Re:LUARGA

Fanny F. Cussoy
Chapter #16

Andika

Andika tidak pernah merasa ada yang kurang dalam hidupnya. Semua yang ia butuhkan selalu ada, tersedia dalam jangkauan tangannya kapan saja ia memerlukannya. Ayahnya pengusaha sukses, salah satu yang terkaya di tanah air. Ibunya perhatian, walaupun memasak telur dadar saja tak bisa. Bagi Andika, diantar naik mobil ke mana-mana adalah kewajaran, sama seperti memegang gawai keluaran terbaru atau memainkan game yang bahkan belum dirilis di Indonesia. Jalan-jalan ke luar negeri adalah hal biasa buatnya, sampai-sampai destinasi seperti Tokyo, Sydney, atau Paris kadang terasa membosankan.

Teman? Andika punya banyak. Ia bahkan tidak perlu menjadi yang paling pintar di kelas, atau yang paling ganteng satu angkatan, atau yang paling aktif di OSIS untuk mendapat teman. Cukup menjadi seorang Kartabuana, semua orang sudah berebut menjadi teman sebangkunya di kelas atau teman makan siangnya di kampus, walaupun tidak ada yang benar-benar bisa ia sebut sebagai sahabat. Pacar? Banyak yang mengantre. Andika bisa saja jalan dengan gadis yang berbeda setiap minggu dan tetap didekati banyak perempuan keesokan harinya. Ia tumbuh dengan anggapan segala sesuatu yang rusak atau tidak ia sukai bisa ditukar dengan yang baru dan segala miliknya yang habis bisa dibeli, hingga hidup mengajarkannya ada kehilangan yang tidak bisa diganti.

Laksmi keguguran saat Andika kelas delapan, dan rahimnya harus turut diangkat untuk menyelamatkan nyawanya. Begitu saja Andika kehilangan tiga hal sekaligus: adik laki-lakinya, kesempatan untuk memiliki adik lagi di masa depan, serta ibunya yang berubah karena depresi. Setiap hari terasa mengerikan untuk dijalani, hingga ajakan—atau lebih tepatnya, perintah—Darmoko untuk menghadiri acara makan malam bersama di sebuah panti asuhan mempertemukannya dengan Arunika Satya.

Sejatinya, tidak ada yang spesial dari pertemuan pertama mereka. Gerah dengan makan malam yang dipenuhi orang-orang dewasa serta obrolan yang tak satu pun ia mengerti, Andika kabur ke toilet di tengah acara dan, sialnya, tersesat saat hendak kembali. Konyol memang, mengingat tempat ia tinggal bahkan lebih besar daripada panti asuhan itu dan ia tak pernah tersesat di rumahnya sendiri. Untungnya, Arunika yang kebetulan melihatnya celingukan di koridor berbaik hati mengantarnya kembali ke ruang makan. Andika tidak mengira gadis itu lebih tua dua tahun darinya karena perawakannya yang kecil, dan sekalipun tidak ada yang istimewa dari obrolan mereka dalam perjalanan singkat ke ruang makan, entah kenapa Andika tidak bisa melupakan senyum gadis itu.

Mungkin karena, tidak seperti semua orang yang berinteraksi dengannya selama ini, ada ketulusan yang nyata dalam diri Arunika. Gadis itu menolongnya bukan karena ia tahu siapa Andika, tapi karena murni ingin menolongnya. Untuk pertama kalinya, Andika merasa dirinya dilihat hanya sebagai Andika, bukan Andika Kartabuana. Dan anehnya, ia menyukai hal itu.

Makanya, sekalipun ia sejatinya sama sekali tidak menginginkan adik pengganti, ia setuju saja ayah ibunya mengadopsi Sena karena tahu Arunika rupanya kakak perempuan Sena. Ia tidak pernah melewatkan kesempatan mengobrol dengan Arunika tiap kali Darmoko maupun Laksmi mengajaknya mengunjungi Sena di panti asuhan, dan ia sungguh berharap ia akan lebih sering bertemu gadis itu saat Sena resmi berstatus adik angkatnya nanti. Ia tak pernah menyangka hari yang ia tunggu-tunggu itu justru menjadi titik balik yang malah membuatnya kehilangan kesempatan bertemu Arunika sama sekali.

Atau setidaknya hingga belasan tahun kemudian, saat Arunika sudah menjadi seorang ibu.


***


“Apa urusannya sama Abang?”

Dua puluh tahun mengenal Sena, Andika tidak pernah mendengar adik angkatnya itu bicara dengan nada sejahat itu padanya. Egonya tersinggung, tapi setelah apa yang ia dengar di ruangan Darmoko tadi, sudah bagus Sena masih mau menyahutinya. Jadi Andika pun menelan emosinya dan menata ulang suaranya sewaktu ia menggumam, “We need to talk.

Dan Sena tidak menolak sewaktu Andika menyeretnya ke kantin karyawan di lantai tujuh. Nyaris tidak ada orang di sana karena ini bahkan belum jam sembilan pagi, dan Andika pun memilih salah satu meja di dekat jendela untuk mereka berdua. Ia duduk di seberang Sena, membiarkan hening mengambil alih selama beberapa saat hingga ia menemukan suaranya kembali.

“Kamu bilang Arunika udah nggak ada,” Andika menelan ludah, “Itu bener?”

Sena menatapnya dengan cara yang sulit dijelaskan dan terdiam cukup lama sebelum balas bertanya, “Abang denger semuanya tadi?”

Andika mendengkus. Ia meremas jemarinya sendiri di bawah meja, mengangguk.

“Jadi Abang udah tahu juga?”

Kali ini, Andika menggeleng.

Lihat selengkapnya