Dalam sebuah ruang hampa yang dipenuhi cahaya putih sejauh mata memandang, seorang gadis berdiri dalam keheningan yang lembut. Rambut pirang panjangnya terurai anggun, berkilau seolah menyerap terang di sekelilingnya. Gaun one piece berwarna putih yang ia kenakan menyatu dengan ruang tanpa batas itu, seakan dirinya adalah bagian dari cahaya itu sendiri. Sepasang mata biru safirnya yang jernih dan dalam, bagaikan langit tanpa awan, tertuju pada sebuah bola sihir yang melayang diam di hadapannya. Di dalam bola tersebut, bayangan Ren muncul silih berganti, diiringi serpihan-serpihan ingatan yang terjalin menjadi satu alur kehidupan. Kenangan tentang pertemuan pertamanya dengan mendiang ibu angkatnya, hari-hari yang ia lewati bersama Damian, Briana, Cordelia, Carina, dan Giana, hingga momen kegagalannya dalam pencurian artefak kekaisaran empat tahun silam. Semua berputar perlahan, seolah dunia itu sendiri tengah membuka kembali lembaran hidup Ren, tanpa tergesa, tanpa belas kasihan.
Gadis itu mengangkat tangannya perlahan. Ujung jarinya nyaris menyentuh permukaan bola sihir, namun berhenti sesaat. Keraguan tersirat di sana, seakan ia memahami bahwa satu sentuhan kecil saja dapat menggores, bahkan merusak, kenangan indah yang pernah dimiliki Ren.
“Pada akhirnya,” bisiknya lirih, suaranya menggema lembut di ruang tanpa dinding, “kamu tetap mengangkat pedangmu sekali lagi, ya, Ren. Dan pada akhirnya, kamu memilih jalan itu.”
Cahaya di dalam bola berdenyut pelan sebagai jawaban, memancarkan kilau yang lebih tenang, seolah menerima keputusan tersebut. Gadis itu tersenyum tipis, senyum yang memuat kebanggaan, sekaligus kesedihan yang tak pernah benar-benar terucap.