Re:LUARGA

Fanny F. Cussoy
Chapter #17

Re:LUARGA

Sejatinya, Sena menciptakan Re:LUARGA untuk dirinya sendiri.

Karena ia ingin bertemu Arunika, tapi ia tak tahu bagaimana caranya. Tak tahu harus mulai dari mana. Atau mungkin, lebih tepatnya, karena ia terlalu takut. Takut untuk mencari. Takut kalau-kalau saat ia menemukan Arunika nanti, kakak perempuannya itu justru menolaknya. Sena takut segala prasangka buruknya tentang Arunika ternyata benar, jadi ia tidak pernah benar-benar berusaha membuktikannya.

Sebagai gantinya, ia membuatnya.

Arunika yang tidak akan menolaknya. Arunika yang hanya akan mengatakan hal-hal yang ingin ia dengar. Sekalipun Arunika-nya itu tak pernah benar-benar bicara, karena Sena tak tahu bagaimana mereka ulang suara kakak perempuannya. Tidak ada rekaman untuk dijadikan referensi, dan memori Sena tentang suara kakaknya terlampau usang untuk digunakan sebagai bahan dasar. Arunika-nya belum selesai, tapi sosok hologram yang tersenyum kaku itu setidaknya bisa dijadikan pengobat rindu. Atau setidaknya, Sena berharap begitu.

Sungguh, sebagian diri Sena berpikir ia sudah gila saat membuat Re:LUARGA dulu. Hingga obrolannya dengan Jacob Adiwangsa pada pemakaman nenek Jacob—yang juga nenek Retha—dua tahun yang lalu membuat Sena melihat proyek personalnya itu dengan kacamata yang berbeda.

Mungkin, Sena tidak sesinting itu.


***


“Arka?”

Sena tersentak. Sewaktu ia mendongak, Jacob sudah duduk di sebelahnya sembari menyodorkan gelas kertas berisi kopi yang masih mengepul. Pria itu membawa segelas lagi untuk dirinya sendiri.

You alright?” Jacob mengernyit, “Wajah kamu kayak zombie.”

Sena mengerjap. Sepertinya kombinasi tidak tidur dua hari dan pikiran yang kusut setengah mati membuatnya tampak seperti mayat berjalan.

I’m good,” sahut Sena, mengambil gelas kertas yang disodorkan Jacob padanya, “Makasih.”

Jacob hanya tersenyum, lalu menyeruput kopinya sendiri.

Panas dari gelas kertas yang menjalari jemari Sena membuat otaknya yang sempat macet mulai berfungsi kembali sekalipun tidak optimal. Ia pun sadar sedang berada di mana sekarang: salah satu ruang rapat Adiwangsa General Hospital, tempat ia dan Jacob akan mempresentasikan Re:LUARGA di hadapan Tirtayasa Adiwangsa, kakek Jacob sekaligus pemilik rumah sakit itu, serta empat dokter lainnya dari divisi psikiatri geriatri dan neurologi.

Something bad happened?” Jacob menerka, tumben sekali ingin tahu.

Sena tidak langsung menjawab. Sekadar ‘buruk’ sepertinya masih terlalu bagus untuk menggambarkan apa yang ia rasakan sekarang setelah percakapannya dengan Darmoko dan Andika kemarin, tapi bukan itu yang ingin didengar Jacob sekarang. Tidak saat presentasi mereka akan dimulai kurang dari setengah jam lagi.

Jadi Sena berdusta, “Nggak. Saya nggak apa-apa.”

Good,” Jacob tersenyum simpul, tepat saat pintu ruang rapat terbuka dan seorang pria dengan rambut yang seluruhnya sudah memutih berjalan memasuki ruangan. Bahkan otak Sena yang penat pun mengenali sosok itu nyaris otomatis: Tirtayasa Adiwangsa. Pemilik rumah sakit ini sekaligus kakek Jacob, yang tak lain adalah kakek Retha juga.

Hari ini, Tirtayasa mengenakan jas dokter putihnya sekalipun secara status, ia sudah resmi pensiun dari jabatannya sebagai kepala rumah sakit yang kini dipegang putra keduanya alias ayah Retha. Dan sekalipun usianya sudah menyentuh pertengahan 80-an, sosok Tirtayasa masih tegap dan aura tegasnya masih kuat terpancar.

Sena otomatis berdiri, menyingkirkan gelas kopinya yang belum tersentuh ke meja terdekat saat melihat Tirtayasa berjalan ke arahnya. Sena sejatinya sudah dua kali bertemu Tirtayasa sebelum ini—yang pertama di pemakaman istri pria itu, dan yang kedua saat Retha mengajaknya datang ke pesta ulang tahun Tirtayasa yang ke-85 beberapa bulan lalu—tapi cara pria itu menatapnya dengan penuh penilaian masih membuat Sena merasa gugup.

“Selamat pagi,” Sena menyapa dengan tangan terulur, yang disambut dengan mantap oleh Tirtayasa. Untuk ukuran seorang kakek yang usianya sudah menginjak kepala delapan, genggaman tangan pria itu tergolong kuat.

Lihat selengkapnya