Giana Pov
Tanpa terasa, lima tahun telah berlalu sejak pertengkaran pertama antara Ren dan Giana. Waktu melesat cepat, meninggalkan jejak pertumbuhan yang tak bisa diabaikan pada anak-anak panti asuhan Theresa. Di bawah bimbingan sang profesor, mereka menapaki jalan masing-masing. Awalnya, Theresa hanya berniat menanamkan dasar-dasar ilmu bertarung serta pengetahuan sederhana untuk bertahan hidup. Namun, di luar dugaan siapa pun, dalam waktu singkat kelima anak itu menunjukkan bakat yang melampaui ekspektasi.
Ren menjelma menjadi seorang fighter tangguh. Ayunan pedangnya kian matang dari hari ke hari, gerakannya tegas dan mematikan. Briana, dengan mata setajam elang, menguasai busur dengan presisi mengagumkan. Keahliannya menjadikannya seorang ranger andal. Cordelia, yang menekuni sihir bersama Giana, melangkah mantap di jalur wizard. Kecerdasannya menonjol, mantranya rapi dan terstruktur. Carina memilih jalan berbeda. Sihir penyembuh mengalir lembut dari tangannya, menjadikannya healer yang tak tergantikan bagi rekan-rekannya.
Namun, yang paling menonjol di antara mereka adalah Damian. Bakatnya yang langka mampu menyeimbangkan pedang dan sihir. Seorang multi-class, fighter dan wizard sekaligus. Sebuah anugerah yang, menurut catatan, hanya muncul sekali dalam satu dekade. Sementara itu, Giana masih tekun berada di bawah asuhan Theresa. Ia menekuni dunia sihir dengan kesungguhan penuh, meski harus diakui perkembangannya tidak secepat Ren dan teman-temannya. Namun, keberadaannya tetap menyatu dalam lingkaran kecil itu. Ia ikut belajar, ikut tertawa, dan ikut berlatih bersama mereka.
Lima tahun kebersamaan mengubah mereka. Bukan hanya menjadi sahabat, tetapi juga sebuah tim. Mereka berlatih bersama, saling menopang, dan secara alami membangun kerja sama yang erat. Begitu solid hingga Theresa sendiri mengakui bahwa inilah cikal bakal tim yang ideal. Dari kejauhan, Theresa kerap memperhatikan mereka dengan tatapan hangat. Senyum bangga selalu terukir saat melihat anak-anak asuhnya tumbuh menjadi anak muda penuh semangat. Mereka berapi-api setiap kali membicarakan pertarungan. Namun, di balik kebanggaan itu, terselip kegelisahan. Keinginan mereka sederhana, sekaligus berbahaya. Mereka ingin membentuk sebuah tim mercenary. Di sisi lain, Giana merasakan sesuatu yang asing bergejolak di dadanya. Sejauh apa pun ia berusaha, tetap saja ia tak pernah mampu menyamai Ren dan yang lain. Insting bertarung mereka terlalu tajam dan terlalu terasah, layaknya para pemburu yang siap menerkam mangsanya.
Siang itu, Theresa membawa mereka ke sebuah padang rumput luas di pinggiran ibu kota Trisha. Angin berhembus lembut membawa aroma rerumputan segar. Cahaya matahari hangat menyelimuti tanah lapang itu. Namun, hati Giana terasa berat. Di hadapannya, Theresa mulai merapalkan mantra tingkat tinggi. Pelafalan sihirnya bergema. Cahaya biru keperakan melingkupi tubuhnya. Dari pusaran itu, tercipta sosok tiruan yang persis menyerupai dirinya. Spell level 7 Simulacrum. Meski hanya bayangan, aura yang terpancar tetap menekan. Kekuatan itu mengingatkan semua orang bahwa Theresa pernah berdiri di garis depan kekaisaran sebagai salah satu wizard terbaiknya.
“Ini ujian terakhir kalian,” suara Theresa terdengar tegas.
“Kalahkan saya. Atau setidaknya bertahan sampai waktu habis.”
Ia menatap mereka satu per satu.
“Jika berhasil, saya akan mengizinkan kalian membentuk tim mercenary. Jika gagal, kalian harus mencari jalan lain.”
Ucapan itu mengguncang hati mereka semua. Inilah penentu masa depan. Giana berdiri di sisi gurunya dan tidak diizinkan ikut serta. Perannya hanya sebagai pengamat. Keputusan itu menusuk hatinya dengan frustrasi, namun ia tahu satu hal. Theresa tidak pernah melarang tanpa alasan. Jari-jarinya mencengkeram rok bajunya erat, menahan diri sambil menatap cemas ke arah teman-temannya. Di sisi lain, kelima anak panti telah siap dengan perlengkapan tempur.
