Sena tidak tidur sama sekali semalam.
Tidak bisa, setelah ia membaca habis salah satu buku harian Arunika yang dipinjamkan Rin padanya. Yang paling menguning kertasnya, yang tertanggal enam tahun yang lalu, saat Rin baru masuk SD. Yang paling lama di antara semuanya. Arunika tidak menulis setiap hari, tapi sedikit banyak Sena seperti bisa mengintip secuil kehidupan kakak perempuannya itu. Dan rasanya tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Arunika yang ia baca terasa familier sekaligus asing. Seperti seseorang yang ia tahu, tapi juga tidak ia kenali di saat yang sama. Rasanya seperti melihat bagaimana jadinya kehidupan seorang Arunika di sebuah dunia paralel yang jauh seperti cerita-cerita fiksi dalam buku yang pernah Sena baca, karena selama ini Sena tidak pernah benar-benar membayangkan kehidupan macam apa yang dijalani kakak perempuannya itu.
Namun bahkan dalam sepotong babak kehidupan Arunika yang terasa asing itu, Sena menemukan namanya tertulis di sana.
Satu kali sewaktu Arunika menulis tentang hari-hari pertama Rin di SD, saat kakak perempuannya itu mengingat bagaimana Sena menumpahkan air minum pada salah satu novel kesayangannya. Satu kali lagi saat Arunika menulis tentang pengalaman Rin belajar naik sepeda, juga satu kali lagi dalam tulisannya tentang satu hari yang buruk di tempat kerjanya. Yang terakhir itu, Arunika menulis begini: Kalau Sena sekarang kerja di mana, ya? Anak itu mah pintar semuanya. Jadi apa aja pasti bisa.
Hanya sebaris, tapi cukup untuk memberitahu Sena bahwa sebagaimana ia tidak pernah benar-benar melupakan Arunika, terlepas dari semua prasangka buruk yang Sena pikirkan tentangnya dalam tahun-tahun mereka tak pernah bertemu, Arunika pun tidak pernah benar-benar melupakan Sena. Kakak perempuannya itu bahkan tidak pernah berhenti mempercayainya.
Jadi di sinilah Sena berada sekarang. Di lobi utama kantor pusat Darmamedia, stasiun televisi sekaligus raksasa media milik Darmoko. Tidak seperti Neofuturindo Corp yang hanya menyewa satu dari lima belas lantai gedung perkantoran yang ditempati bersama beberapa perusahaan lainnya, gedung sepuluh lantai yang dimasuki Sena ini seluruhnya milik Darmoko. Sena tidak ingat kapan terakhir kali ia menginjakkan kakinya di sana, saking jarangnya ia bertandang ke kantor Darmoko itu. Namun hari ini, daripada menemui Darmoko di rumahnya sebelum ayah angkatnya itu berangkat kerja, Sena lebih memilih mencari Darmoko di kantornya demi menghindari Laksmi. Bukannya apa, Sena hanya belum siap andai, seperti Darmoko dan Andika, Laksmi ternyata berbohong juga padanya. Sekalipun kebaikan wanita itu kerap kali terasa berlebihan buat Sena, Laksmi adalah ibu angkat terbaik yang bisa Sena dapatkan.
“Selamat pagi, Mas, ada yang bisa saya bantu?” seorang gadis berambut panjang dengan senyum ramah nan terlatih menyapa Sena sewaktu ia menghampiri meja resepsionis. Dilihat dari penampilannya, sepertinya gadis itu baru awal dua puluhan usianya.
“Saya mau ketemu Pak Darmoko,” sahut Sena tanpa basa-basi, “Beliau di ruangannya?”
“Maaf, masnya apa sudah ada janjian dengan Bapak Darmoko sebelumnya?”
Sena terdiam. Duh.
“Belum. Tapi ini urgen.”
“Wah, maaf sekali, Mas, tapi kalau mau bertemu Bapak Darmoko harus—”
“Saya anaknya. Bisa tolong kasih tahu saya mau ketemu? Sebentar aja.”
Gadis resepsionis itu seketika melongo, kehilangan kata-kata. Sena sebenarnya tidak berniat menimbulkan drama. Memanfaatkan koneksinya dengan Darmoko adalah hal yang biasanya paling Sena hindari, tapi dalam keadaan tertentu, kadang ia terpaksa melakukannya juga. Seperti kali ini.
“M-maaf, gimana maksudnya, Mas?” si resepsionis tergagap, kentara sekali bingungnya.
“Bilang aja Arkasena mau ketemu,” Sena berdeham, “Sebentar aja. Tolong.”
Si resepsionis tampak masih ragu, tapi sebelum ia sempat menyahuti Sena, suara seorang wanita terdengar, “Sena?”
Sena menoleh, dan seorang wanita seusia Laksmi—pertengahan lima puluhan—berjalan menghampirinya. Wanita itu mengenakan setelan kerja kelabu, sederhana saja tapi berwibawa, dan sekalipun pertemuannya dengan wanita itu bisa dihitung dengan jari jumlahnya, Sena tidak mungkin tidak mengenali sosoknya. Widya, asisten pribadi Darmoko.
“Mau ketemu Bapak?” Widya bertanya.
Sena, tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, langsung mengangguk. Dan benar saja, Widya cukup berkata, “Biar saya yang antar”, dan si resepsionis tidak melontarkan sepatah kata pun untuk membantah. Sena pun mengangguk sopan pada gadis itu sebelum mengekori Widya menuju elevator terdekat. Sudah ada cukup banyak orang di dalam sana sewaktu pintunya membuka. Semuanya mengangguk segan sewaktu melihat Widya, dan sekalipun beberapa orang kelihatan jelas melempar lirikan penasaran ke arah Sena yang berdiri di samping Widya, tidak ada satu pun yang bertanya.
“Tumben ke sini. Kenapa nggak telepon dulu?”
Widya baru bersuara saat hanya tinggal berdua saja dengan Sena di dalam elevator. Mereka sudah mencapai lantai delapan sekarang, kurang dua lantai lagi.
“Maaf, Bu, mendadak soalnya,” Sena sedikit merasa bersalah, “Saya ganggu jadwalnya Bapak, ya?”
“Rapatnya masih jam sepuluh, kok,” Widya tersenyum, “Lagi pula kalau nggak ada yang penting, kamu juga nggak akan ujug-ujug ke sini, kan?”