Re:LUARGA

Fanny F. Cussoy
Chapter #21

Keluarga

Sena menghabiskan dua hari lagi di rumah sakit, sebelum diizinkan pulang dengan kewajiban kontrol seminggu kemudian untuk memantau penyembuhan luka-lukanya. Rekan setimnya di kantor bergantian mengunjungi Sena selama dua hari itu, dan Pak Lius bahkan memberi Sena cuti hingga akhir minggu agar Sena bisa memulihkan diri sebelum kembali bekerja. Selama dua hari itu pula Rin pindah tinggal sementara ke rumah Retha—biar Rin bilang sungkan seribu kali pun, Retha tetap bersikeras—dan Sena benar-benar lega keluarga Retha menerima Rin dengan senang hati, bahkan setelah apa yang ia lakukan sewaktu presentasi bersama Jacob tempo hari. Dan sesuai janjinya, hal pertama yang dilakukan Sena setelah keluar dari rumah sakit adalah menemui Tirtayasa untuk meminta maaf.

Pria itu lebih banyak diam sewaktu Sena menemuinya di kediamannya bersama Retha. Sikapnya pada Retha jelas-jelas lebih hangat—dan Sena seratus persen memahaminya—tapi setidaknya, Sena bersyukur pria itu tidak langsung mengusirnya. Sena tidak menjadikan Arunika sebagai alasan karena ia sadar perbuatannya keterlaluan, dan sekalipun Tirtayasa tidak bilang ia memaafkan Sena, paling tidak pria itu mendengarkan penjelasan Sena hingga akhir. Dan sewaktu Sena berpamitan, Tirtayasa mengajaknya mengobrol berdua dulu tanpa Retha sebelum pulang. Pria itu memilih taman belakang rumahnya yang rindang sebagai lokasi bicara, mungkin setengahnya agar Sena tidak merasa terlalu terintimidasi. Atau setidaknya, Sena berpikir begitu.

“Kalau saya minta kamu memusnahkan kubus itu, memungkinkan nggak?”

Tirtayasa mengawali percakapan tanpa berbasa-basi.

Sena ingin sekali bilang sanggup, tapi ia memilih jujur.

“Kalau teknologinya, karena saya yang buat dan haknya masih ada di saya, saya bisa dan akan memusnahkannya setelah ini. Tapi kalau untuk proyektor yang sudah jadi,” Sena menelan ludah, “Sesuai kontrak kami di awal, itu punya Jacob.”

Tirtayasa tidak tampak terkejut mendengar jawaban Sena.

“Jadi kalau mau musnahkan, saya mesti suruh cucu saya itu, begitu?”

Gampangnya ya, tapi Sena menjawab, “Kalau Bapak mau, saya bisa—”

“Nggak usah, makasih,” potong Tirtayasa, “Saya bakal lebih senang kalau kamu nggak usah berurusan lagi sama anak itu. Lagi pula, ini urusan saya sama anak itu. Bukan kamu yang wajib memperbaiki.”

Sena tidak tahu harus menyahut bagaimana, jadi ia diam saja.

“Saya cuma perlu tegaskan satu hal lagi sama kamu,” Tirtayasa berkata lagi. Ia menjeda sejenak, mungkin sengaja membuat Sena merasa tegang—dan ya, ia berhasil—sebelum menyambung, “Retha sayang sekali sama kamu. Kalau sampai kamu bikin dia kecewa lagi, saya minta kamu juga jangan urusan sama dia lagi.”

Sena menelan ludah, tapi ia mengangguk mantap, “Nggak akan, Pak.”

Dan ia sungguh-sungguh mengatakannya. Tirtayasa tampak puas, tapi kemudian ia tampaknya teringat sesuatu.

“Oh, dan satu lagi,” Tirtayasa mengacungkan jemarinya, “Panggil saya Eyang, jangan ‘Pak’. Saya terlalu tua buat jadi bapak kamu.”


***


Sena masih ingat bagaimana Jacob berdiri sendirian di barisan paling belakang saat jenazah neneknya disemayamkan di rumah duka. Hari itu hujan, dan tidak seperti Retha yang duduk di dekat peti sambil menangis dalam pelukan ibunya, Jacob hanya berdiri di belakang, menatap kosong ke arah foto Eyang Sitha yang tersenyum pada semua orang. Sewaktu kebetulan duduk semeja dengan Jacob dan tanpa sengaja terlibat obrolan, Sena juga ingat binar samar dalam kedua mata Jacob saat ia berkata, “…Jadi saya bisa ngomong sama Eyang saya lagi with your device?

Sekalipun tidak benar, harus Sena akui, dukungan Jacob pada kegilaannya saat itu membuatnya merasa waras. Yah, walaupun dua tahun sesudahnya, ia harus ditampar begitu keras supaya sadar. Setidaknya, Jacob adalah orang pertama yang tahu tentang Re:LUARGA. Orang pertama yang memberinya dukungan soal itu, terlepas dari motivasi pribadi Jacob sendiri serta betapa salahnya itu semua. Dan hal itu membuat keputusan Sena menemui Jacob untuk menyampaikan niatnya mengakhiri kerja sama mereka tidak semudah yang ia bayangkan. Namun ia juga tahu, ini yang terbaik. Tidak hanya buatnya, tapi juga buat Jacob.

Lihat selengkapnya