“Ri di mana lo? Gue ke sekret lo yah? Udah packing belum? Ya udah gue meluncur.”
Moto-cross melesat lincah di celah gerimis menyalip kemacetan di jalur Cilandak arah Lebak Bulus. Bidu janjian dengan Ruri di kampusnya untuk menyiapkan alat-alat untuk keberangkatannya ke Cibodas, Bogor untuk melakukan pendakian Gunung Gede – Pangrango. Dua gunung itu berhimpitan satu sama lain yang masing-masingnya terkenal memiliki keindahan lembahnya yang sangat indah. Gunung Gede memiliki lembah Surya Kencana, sedangkan Gunung Pangrango memiliki lembah Mandala Wangi. Keduanya ditumbuhi rumpun yang sama yaitu bunga edelweiss yang dikenal dengan nama lain bunga abadi, salah satu lembah yang digemari oleh sang pelopor Mapala, sekaligus seorang aktivis angkatan ’66, Soe Hoek Gie atau biasa disapa “Gie.”
Bidu, Ruri dan Moza berencana mendaki salah satu gunung tersebut yaitu Gunung Gede yang memiliki salah satu lembah yang memanjang menuntun angin untuk mencumbu matahari ‘Surya Kencana’.
Kampus berwarna jingga dengan gedung 6 lantai yang terlihat dipadati oleh penghuninya setelah bubar jam mata kuliah berakhir, serta kendaraan bermotor yang terparkir cukup padat memenuhi halaman kampus bahkan sampai ke ruas jalan menuju gedung-gedung fakultas kampus yang kembali dibungkus hujan yang mulai deras, sederas emosi yang meluap dalam salah satu ruang rector di mana Ruri dan salah satu anggota Mapalanya terpaksa menghadap biro kemahasiswaan karena terlibat insiden pemukulan.
“Sudah, nak Mauri! Tenangkan dulu pikiranmu!”
“Kita bicarakan dengan kepala dingin,” sahut Pak Galuh salah satu Wakil Pembantu Rektor 3.
“Orang ini kepalanya sudah tidak dingin, Pak. Karena lebih memilih berbicara dengan pukulan,” Ruri berdiri sambil menunjuk kearah salah satu mahasiswa yang terduduk menunduk di hadapan Pak Galuh.
“Sudah-sudah, nak Mauri! Bapak hanya mau tahu permasalahannya kenapa hingga terjadi insiden pemukulan seperti ini.”
“Orang ini telah memulai pemukulan terlebih dahulu kepada salah satu anggota kami, Pak! Saat hendak membubarkan komunitas mereka yang telah mengaku-ngaku dari Mapala universitas ini saat salah satu dari mereka bertamu ke Mapala kampus lain, Pak,” sahut Ruri dengan luapan emosi.
“Mereka memanfaatkan nama Mapala untuk kepentingan kelompok mereka, itu sudah sering terjadi pak di kampus lain dan sekarang terjadi di kampus kita.”
“Benar yang Nak Mauri katakan,” tanya Pak Galuh kepada ketiga mahasiswa tersebut.
“Kalau itu benar, Pak. Tetapi kami tidak tahu di universitas ini sudah ada komunitas pencinta alamnya.”
“Lagian masalah pemukulannya itu karena kami hanya spontan, Pak. Karena kami gak suka cara mereka yang terlalu urakan yang secara tiba-tiba meminta kami bubar dan kami juga gak tahu yang kami pukul itu anak Mapala,” jawab salah satu dari mereka yang masih tertunduk sambil mengusap mukanya yang memar.