Sena tidak hafal seperti apa layout Adiwangsa General Hospital, tapi Sena hafal kebiasaan Retha tiap kali ada sesuatu yang mengganggu pikiran perempuan itu sewaktu berada di sana. Saat ia bersitegang dengan rekan sejawatnya. Saat keinginannya untuk menolong disalahartikan oleh keluarga pasien. Saat operasinya tidak berjalan lancar dan ia tidak berhasil menyelamatkan nyawa yang dipercayakan padanya di meja operasi. Sena hafal bagaimana di saat-saat paling buruk itu, Retha akan menyepi, dan pilihannya selalu jatuh pada area rooftop rumah sakit yang sebagian sudah disulap menjadi taman.
Saat ini pun, rooftop adalah satu-satunya lokasi yang terlintas di kepala Sena sewaktu ia berlari keluar dari ruang rapat. Ia ingat melihat keterangan menuju rooftop di dalam bilik elevator yang tadi dinaikinya ke lantai ini—ruang rapat tempatnya presentasi terletak di lantai lima—dan intuisi pun mendorongnya kembali ke elevator. Benar saja, saat Sena berbelok ke koridor yang berujung pada elevator yang tadi ia naiki, ia melihat sosok yang dicarinya di dalam sana.
“Retha!” Sena memanggil, berlari secepat yang ia bisa menuju elevator, tapi terlambat. Pintunya menutup hanya beberapa saat sebelum Sena mencapainya, dan bilik besi itu sudah keburu bergerak naik. Percuma saja memencet tombolnya, jadi Sena memilih jalan lain: naik tangga, sekalipun ia harus mendaki tiga lantai jauhnya. Rasanya sudah lama sekali Sena tidak memacu fisiknya bekerja sekeras ini, tapi masa bodoh. Ia sudah melewatkan kesempatan bertemu dengan Arunika karena terlalu takut pada prasangkanya sendiri, karena ia tidak berusaha lebih saat Darmoko bilang mereka tidak bisa bertemu. Dengan Retha, ia tidak ingin mengulangi hal yang sama.
Sampai di rooftop, Sena bersyukur tempat itu sedang sepi. Hanya ada dua orang di sana, salah satunya berkursi roda dan satunya lagi berpakaian perawat, tapi dua orang itu berbincang jauh-jauh dari tempat Sena berdiri. Sena menghabiskan beberapa detik memindai sekeliling, hingga tatapannya menemukan sosok Retha yang berjalan gontai ke arah tepian rooftop yang dibatasi pagar tinggi. Segera saja Sena memacu dirinya berlari lagi.
“Tha,” Sena meraih tangan Retha begitu ia berhasil menyusulnya, tapi perempuan itu menepis tangannya. Saat Retha berbalik menatapnya, jantung Sena mencelus lagi melihat kedua mata perempuan itu sudah memerah dan basah, sekalipun belum ada yang menetes jatuh dari sana.
“Tha—”
“Mikir apa, sih, kamu, Na? Waktu kamu bikin kayak gitu, mikir apa kamu?”
Sena tidak pernah mendengar Retha bicara dengan nada seperti itu padanya. Retha tidak membentaknya, tapi ada yang menyakitkan dari cara bicaranya. Dari nada bicaranya yang penuh tuduhan dan… kekecewaan.
“Eyang Sitha itu orang beneran, Sena,” Retha menyambung, suaranya gemetar, “Bukan tokoh fiksi di cerita novel yang terus kamu bikin visualisasinya! Dan Eyang Sitha sekarang udah nggak ada! Kamu nggak merasa ada yang salah dengan yang kamu lakuin itu?”
Sena terdiam, tidak menjawab. Cukup lama, hingga ia malah bertanya.
“…Kamu nggak seneng lihat Eyang kamu lagi?”
Retha menatap Sena tak percaya, seolah Sena baru saja mengatakan hal paling tidak masuk akal di dunia. Air mata Retha jatuh mendengarnya, dan Sena merasakan sakit yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya sewaktu melihatnya.
“Itu bukan Eyang, Sena,” Retha mengusap air matanya sendiri, memberi tekanan yang menyakitkan di setiap kata, “Aku nggak tahu Jacob bilang apa sama kamu, tapi itu bukan Eyang Sitha. Memang kamu mau, kalau kamu udah nggak ada, aku tiap hari ngobrol sama hologram yang dibuat mirip kamu kayak gitu? Aku yang nggak mau, Na.”
Dan hening. Hingga suara Retha terdengar lagi.
“Siapa lagi yang kamu bikin?”
Retha menatap Sena lurus-lurus sewaktu mengatakannya, dan karena Sena diam saja, Retha menambahkan, “Kakak perempuan kamu?”
Bahkan tanpa Sena perlu menjawab, dari cara Retha kemudian menatapnya, Sena tahu perempuan itu sudah tahu jawabannya. Jawaban yang membuat Retha membuang pandang karena air matanya meleleh lagi.