Dia adalah manusia yang aneh.
Seorang gadis elf dengan rambut pastel pucat dan mata giok tanpa sengaja melirik ke arah sisi lapangan latihan, tempat seorang pria berdiri sendirian dengan sikap santai yang terasa janggal. Sejak awal, aku mengira dia sama saja seperti manusia lainnya. Kotor, licik, dan terjebak dalam permainan politik mereka sendiri. Bangsa yang membakar hutan suci kami, menculik kaumku, lalu memenjarakan mereka di kekaisaran tanpa alasan yang layak disebut keadilan.
Kami adalah anak dari Hutan Suci. Penjaga Dewi Bulan Selune. Derajat kami seharusnya berada di atas manusia hina itu. Namun kenyataannya, harga diri kami diinjak-injak seperti sampah, dan darah kami menjadi harga bagi ambisi mereka. Dan dia tetap manusia. Seorang pengkhianat kekaisaran, siswa terburuk di Academy, seseorang yang bahkan tidak berusaha membela dirinya sendiri. Saat kabar pembubaran tim kami tersebar, tubuhku gemetar hebat. Aku memasang wajah galak dan bersikap dingin untuk menyembunyikan ketakutan, meski sejak saat itu aku sudah merasakan firasat buruk yang sulit dijelaskan, seolah sesuatu yang lebih besar sedang menunggu kami.
Tatapan manusia selalu membuatku muak. Tatapan menjijikkan yang merayapi tubuhku tanpa rasa malu. Lebih buruk lagi, seorang instruktur dari tim lawan terang-terangan melecehkanku di depan umum. Aku ingin muntah melihat wajahnya. Namun aku tidak bisa melawan. Melawan berarti siksaan yang lebih kejam. Begitulah hukum manusia bekerja, dan hukum itu tidak pernah berpihak pada kami.
Saat aku yakin masa depanku telah berakhir, dia datang. Tanpa permintaan. Tanpa imbalan. Dengan sikap dingin yang sama seperti biasanya. Saat itu aku tidak tahu bahwa pertemuan singkat itu akan menjadi awal dari perubahan penilaianku kepadanya. Untuk apa dia menolongku? Aku tidak pernah memintanya. Dia hanya manusia. Manusia yang sama dengan mereka yang membakar hutan kami. Namun tatapan matanya membuat keyakinanku runtuh. Tatapan itu dingin, tetapi tidak kosong. Aku melihatnya dengan jelas. Dia lelah. Terlalu lelah untuk terus melawan dunia yang telah lebih dulu memutuskan nasibnya.
Aku membencinya pada awalnya. Menganggapnya tidak berbeda dari manusia lain. Namun perlahan, aku memahaminya. Dan tanpa kusadari, pemahaman itu berubah menjadi sesuatu perasaan berbeda.
Dia sepertiku.