“Pokoknya aku mau ikut!”
Sena kecil bersedekap, wajahnya cemberut.
“Nggak boleh, Sena, udah dibilangin, kan?” suara ayahnya lembut terdengar, tapi Sena menggeleng, masih keras kepala.
“Kenapa nggak boleh?” tantang Sena, “Kenapa Kak Arun boleh pergi, tapi aku nggak?”
Di depannya, Arunika tersenyum dan mengulurkan tangan, menggenggam tangan Sena.
“Belum waktunya, Na,” Arunika yang menjawab, “Entar kalau udah waktunya, kamu bakal boleh pergi juga, kok.”
“Tapi aku nggak mau ditinggal! Aku nggak mau sendirian!”
Mendengarnya, Arunika tertawa kecil.
“Siapa bilang kamu sendirian? Kamu nggak pernah sendirian, Sena.”
Tangan Arunika yang tadi menggenggam tangan Sena kini menepuk dadanya, di tempat jantung Sena berdetak di bawah sentuhannya.
“Selamanya di sini…” Arunika berbisik, dan Sena, mendadak merasakan dirinya tak lagi terperangkap dalam raga mungil seorang anak kecil, mendengar suaranya sendiri menyelesaikan kalimat itu, “…kita selalu bareng.”
Hal terakhir yang Sena lihat adalah Arunika yang tersenyum padanya dan mengangguk.
Bukan Arunika yang berusia 16 tahun, tapi Arunika dua puluh tahun sesudahnya.
Lalu, segalanya hilang ditelan cahaya putih.
***
Nyeri.
Hal pertama yang Sena rasakan ketika membuka mata adalah nyeri. Tidak hanya di kepalanya tapi juga pada bahu serta lengan kirinya, dan terutama dadanya. Rasanya seperti ada tangan-tangan raksasa tak kasat mata yang menekan rusuknya sedemikian kuat hingga napasnya sesak, membuat Sena mengabaikan segala nyerinya yang lain dan berusaha bangun. Saat ia terduduk, seseorang—atau lebih tepatnya dua orang—muncul dari arah pintu ruangan dan segera berlari kecil ke arahnya.
Retha, diikuti Rin di belakangnya.
“Na, jangan bangun dulu,” Retha dengan sigap berdiri di sisi ranjang rumah sakit tempat Sena tadinya terbaring—dan sekarang terduduk—sembari menahan kedua lengan Sena, “Kamu habis tabrakan—”
Kalimat Retha tidak selesai karena Sena tiba-tiba saja mulai… menangis.
Ya, menangis sesenggukan seperti seorang anak kecil yang baru saja ditinggal pergi orang tuanya. Retha tertegun sesaat—ia tidak pernah satu kali pun melihat Sena menangis selama ini—sebelum ia beringsut maju dan memeluk Sena. Erat, tapi juga hati-hati dan lembut. Tangisan Sena makin menjadi dalam pelukan Retha, sementara perempuan itu dengan sabar mengusap punggung Sena tanpa putus dan berbisik, “Nggak apa-apa. Keluarin aja semuanya, Na, biar kamu lega. Kami nggak akan ke mana-mana.”
***