Sekar menurunkan dua kardus terakhir dari bak mobil bak terbuka, lalu menepuk tangannya sampai debunya beterbangan.
"Sudah, Pak. Terima kasih banyak."
Sopir itu mengangguk, menerima uang, lalu pergi dengan suara mesin yang batuk-batuk. Sekar berdiri di depan pagar dan memandang rumah kecil di depannya. Catnya putih agak kusam. Ada pohon jambu di halaman. Ada jendela dapur yang menghadap ke arah yang bagus, karena pagi hari cahayanya pasti masuk.
Dia tersenyum lebar.
"Akhirnya," katanya pada diri sendiri. "Rumah sendiri. Dapur sendiri. Nggak ada lagi ibu kos yang protes soal bau minyak goreng."
Selama tiga tahun Sekar berjualan jajanan pasar dari kamar kos sempit. Setiap dini hari dia menggoreng aneka gorengan, arem-arem dan mengukus kue lapis, dan setiap dini hari pula ibu kosnya mengetuk tembok. Sekarang semua itu selesai. Sewa setahun sudah dia bayar lunas lewat Pak Broto, makelar yang ramah dan selalu memanggilnya "Mbak Sekar yang rajin". Uang itu hasil menabung sepuluh bulan.
Sekar mengeluarkan kunci dari saku dan membuka gembok pagar. Klik. Pintu depan juga terbuka dengan mudah.
Di dalam, rumahnya bersih dan wangi sabun lantai. Ruang tamu kecil, dapur di belakang, satu tangga sempit. Sekar meletakkan kardus di lantai, membuka jendela, dan menarik napas panjang.
"Oke. Dapur dulu."
Dia baru melangkah tiga kali ketika mendengar suara kunci berputar di pintu depan.
Sekar berhenti. Dia menoleh.
Pintu terbuka. Seorang laki-laki masuk sambil menarik koper hitam yang mengilap. Kemejanya putih tanpa lipatan, sepatunya bersih tanpa noda, dan rambutnya tersisir sangat rapi. Dia terlihat seperti orang yang tidak pernah terlambat dan tidak pernah salah jalan.
Laki-laki itu ikut berhenti. Dia menatap Sekar, lalu menatap kardus-kardus di lantai, lalu menatap Sekar lagi.
"Maaf," katanya dengan nada sopan yang dingin. "Anda salah rumah."
"Saya?" Sekar menunjuk dirinya sendiri. "Bapak yang salah rumah. Ini rumah saya."
"Ini rumah saya." Laki-laki itu mengeluarkan kunci dari sakunya dan mengangkatnya. "Kuncinya cocok."
Sekar mengangkat kuncinya juga. Dua kunci itu terlihat sama persis, bahkan gantungannya juga sama, yaitu bulatan kecil berwarna kuning.
Mereka saling menatap dalam diam selama tiga detik.
"Bapak jangan bercanda," kata Sekar. "Saya sudah bayar sewa setahun."
"Saya juga sudah bayar sewa setahun."
"Bayar ke siapa?"
"Pak Broto."
Sekar buru-buru berpegangan pada sandaran kursi. "Pak Broto yang mana? Yang perutnya bulat, senyumnya lebar, dan suka bilang 'tenang saja, semua beres'?"
"Ya." Suara laki-laki itu mulai kaku. "Dia bilang begitu tiga kali."