malam itu, sehari setelah Arunika dimakamkan, Rin memimpikan ibunya.

Tidak, Arunika tidak muncul mengenakan pakaian serba putih dan tersenyum dengan wajah berseri-seri bagai malaikat dalam mimpi Rin. Dalam mimpi Rin, Arunika mengenakan kaus biru muda yang sering dipakainya di rumah, seperti biasa. Mereka berbaring bersisian di atas kasur, seperti biasa pula, sewaktu ibunya itu berkata, “Walaupun Mama nggak ada, Rin nggak boleh nyerah, ya. Segalanya mungkin jadi berat, tapi Mama tahu kalau Rin pasti bisa ngelewatin semuanya. Rin akan baik-baik aja. Tapi kalau nanti waktu Mama udah nggak ada dan hidup kerasa berat banget sampai Rin nggak tahu lagi harus ke mana, Rin boleh ke tempatnya Om Sena.”

“Mama ngomong apa, sih?” Rin ingat ia menyahut begitu.

Arunika hanya tersenyum, melanjutkan, “Om Sena mungkin benci sama Mama, tapi Om Sena nggak akan benci sama Rin.”

Ibunya meracau, pikir Rin, tapi ia bertanya juga, “Kenapa nggak?”

Arunika menatap Rin lama sebelum menjawab, “Soalnya Rin anak baik. Om Sena juga.”

Rin terbangun setelahnya, lalu menangis sejadi-jadinya. Ia tahu itu bukan mimpi. Itu kepingan memori.

 

***

 

“Rin suka donatnya, nggak?”

Rin mengerjap, lalu mengangguk. Di seberang meja, Retha menyunggingkan senyum lega mendengar jawaban Rin.

“Kalau gitu kita nanti beli selusin buat Rin bawa pulang, ya,” Retha menyambung, “Bagi sama Sena sekalian. Biar ada manis-manis buat dicamil di rumah. Sena, tuh, kalau udah kerja suka lupa makan soalnya. Rin jangan ikut-ikutan gitu juga, lho. Nggak baik buat badannya.”

Rin tertawa kecil, mengangguk.

“Makasih, Tante. Tapi… beneran nggak apa-apa, ya?”

“Hmm?”

“Tante akhirnya bisa libur, tapi malah pergi sama Rin.”

Retha terdiam sesaat mencerna ucapan Rin, lalu tergelak. Detik berikutnya, perempuan itu terbatuk-batuk karena tersedak donat yang sedang ia kunyah. Rin seketika panik, tapi untung saja Retha membawa tumbler sendiri.

“Kok ngomongnya gitu, sih? Ya nggak apa-apa, dong, Rin,” Retha menyahut setelah air putih yang ia minum membantunya berhenti batuk, “Atau kamu nggak seneng, ya, jalan berdua aja sama aku kayak gini?”

Buru-buru Rin menggeleng. “Ng-nggak, Tante, Rin seneng! Tapi sungkan.”

Jawaban jujur Rin membuat Retha mengulurkan tangan dan mengacak rambut anak itu gemas. Tangan kiri, karena tangan kanannya masih berlepotan krim donat.

“Kamu ini casing-nya kecil gini tapi isinya dewasa banget, sih! Nggak boleh sungkan! Anggap aja aku sama kayak Sena, jadi nggak perlu sungkan. Oke?”

Rin mengangguk, lalu menggigit donatnya dengan perasaan lebih ringan.

Hari ini, Retha memang libur setelah seminggu penuh sibuk setengah mati di rumah sakit. Sena seharusnya libur juga karena ini hari Sabtu, tapi pria itu malah makin sibuk karena mengejar revisi proyek robot pintar yang katanya harus didemonstrasikan timnya di depan klien minggu depan. Belum lagi proyek pribadinya di luar kantor. Retha yang tadinya berharap bisa melepas kangen dengan jalan bertiga pada akhirnya memutuskan untuk pergi berdua saja dengan Rin. Girls’ day out, begitu Retha menyebutnya. Dan bagi Rin, ini adalah pertama kalinya seumur hidup ia pergi jalan-jalan berdua dengan seorang perempuan dewasa selain Arunika.

“Habis gini ke toko buku, yuk,” Retha berkata setelah membayar untuk selusin donat yang nanti akan Rin bawa pulang, “Katanya Sena kamu suka baca. Nanti kalau ketemu yang kamu suka, bilang aja. Inget, nggak boleh sungkan!”

Lihat selengkapnya