Formasi mereka terbentuk secara alami. Semuanya merupakan hasil dari bertahun-tahun latihan bersama. Ren berdiri di garis depan. Pedangnya berkilau terkena sinar matahari. Di sampingnya, Damian menghunus pedang dengan gaya santai. Pada saat yang sama, lingkaran sihir menyala di udara. Sebuah perpaduan dua kekuatan yang jarang dimiliki siapa pun. Di belakang mereka, Briana menarik busurnya dengan mantap. Anak panah siap dilepaskan kapan saja. Di sisinya, Cordelia menutup mata sejenak dan memusatkan konsentrasi. Cahaya tipis mulai berkumpul di ujung tongkatnya.
Dan di tengah-tengah mereka, Carina berdiri tenang. Tangannya memancarkan cahaya putih lembut. Ia tidak menyerang. Namun, ia siap menutup luka dan memastikan rekan-rekannya tetap berdiri. Giana menatap mereka. Dadanya dihimpit dua perasaan yang saling bertentangan. Kebanggaan, karena teman-temannya tumbuh begitu kuat. Dan kesedihan, karena ia hanya bisa menyaksikan dari kejauhan.
“Ren lu jangan ngehambat gue, nenek lampir itu milik gue”
Damian tersenyum kepada sahabatnya sambil mengacunkan long sword nya ke arah simulacrum Theresa. Ren ikut tersenyum menanggapi sahabatnya tersebut. Mereka berdua sudah menjadi sahabat sejak mereka berada di daerah kumuh. Ren sudah mengenal Damian lebih lama dari siapapun di panti asuhan, dia mengenal dengan baik sifat sahabatnya itu. Theresa memberikan aba-aba dan pertandingan tanding pun dimulai. Simulacrum Theresa mulai menembakan sihir fire bolt kearah belakang kearah Carina yang merupakan seorang healer, beruntung dia dapat menghindari bola api tersebut.
Di sisi lainya Ren dan Damian mulai maju dan berlari dan berlari menuju simulacrum Theresa. Sang simulacrum yang menyadari hal tersebut menghindari tebasa mereka berdua dan menembakan sihir Scorcing Ray kearah mereka, sebuah cahaya api level dua yang muncul dan menembak mereka berdua. Ren dan Damian yang tidak mengantisipasi arah tembakan sihir dari jarak dekat itu menerima sihirnya itu dengan telak. Meskipun Scorching Ray hanya sihir level dua dan dampaknya tidak terlalu besar bagi mereka, tetap saja mereka berdua masih merasakan rasa sakit dari serangan tersebut. Briana yang melihat hal itu dengan segera melepaskan panahnya dan menembakannya kearah simulacrum Theresa.
Namun di saat bersamaan simulacrum Theresa merapalkan sihir level satu perlidungan Shield dan sebuah medan pelindung melindungi simulacrum tersebut dari serangan Briana. Cordelia yang melihat hal tersebut merapalkan sihir level dua web dan dari kaki simulacrum Theresa muncul sebuah jaring yang lengket seperti jaring laba – laba. Melihat situasi tersebut Ren tidak menyia nyiakan kesempatan dan kembali mencoba menebas simularum Theresa. Simulacrum Theresa.
Namun tebasan pedangnya hanya membentur kearah sihir pelindung Simulacrum Theresa tanpa bisa menembusnya. Di sisi lainya Damian merapalkan sihir level dua hold person untuk mencoba membuat simulacrum Theresa tidak dapat bergerak. Simulacrum Theresa yang melihat hal tersebut merapalkan sihir tingkat tiga Counter spell untuk membatalkan sihir Damian dengan paksa. Dan Simulacrum tersebut melanjutkan dengan merapalkan sihir level satu Thunderwave dan sebuah petir muncul di depan Ren yang menyebabkannya terlempar kebelakang karena kejutan dari sihir tersebut.
“Sialan simulacrum professor terlalu kuat!!”
Ren yang sudah kembali berdiri mencoba mengatur nafasnya. Dia melihat kearah teman-temannya yang juga sama kesulitannya. Meskipun ini pertarungan lima lawan satu, tapi lawan mereka merupakan salah satu penyihir mantan wizard terbaik di kekaisaran.