Re:LUARGA

Fanny F. Cussoy
Chapter #12

Sedikit Lebih Dekat

Sena baru keluar kamarnya sekitar jam sepuluh pagi.

Sebenarnya ini hari Minggu, jadi sah-sah saja andai Sena baru keluar kamarnya tengah hari sekalipun. Namun seperti tiap kali deadline proyek yang dikerjakan timnya mendekat, batasan antara hari libur dan hari kerja Sena menjadi kabur. Ia tidak pernah pulang sebelum jam sembilan malam belakangan ini, dan kemarin pun ia harus masuk kantor di hari Sabtu. Pola makan dan pola tidur Sena kembali amburadul, apalagi ditambah proyek pribadinya dengan Jacob Adiwangsa yang baru bisa ia sentuh sepulang kantor. Bisa tidur lima jam sehari saja menjadi suatu kemewahan bagi Sena kalau sudah memasuki saat-saat seperti ini.

Sena sejatinya tidak ingat ia baru benar-benar tidur jam berapa semalam. Yang jelas, ia sudah terjaga sewaktu alarm jam lima paginya menyala tadi. Ia bisa saja menghabiskan beberapa jam lagi di depan komputernya di kamar, tapi raungan perutnya yang lapar membuat Sena akhirnya menyerah juga. Lagi pula, Retha sudah mengiriminya pesan pengingat sarapan dan ia sudah terlanjur bilang ia akan makan. Plus, Sena tidak ingin masuk IGD lagi.

“Pagi, Om,” Rin menyapa dari meja makan sewaktu Sena melangkah keluar dari kamar tidurnya. Anak itu memegang novel yang sudah terbaca setengah jalan di tangannya—salah satu hadiah pemberian Retha kemarin, Sena menerka. Ia jadi teringat niatnya sendiri memberikan Rin hadiah untuk nilai rapor tengah semesternya yang terhitung bagus, yang sampai hari ini belum juga kesampaian padahal sudah lewat seminggu sejak rapor anak itu dibagikan. Selain terlampau sibuk dengan pekerjaan, sejatinya Sena juga tidak ada ide mau memberi apa. Gampanglah, Sena memberitahu dirinya sendiri, entar aja dipikir lagi kalau kerjaan semua udah beres.

“Pagi,” Sena pun menyahut sembari melenggang ke dapur, menghampiri kulkas dan mengeluarkan sebotol air mineral dingin dari sana. Namun baru saja ia menempelkan mulut botol pada bibirnya, tatapan Rin dari meja makan membuatnya tidak jadi minum. Bagaimana tidak, Rin menatapnya seolah ada tanduk mendadak tumbuh dari jidatnya atau apa.

“Apa?” Sena bertanya.

“Nggak,” Rin buru-buru menggeleng, mengulum senyum, “Om biasanya nggak pernah balas.”

Sena mengerjap. Iyakah?

Memang kalau dipikir-pikir, sejak tinggal sendirian di apartemen ini, Sena tidak terbiasa membalas sapaan selamat pagi dari siapa pun. Dulu Laksmi mungkin melakukannya hampir setiap pagi, tapi tidak ada lagi yang menyapanya begitu sejak ia tinggal sendiri. Kalaupun kadang ia bertukar pesan dengan Retha di pagi hari, ia tidak mendengar langsung suara perempuan itu di telinganya seperti yang barusan ini. Sapaan Rin awalnya juga membuat Sena merasa canggung. Bukannya tidak suka atau apa, rasanya aneh saja mendapati ada orang lain tinggal di apartemennya setelah sekian lama tinggal sendiri. Namun setelah selama dua minggu mendengarnya setiap hari, sapaan ‘selamat pagi’ dari Rin lambat laun mulai terasa seperti bagian dari rutinitas paginya. Sama seperti mengantar anak itu ke sekolah sebelum berangkat ke kantor setiap pagi. Ada yang bertambah dalam caranya mengawali hari, dan anehnya Sena mulai terbiasa.

“Oh ya, tadi Rin masak orak arik telur,” anak itu bangkit dari duduknya, “Om mau sarapan? Rin ambilin.”

“Nggak usah.”

Seketika, senyum Rin memudar. Sadar ia baru saja kedengaran seperti membentak keponakannya itu, Sena segera menambahkan, “Maksud saya, nggak usah diambilin. Saya bisa ambil sendiri.”

“Oh, oke, Om,” Rin tertawa kecil, lalu kembali duduk. Sena pun meminum airnya sebelum mengambil sepiring nasi serta orak arik telur buatan Rin di dapur, lalu duduk juga di meja makan, berseberangan dengan anak itu.

“Kamu nggak makan?” Sena bertanya melihat Rin masih asyik membaca.

“Oh, tadi udah duluan, Om,” Rin melempar senyum, lalu kembali berkonsentrasi dengan bacaannya. Ini memang sudah lewat jam sepuluh pagi, sudah terlalu siang untuk sarapan. Sena pun mulai makan dalam diam sembari memperhatikan Rin yang tenggelam dalam cerita yang dibacanya. Sena jadi ingat, Arunika juga suka membaca dulu. Sena pun awalnya ikut-ikutan Arunika membaca sebelum akhirnya menjadi kutu buku betulan. Yang paling ia ingat, Arunika bahkan pernah mogok bicara dengannya hampir seminggu setelah Sena—waktu itu baru masuk kelas 1 SD—lancang meminjam salah satu novel Arunika lalu tanpa sengaja menumpahkan air minum ke atasnya. Lima Sekawan: Di Pulau Harta—Sena bahkan masih ingat judulnya. Ia baru benar-benar paham betapa begonya tindakannya waktu itu setelah mulai membeli buku dengan tabungannya sendiri.

Kira-kira setelah menjadi ibu, apa kakak perempuannya itu masih punya waktu untuk membaca? Apa Rin juga suka membaca karena melihat ibunya juga begitu?

“Oh ya, Om,”—suara Rin menyeret Sena keluar dari lamunan—“Rin baru ingat telurnya habis. Itu tadi yang terakhir.”

Butuh beberapa detik sebelum Sena berhasil mencerna ucapan Rin. Padahal tadi ia juga membuka kulkas, tapi tidak menyadarinya sama sekali.

“Apa lagi yang habis?” Sena lalu bertanya.

“Mmm, semuanya, sih,” Rin meringis, “Tapi kalau Om repot—”

“Kita belanja aja kalau gitu, habis saya selesai makan.”

Tampak Rin mengerjap di seberang meja.

Lihat selengkapnya