Rin memimpikan Arunika semalam.
Mereka berdua duduk di atas kain merah jambu yang dibeber di atas rerumputan, di bawah pohon besar yang menaungi mereka dari teriknya matahari siang, entah di taman mana. Arunika membeber banyak sekali makanan di antara mereka, mulai soto hingga puding, sementara Rin menyiapkan piring serta alat makan lain. Rin ingat ia menyiapkan tiga piring, tapi entah kenapa dirinya di dalam mimpi itu bertanya pada Arunika, “Ma, kok, piringnya tiga?”
Arunika tertawa kecil mendengar pertanyaan Rin, dan sembari masih sibuk menyajikan masakannya yang seolah tidak ada habisnya, ia menyahut, “Kan Om Sena ikut juga.”
Lalu Arunika seperti melihat seseorang datang di kejauhan, dari belakang Rin, dan melambai riang pada sosok itu dengan senyuman lebar di wajah. Namun sebelum Rin sempat menoleh untuk melihat siapa yang datang, yang hampir bisa ia pastikan adalah Sena, ia lebih dulu membuka mata. Rin terbangun dan buyarlah mimpinya.
Melihat jam beker kecil yang ia letakkan di sisi bantalnya sudah menunjuk pukul tujuh lewat, Rin pun terlonjak bangun. Untung saja hari ini Minggu, jadi ia tidak perlu mendapat poin sangsi karena datang terlambat ke sekolah. Rin pun menghabiskan beberapa saat lagi memikirkan mimpinya barusan—dan mulai ingin menangis lagi teringat senyuman lebar Arunika dalam mimpinya—sebelum beranjak keluar kamar.
Semenjak pindah tinggal ke apartemen Sena, pemandangan yang biasanya dilihat Rin sekeluarnya dari kamar di hari Minggu adalah sosok Sena yang sudah duduk manis di ruang makan sambil menggulir layar ponsel. Biasanya, Sena akan menoleh sekilas pada Rin sebelum kembali fokus pada ponselnya, lalu menggumam saat Rin menyapanya dengan ‘selamat pagi’. Yah, kecuali minggu lalu, saat Sena dengan ajaibnya membalas sapaan Rin.
Namun hari ini, Rin tidak menemukan omnya itu di ruang makan. Tidak ada suara yang terdengar dari kamar mandi, jadi Rin bisa menyimpulkan Sena juga tidak ada di dalam situ. Satu-satunya kemungkinan hanyalah kamar Sena—saat Rin menoleh ke sana, pintunya masih tertutup rapat. Sama seperti semalam.
Omong-omong soal semalam, Rin kembali digelayuti perasaan tak enak mengingat percakapannya dengan Sena. Juga proyektor yang menampilkan sosok mirip-tapi-bukan Arunika semalam, yang setahu Rin hasil karya Sena sendiri. Pertanyaan yang dilontarkan Sena semalam pun terngiang kembali dalam telinga Rin.
Kalau saya bisa bikin kamu lihat mama kamu lagi, kamu bakal seneng atau malah benci sama saya?
Jujur, Rin tidak senang melihat sosok Arunika yang ditampilkan proyektor buatan Sena kemarin malam. Ia justru… takut. Sosok itu memang mirip ibunya—mirip sekali, malah—tapi Rin tidak pernah melihat ibunya tersenyum seperti itu. Berbeda dengan Arunika yang membeber makanan di dalam mimpinya tadi, yang tertawa kecil sewaktu bilang Sena juga ikut piknik bersama mereka.
Yang muncul dalam mimpi Rin itu sungguh ibunya. Yang kemarin bukan.
Namun jelas, Rin juga tidak lantas membenci Sena hanya gara-gara proyektor itu. Ia mungkin tidak paham bagaimana Sena sampai bisa menciptakan alat itu, tapi rasanya, ia bisa sedikit banyak paham kenapa Sena melakukannya. Mungkin, seperti dirinya, Sena hanya kangen Arunika. Sesimpel itu. Hanya cara mengungkapkannya yang sedikit… ekstrem. Dan Rin, dengan begitu begonya, terang-terangan bilang apa yang dilihatnya kemarin bukan ibunya. Memang ia hanya bicara jujur, tapi rasanya jadi seperti menghina kerja keras Sena. Seperti mengatai omnya itu bodoh tepat di muka.
Apa karena itu Sena marah padanya, sehingga mengurung diri di kamar pagi ini?
Rin tidak tahu, tapi ia membulatkan tekad akan langsung meminta maaf begitu Sena keluar kamar. Ia sama sekali tidak bermaksud menyinggung perasaan Sena dan ia sungguh berharap omnya itu bakal mengerti.
Jadi, Rin menunggu. Melakukan rutinitas paginya dalam diam sembari menunggu Sena keluar kamar. Mandi, memanaskan orak-arik telur yang ia buat semalam untuk sarapan sendirian—dan mungkin untuk Sena juga nanti, kalau Sena sudah keluar kamar—lalu melanjutkan PR-nya yang masih setengah jalan. Tiap sepuluh menit ia menoleh ke arah pintu kamar Sena, tapi pintu itu tetap tertutup.
Terus, hingga pukul sepuluh. Pukul sebelas. Pukul dua belas. Pukul satu siang.
Sena tidak juga keluar kamar, bahkan untuk ke kamar mandi sekalipun. Dan pikiran-pikiran buruk pun mulai bermunculan dalam kepala Rin.
Jangan-jangan omnya itu pingsan di kamar karena belum sarapan?
Rin masih takut dimarahi, tapi ia lebih takut Sena betulan pingsan. Apalagi Retha pernah cerita Sena pernah masuk IGD gara-gara radang lambung. Jadi ia memberanikan diri mengetuk pintu kamar Sena dan memanggil, “Om. Ini udah jam satu. Om nggak makan?”
Rin menunggu. Sepuluh detik. Dua puluh detik. Setengah menit.
Tidak ada jawaban.
Rin mengetuk lagi. “Om. Om nggak apa-apa?”
Lagi, Rin menunggu. Dan, lagi-lagi, tidak ada jawaban.
Gawat. Bagaimana kalau Sena betulan pingsan di dalam kamarnya?
“Om, maaf, Rin masuk, ya,” Rin berusaha terdengar tenang, dan tanpa menunggu Sena menyahut—lagi pula kalau memang pingsan, bagaimana omnya itu bisa menyahut!—Rin pun membuka pintu kamar Sena. Segala bayangan buruk yang berkelebat dalam kepalanya seketika runtuh saat ia melongok ke dalam kamar Sena.
Kamar itu kosong.
Sena tidak ada di sana. Sena tidak ada di mana-mana.
***