Giana Pov
Kenangan indah yang pernah mengisi hidupnya, bersama perasaan terhadap Ren yang baru ia sadari ketika semuanya telah terlambat, kembali menyesakkan dada Giana. Kesedihan itu muncul perlahan dalam dadanya. Tanpa ia sadari, suara rekaman video Ren yang sebelumnya ia dengarkan di ponselnya telah lama berhenti. Tak ada lagi suara, tak ada lagi tawa, hanya keheningan yang terasa jauh lebih menyakitkan daripada apa pun. Giana mematikan ponselnya, lalu meletakkannya di atas meja di samping tempat tidurnya. Setelah itu, ia menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjangnya dengan kasar, seolah ingin melarikan diri dari pikirannya sendiri.
“Kalau saja aku sadar sejak dulu…”
Suaranya lirih, hampir tenggelam dalam sunyi.
“Kalau saja aku menyadari kalau aku menyayanginya lebih dari sekadar sahabat… mungkin semuanya tidak akan berakhir seperti ini.”
Dadanya terasa semakin sesak.
“Kalau saja aku memiliki kekuatan… mungkin Tante Theresa dan yang lainnya masih ada.”
Ia terdiam sejenak, menelan napas yang bergetar.
“Dan Ren…”
Bayangan itu kembali muncul di benaknya. Tatapan Ren yang dingin, asing, seolah ia hanyalah orang yang tak pernah berarti. Tatapan yang lebih menyakitkan daripada hukuman apa pun. Giana meremas bantal di pelukannya dengan kuat. Air mata akhirnya jatuh, membasahi pipinya tanpa bisa ia tahan.
“Ren…”
Suaranya bergetar.
“Ren masih berdiri di sebelahku… aku…”
Kata-katanya terhenti oleh isak yang tertahan.
“Selama ini aku mencintai Ren. Aku selalu menyayanginya.”
Tangisnya semakin pelan, semakin rapuh.
“Kenapa aku baru menyadarinya sekarang? Kenapa semuanya harus terlambat?”
Ia memejamkan mata, membiarkan air mata mengalir dalam diam.
“Kenapa… kenapa…”
Di malam itu, kenangan dan penyesalan menyatu, membentuk luka yang akan terus ia bawa. Sebagai harga dari perasaan yang tak sempat terucap, dan masa lalu yang tak lagi bisa diubah. Setelah satu tahun sejak pertemuannya kembali dengan Ren, Giana akhirnya menyadari satu hal yang tak bisa ia sangkal. Hubungan mereka telah hancur dan kehancuran itu bukan sesuatu yang bisa diperbaiki. Ren terus mengabaikannya. Setiap surat yang ia kirim tak pernah mendapat balasan. Setiap pesan yang ia tulis di ponsel tak pernah dibuka sama sekali. Namun yang paling menyakitkan bukanlah keheningan itu. Melainkan kenyataan bahwa Ren dengan kejam memutus semua ikatan masa lalu mereka. Ia menutup setiap jalan, seolah semua yang pernah mereka lewati bersama tak pernah berarti apa pun. Seolah mereka berdua hanyalah orang asing. Bukan sahabat yang tumbuh bersama. Bukan keluarga yang saling berjanji untuk tetap berdiri di sisi satu sama lain. Dan bukan dua hati yang pernah berbagi kehangatan yang sama.
Setiap penolakan yang Ren tunjukkan terasa seperti pisau kecil yang menusuk perlahan, berulang kali. Tak langsung mematikan, tetapi cukup untuk membuat luka itu terus terbuka. Giana memahami satu hal dengan pahit. Ren tidak hanya menjauhinya. Ia sengaja menghapus dirinya dari hidup Giana. Dan di situlah, untuk pertama kalinya sejak semua tragedi itu terjadi, Giana benar-benar mengerti bahwa ada luka yang tidak tercipta karena kebencian, melainkan karena seseorang memilih untuk tidak lagi peduli.
“Kamu kejam, Ren…”
Suara Giana bergetar, nyaris seperti bisikan yang tercekik.
“Kamu mengabaikan aku… tapi di saat yang sama kamu bisa berkencan dengan dua perempuan lain. Bukan cuma itu…”
Napasnya memburu. Kata-katanya mulai terputus-putus.
“Kamu bahkan mesra dengan adik kelasmu itu… dan juga… dan juga—”
Kesedihan yang selama ini mengendap perlahan berubah bentuk. Perasaan itu memanas, lalu menjelma amarah yang merayap naik ke permukaan. Amarah yang bercampur dengan kecemburuan, lahir dari apa yang ia saksikan diam-diam melalui sihir Scrying Eyes, tanpa pernah disadari oleh Ren.
“Kamu berani bermesra-mesraan dengan elf itu…!”
Suara Giana meninggi, pecah dalam emosi yang tak lagi terkendali.
“Padahal kamu sudah punya aku! Punya aku, Ren! Empat tahun aku menunggu! Empat tahun kamu mengabaikan aku! Empat tahun, Ren… empat tahun!”
Ledakan emosinya menggema di dalam ruangan. Untungnya, sebelum itu semua terjadi, ia telah merapalkan sihir Silent. Tak satu pun suara amukannya bisa lolos ke luar kamar.