Giana Pov
Theresa mengangkat tangannya.
“Cukup.”
Pertandingan dihentikan. Ia lalu bertepuk tangan pelan. Tepukan itu bergema di padang rumput yang masih beraroma sihir. Theresa berjalan mendekat ke arah mereka berlima yang kini berkumpul, lalu tanpa ragu memeluk mereka semua.
“Kalian berhasil,” ucapnya dengan penuh kasih sayang dan kebanggan.
“Ibu bangga banget sama kalian.”
Pelukannya mengerat.
“Ibu nggak nyangka kalian bisa ngalahin simulacrum ibu sendiri.”
“Yey, kita menang kan, Bu,” seru Briana ceria. “Tuh kan, aku juga udah bilang. Selama Ren ada sama kita, semuanya bakal baik-baik aja.”
Briana tersenyum lebar. Carina dan Cordelia ikut tertawa lega. Di sisi lain, Damian mencoba melepaskan diri dari pelukan Theresa. Ia mendorong pelan, lalu lebih keras, namun tubuhnya sama sekali tidak bergerak. Ia terdiam. Theresa diam-diam merapalkan Hold Person kepada Damian agar dia tidak bisa bergerak. Damian mendengus kesal, menyadari Theresa sama sekali tidak berniat melepaskannya dalam waktu dekat. Sementara itu, Ren menghela napas panjang. Leganya terasa nyata dengan Rencananya yang berhasil. Ia memang tidak keberatan menjadi umpan, namun ia sama sekali tidak menyangka teman-temannya akan mengeksekusi arahannya dengan nyaris sempurna.
Theresa akhirnya melonggarkan pelukannya.
“Kalian kok bisa tahu sih gerakan simulacrum ibu tadi?” tanyanya penasaran. “Ibu kaget loh. Serangan terakhir itu nggak bisa ibu antisipasi sama sekali.”
“Soal itu,” Carina menoleh ke arah Ren, “Ren yang udah menduga semuanya.”
“Ren?”
Theresa ikut menoleh. Ren yang ditatap mendadak canggung. Ia menggaruk pipinya pelan.
“Iya, Mah,” sambung Cordelia santai sambil menunjuk Ren. “Ren yang minta kita lakuin semua itu.”
Theresa terdiam. Ia melepaskan pelukan sepenuhnya dan menatap Ren lebih saksama.
“Sejak kapan anak ini bisa menyusun rencana seperti itu? Timing setiap rapalan wizard berbeda tergantung jenis sihirnya. Pola menyerang dan bertahan pun tidak pernah sama.
Ada lebih dari satu juta kemungkinan.” Ujar Theresa dalam hatinya.
“Iya, Profesor,” ujar Ren jujur. “Sayangnya cuma itu yang bisa saya pikirkan. Saya cuma ngelihat pola serangan dan reaksi dari simulacrum Profesor, lalu memperkirakan celahnya.”
Theresa membeku sesaat.
“Dalam pertarungan sesingkat itu. Dia bisa melihat semuanya? Arah serangan teman-temannya tidak meleset sedikit pun. Seolah dia sudah melihat hasil akhirnya terlebih dahulu. Anak ini… jenius. Dia bisa jadi ahli strategi yang luar biasa di masa depan.” Ujar Theresa dalam hatinya.
Theresa tersenyum lembut. Kini ia benar-benar melihatnya. Saat Ren memperhatikan rekan-rekannya dan membaca gerakan simulacrum dirinya sendiri, ia bukan sekadar bertarung. Ia mengatur alur pertempuran, mengantisipasi setiap kemungkinan, dan mengarahkan timnya dengan presisi. Dalam jumlah, Theresa kalah. Dalam kekuatan, ia jelas berada di atas mereka, namun Ren menutup celah itu dengan strategi. Dan teman-temannya mengeksekusinya dengan kepercayaan penuh.
“Mereka tim yang baik aku rasa… sudah tidak ada lagi yang bisa aku ajarkan.” Ujar Thresa dalam hatinya.
Tanpa ia sadari, air mata mulai mengalir di pipinya. Anak-anak yang dulu ia temukan satu per satu kini telah tumbuh begitu jauh. Mereka bukan lagi anak-anak yang bergantung padanya, melainkan individu dengan kekuatan dan jalan masing-masing. Saling melengkapi. Siap menghadapi dunia dengan cara mereka sendiri. Ada kebanggaan yang dalam. Dan juga kesedihan.Carina yang menyadari air mata itu segera mendekat.
“Bunda?” tanyanya cemas. “Kenapa nangis? Kita menang kan?”
Theresa cepat menghapus air matanya, berusaha tersenyum.
“Ibu nggak sedih, Carina,” katanya pelan. “Ibu cuma… senang.”