Jika diminta memilih tiga kata yang paling ingin ia dengar sekarang, Sena akan tanpa ragu memilih kalimat ini: tidak ada revisi.
Atau mungkin lebih tepatnya, empat kata.
Tidak ada revisi lagi.
Dan hari ini, setelah berbulan-bulan berkutat dengan proyek robot pintar yang daftar revisinya seolah tak ada habisnya, pihak restoran yang menjadi klien Sena dan timnya akhirnya melontarkan kalimat sakti tersebut. Tidak ada revisi lagi, dan itu berarti proyek robot pintar rancangan tim Sena dapat bergerak ke tahap selanjutnya: tahap produksi. Memang masih panjang jalan yang harus dilalui sebelum Sena bisa melihat robot pintar yang dikembangkan timnya itu bergerak melayani pelanggan betulan, tapi setidaknya, satu langkah ini saja sudah kemajuan besar. Paling tidak malam ini, seharusnya Sena bisa tidur dengan nyenyak, tidak lagi kurang dari lima jam.
“Buat Prototama, cheers!”
Pak Lius mengangkat gelas jusnya tinggi-tinggi, diikuti Sena dan semua rekan setimnya. Semua orang mengucapkan ‘cheers’ bersamaan, lalu bunyi denting gelas yang saling beradu memenuhi udara.
Setelah seharian mendemonstrasikan robot pintar rancangan mereka—Prototama—di depan klien, Sena dan timnya memutuskan mengadakan perayaan kecil-kecilan sebelum kembali ke kantor setelah mendapat lampu hijau yang selama ini ditunggu-tunggu. Kebetulan sudah lewat jam enam saat mereka selesai presentasi, jadi sekalian saja makan malam bersama. Pilihan mereka jatuh pada restoran cepat saji yang kebetulan mereka lewati di jalan, gara-gara salah satu rekan setim Sena sudah ngebet butuh ke toilet. Mereka pun pada akhirnya memesan empat loyang piza ukuran besar dengan empat ragam topping yang berbeda, selain beberapa hidangan tambahan. Sena mengambil juga semangkuk salad untuk dirinya sendiri, mengabaikan Ridwan yang sempat berkomentar, “Awas masuk IGD lagi, makan daun-daun doang. Entar kita semua yang repot.”
Yah, begitulah Ridwan.
Sepanjang makan bersama, obrolan mereka tidak jauh-jauh dari presentasi yang baru saja mereka lalui. Sena lebih banyak menumpang tertawa dan hanya sesekali menimpali, hingga ponselnya berdering di dalam saku di tengah percakapan. Nama yang terpampang di layar membuat Sena buru-buru meminta izin untuk menerima panggilan telepon itu.
“Dari Bu Dokter, ya, bro?” Maulana, salah satu rekan setim Sena yang seumuran, menerka dengan antusias. Ia dulu yang paling tidak terima saat tahu Sena sudah punya Retha, karena hal itu membuatnya menjadi satu-satunya jomlo dalam tim Sena. Bahkan Keira yang paling baru bergabung saja sudah punya pacar.
“Kepo, dah,” Sena menyahut, membiarkan Maulana dan beberapa rekan setimnya bersuit-suit heboh sewaktu ia berjalan menjauhi meja. Kalau mereka tahu bukan Retha yang menelepon melainkan sepupunya, bisa-bisa kehebohan mereka merobohkan satu restoran.
“Malam, Pak,” Sena menjawab segera setelah ia keluar ke area parkir di halaman depan restoran. Tempat itu memang sedang ramai-ramainya, jadi lebih baik keluar sekalian demi kelancaran percakapan.
“Malam, Arka,” suara Jacob membalas di ujung sana, “Saya nggak ganggu, kan?”
Sena tahu Jacob tidak bertanya, tapi mengonfirmasi. Jadi tentu saja ia menjawab, “Nggak, Pak. Ada apa, ya?”
“Akhirnya saya dapat tanggal!” Jacob terdengar riang, “Agak mepet, sih, besok lusa, tapi Sabtu kamu available, kan?”
Untung saja timing-nya tepat. Prototama sudah bisa ditinggal, setidaknya sampai besok lusa, jadi Sena pun mengiakan tanpa ragu.
“Great! Kita langsung ketemu aja di rumah sakit. 9 a.m. sharp mulai. Bilang aja ke information desk kamu ada rapat dengan saya, nanti kamu diantar ke ruangannya. I’ll do the talk, you yang bagian explain how your magic cube works. Siap, kan?”
“Siap, Pak,” sahut Sena cepat. Bukan bermaksud sesumbar, tapi untuk proyek pribadinya dengan Jacob ini, ia memang sudah siap diminta presentasi kapan saja.
“Great! I know I can count on you,” Jacob terdengar senang, “Asisten saya sudah email kamu draft handout-nya, bisa kamu cek lagi. Juga siapa aja yang akan denger presentasi kita nanti. Nggak banyak, kok, dan nggak penting juga, tapi biar kamu tahu aja. Kalau kamu ada pertanyaan, hubungi saya langsung. Nggak usah lewat asisten saya.”
“Baik, Pak,” Sena menyahut.
“Okay then,” ada senyum dalam suara Jacob, “See you on Saturday.”
Dan begitu saja, Jacob memutus panggilan teleponnya. Sena sendiri tidak langsung bergabung kembali dengan rekan-rekan setimnya di dalam. Ia mengecek surel yang kata Jacob sudah dikirimkan padanya, tapi baru setengah jalan, seseorang menepuk bahunya dari belakang.
“Belakangan ini kita ketemu terus, deh,” Andika melempar senyum sewaktu Sena menoleh. Ya, lagi-lagi Sena kebetulan bertemu abang angkatnya itu. Proyek-proyeknya belakangan ini sepertinya membuatnya mengunjungi tempat-tempat yang buatnya baru tapi tidak dalam kamus Andika.
“Sendirian aja?” Andika bertanya.
“Sama orang kantor,” Sena menunjuk ke dalam, ke arah meja berisi rekan-rekan sekantornya yang kelihatan dari tempat mereka berdiri.
“Oh, kirain nge-date sama Retha,” Andika tertawa kecil, “Sering keluar sama orang kantor, ya, belakangan ini. Ngerayain something?”
Mungkin dari cara rekan-rekan sekantor Sena tertawa dan berbincang dengan wajah berseri, kelihatan sekali mereka sedang bagus suasana hatinya.
“Sort of,” sahut Sena singkat, “Abang juga?”
“Oh, nggak, sih, aku lagi sama temen,” Andika menunjuk ke dalam juga, ke salah satu meja dekat pintu masuk. Seorang perempuan berpenampilan modis tampak sedang bermain ponsel di sana, lalu mendongak dan melempar senyum ke arah Sena sewaktu melihat Andika menunjuknya. Sena hanya mengangguk, tidak ingat pernah melihat perempuan itu sebelum ini. Lingkaran pertemanannya yang sempit memang nyaris tidak pernah bersinggungan dengan lingkaran pertemanan raksasa seorang Andika Kartabuana, jadi tidak heran Sena tidak mengenal orang-orang yang disebut Andika sebagai teman. Apalagi jenis teman yang seperti ini.
“Oh, ya, Mama udah telepon?” Andika bertanya lagi.
Kali ini, Sena menggeleng. “Kenapa emangnya?”
“Biasalah, ultahnya Papa sama hari jadinya perusahaan, blah, blah, blah,” Andika menyahut malas, “Mama bilang—”