Sena ingat betul ia termangu-mangu sewaktu pertama kali menginjakkan kakinya di kediaman keluarga Kartabuana setelah resmi diadopsi. Waktu itu Sena baru sepuluh tahun, dan walaupun ia sudah pernah melihat rumah-rumah mewah berukuran besar di film yang ia tonton atau buku bergambar yang ia baca, ia tidak pernah membayangkan akan melihat rumah mewah betulan berdiri megah di depan matanya. Apalagi ia tidak datang hanya untuk berkunjung, tapi untuk tinggal di sana.
Sena tahu keluarga angkatnya itu kaya. Ia hanya tidak menyangka mereka sekaya itu.
Kediaman pribadi keluarga Kartabuana berlantai dua, dengan luasan yang mungkin lebih besar ketimbang panti asuhan tempat Sena tinggal sebelumnya. Pagar hitamnya tinggi menjulang dengan pola dekoratif rumit yang dipesan khusus, memagari taman luas yang dipenuhi tanaman tropis aneka ragam, lengkap dengan gazebo serta kolam kecil yang dihuni ikan-ikan koi gemuk. Garasinya muat diisi tiga mobil sekaligus dan masih menyisakan ruang yang cukup luas untuk beberapa sepeda gunung koleksi Darmoko.
Ruangan lainnya jangan ditanya. Meja makan di rumah itu cukup digunakan selusin orang bersantap bersama, dan dapurnya penuh peralatan masak terbaru seperti dapur-dapur restoran mahal. Ada ruang khusus untuk akuarium ikan laut serta berbagai bonsai milik Darmoko, juga ruang khusus lainnya untuk menyimpan koleksi Lego milik Andika serta aneka piring porselen yang dikoleksi Laksmi dari berbagai negara. Satu ruangan lain didedikasikan untuk perpustakaan pribadi yang hampir 70% bukunya berbahasa asing dan semuanya bisa Sena baca kapan saja ia mau.
Ruang keluarganya luas setengah mati, dengan lampu kristal yang Sena pikir hanya ada di lobi hotel berbintang terjuntai manis dari plafonnya yang tinggi. Oh, dan plafonnya dilukis, omong-omong, seperti bangunan-bangunan bergaya arsitektur baroque. Sebuah grand piano hitam mengkilap berdiri di sudut ruangan, dengan beberapa bingkai foto keluarga terpajang di bagian atas tutupnya yang diselimuti taplak beludru biru tua. Dulu Andika yang memainkannya, tapi tidak pernah lagi semenjak ia berhenti les piano waktu kelas 2 SD setelah beberapa kali gagal ujian. Sebuah lemari kaca berdiri tidak jauh dari instrumen megah itu, memamerkan berbagai piagam serta penghargaan yang diterima Darmoko sepanjang kariernya. Lemari yang dalam beberapa tahun berikutnya kedatangan banyak penghuni baru yang didapat Sena dari berbagai lomba yang ia menangkan semasa sekolah.
Namun dari semuanya itu, yang paling mencengangkan bagi Sena adalah fakta bahwa ia diberi kamar sendiri.
Seumur hidup, setidaknya sampai usianya sepuluh tahun, Sena tidak pernah punya kamar sendiri. Ia selalu berbagi kamar dengan Arunika sepanjang ingatannya, hingga saat Arunika masuk SMP, orang tuanya memutuskan mengganti konfigurasi tidur mereka setiap malam: Sena tidur bersama ayahnya, sementara Arunika sekamar dengan ibunya. Saat tinggal di panti asuhan pun, Sena harus berbagi kamar dengan tiga anak laki-laki lainnya. Baru kali itu Sena punya satu kamar yang bisa ia sebut kamarnya sendiri, yang luasnya mungkin dua kali luas kamarnya di panti tapi tidak perlu ia bagi dengan siapa pun.
Tidak berhenti sampai di situ, Darmoko juga menepati janjinya soal operasi lutut Sena. Sena menghabiskan minggu pertamanya sebagai anak angkat Darmoko di rumah sakit, sebelum pulang ke rumah megah itu dengan dua kaki yang sudah bisa dipakai berlari keliling lapangan tanpa pincang sama sekali. Darmoko juga memindahkan Sena ke sekolah yang sama dengan Andika, sekolah unggulan yang menerapkan kurikulum internasional dengan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Sena berangkat ke sekolah diantar mobil yang sama dengan Andika setiap pagi, membawa bekal buatan juru masak keluarga seperti yang dibawa Andika ke sekolah, bahkan belajar di bawah bimbingan tutor privat yang sama yang sudah mengajar Andika sejak Andika baru masuk SD.
Laksmi juga bersikap amat hangat pada Sena. Wanita itu menyambut Sena dengan pelukan erat pada hari pertama kedatangan Sena ke kediamannya, seolah Sena bukanlah anak yang baru saja ia adopsi melainkan anaknya sendiri yang sudah lama hilang. Laksmi juga tidak pernah absen bertanya apakah Sena merasa nyaman setiap hari, atau apakah Sena masih membutuhkan sesuatu terlepas dari segala hal yang telah tersedia. Rasanya, Sena bahkan lebih sering mendengar Laksmi menanyainya begitu daripada menanyai Andika yang notabene putranya sendiri. Andika sendiri, walaupun tidak seramah dan seterbuka kedua orang tuanya, tidak pernah bersikap kejam pada Sena seperti saudara angkat yang jahat dalam cerita-cerita fiksi. Ia mungkin butuh waktu lebih lama untuk mencerna kenyataan ia mendadak punya seorang adik, tapi sikapnya yang berjarak tidak pernah membuat Sena merasa dibenci ataupun dimusuhi.
Sena tahu ia seharusnya bersyukur diperlakukan sebaik itu oleh orang-orang yang bahkan tidak bertalian darah dengannya, tapi tetap saja, ia merasa… gegar. Kewalahan. Rasanya lebih mudah beradaptasi dengan soal-soal berbahasa Inggris yang didapatnya di sekolah ketimbang menghadapi curahan materi serta perhatian berlimpah dari keluarga barunya. Laksmi tidak pernah mengomel apalagi marah, dan Darmoko malah selalu memujinya tiap kali ada kesempatan. Ditambah sederet asisten rumah tangga yang siap membantunya setiap saat, lingkungan barunya ini terasa… berlebihan.