Sena tidak pernah merasa selega ini.
Padahal yang ia lakukan hanyalah berjongkok di depan sebuah nisan sederhana, dengan sebuah nama yang familier terukir di sana.
Arunika Satya.
Akhirnya, setelah dua puluh tahun, Sena bertemu lagi dengan kakak perempuannya.