Ren Pov
Seminggu telah berlalu sejak pertempuran yang menentukan nasib Tim Sigma. Siang itu, suasana Legion Academy kembali terasa tenang di permukaan, meski riak-riak ketegangan masih membayang di bawahnya. Julia Brown, komandan Tim Sigma, memanggil seluruh anggotanya ke ruangannya untuk briefing pagi.
Ren melangkah masuk lebih dulu. Di balik meja kerjanya, Julia tampak sedang membuka berkas laporan dokumen resmi dari dewan Academy yang berisi keputusan mengenai nasib Tim Sigma.
“Baik, semuanya sudah berkumpul. Kalau begitu, saya bacakan laporannya,” ujar Julia, tanpa basa-basi.
Ruangan itu seketika diselimuti ketegangan. Setiap anggota Tim Sigma menahan napas, menanti kata-kata yang bisa mengubah jalan mereka. Ekspresi cemas dan tegang jelas tergambar di wajah masing-masing. Berbanding terbalik dengan mereka, Ren duduk dengan tenang, kedua matanya dingin dan tak terguncang sedikit pun, seolah hasil keputusan itu sama sekali tidak berpengaruh padanya.
Julia membuka berkas di tangannya dan mulai membacakan keputusan resmi dewan akademi.
“Berdasarkan kinerja Tim Sigma dalam pertandingan minggu lalu, dengan ini dewan akademi menetapkan untuk membatalkan pembubaran Tim Sigma. Namun, tidak menutup kemungkinan apabila performa tim kembali menurun, pihak Academy akan meninjau ulang keputusan ini.”
Suasana ruangan yang tadinya menegang berubah seketika. Nafas lega terdengar dari empat anggota tim lainnya Olivier, Kieran, Helena, dan Altheya. Bahu mereka yang sempat tegang kini tampak mengendur, sorot mata mereka sedikit berbinar.
Julia kembali melanjutkan.
“Kemudian, mengenai siswa bernama Ren Flarehart yang dapat mengeluarkan Echo... pihak Academy memutuskan untuk memanggilnya di lain hari, dan meminta laporan resmi darinya serta dari komandan Tim Sigma, Julia Brown.”
Sekejap, semua mata di ruangan itu serentak menoleh ke arah Ren. Ia hanya menghela napas panjang, sudah terbiasa dengan tatapan penuh curiga yang tak kunjung surut darinya.
“Itu saja yang perlu saya diskusikan dengan kalian semua,” lanjut Julia. “Jangan terlena dengan kemenangan ini. Peringkat kita masih yang terburuk di angkatan kelas dua. Kalian boleh kembali ke kelas masing-masing... kecuali Ren. Mengenai permintaan terakhir dari kekaisaran, ada hal yang perlu saya bicarakan khusus denganmu.”
Keheningan menyelimuti ruangan. Anggota lainnya meninggalkan kantor Julia dengan langkah berat, sesekali melirik Ren sebelum benar-benar menutup pintu. Menyisakan suasana canggung hanya antara Julia dan Ren. Julia menghembuskan napas panjang, seolah beban yang menekan dadanya sedikit terangkat. Kali ini, nada suaranya berubah lebih lembut.
“Selamat atas kemenangan kalian, Ren. Kamu berhasil mencegah pembubaran Tim Sigma,” ucap Julia dengan nada tulus.
“Terima kasih, Komandan. Tapi kemenangan ini hasil upaya semua orang, bukan saya seorang.” Jawab Ren singkat.
Julia tersenyum tipis, menatap Ren dengan sorot mata yang hangat.
“Kamu tetap saja merendah seperti biasanya. Padahal performa kamu melampaui ekspektasi semua instruktur di Academy. Bahkan Kepala Academy, George, sampai terkesima melihat pertarunganmu. Seperti yang bisa diharapkan dari sang Phantom Knight.”
Sekejap, wajah Ren berubah dingin. Tatapannya menyipit, nada suaranya terdengar kesal saat menjawab.
“Masalah saya Phantom Knight atau bukan tidak ada hubungannya dengan semua ini. Kalau instruktur sampai terkesima hanya dengan hal sepele begitu, berarti pekerjaan rumah kalian belum terselesaikan.”
Julia menarik napas panjang, sedikit menyesal karena pujian yang ia maksudkan justru membuat Ren tersinggung. Ia mencoba berganti arah, suaranya kini terdengar lebih serius.
“Tapi tetap saja… kenapa kapten dari tim mercenary yang begitu terkenal sepertimu rela melakukan tindakan kriminal? Nama kalian sudah dikenal di seluruh benua Auroraven. Seharusnya mudah mencari pekerjaan lain tanpa harus berurusan dengan kekaisaran.”
Ren menatap Julia sejenak, lalu menjawab dengan dingin.
“Itu tidak ada hubungannya dengan hal ini, Komandan. Kita sudah menang, dan itu saja sudah cukup. Saya tidak melakukan hal ilegal. Tidak ada peraturan yang melarang penggunaan sub-class dalam pertandingan. Lawan terlalu meremehkan kemampuan kami, dan itulah kesalahan terbesar mereka. Kalau Anda berniat memanfaatkan momen ini untuk menggali masalah empat tahun lalu… maaf, saya tidak punya jawaban untuk Anda.”
Julia menghela napas panjang, menatap Ren yang tetap keras kepala seperti biasanya.
“Kamu sudah dengar isi keputusan Academy, kan? Pihak akademi secara terang-terangan ingin memojokkan kamu. Saya berusaha membantu di sini, Ren. Apa pun yang terjadi… Saya bukan hanya komandanmu. Saya wali kamu. Dan Saya akan berpihak kepadamu, apa pun yang terjadi.”
Ren menoleh dengan tatapan dingin. Suaranya rendah dengan sarat ketidakpercayaan.
“Apa tujuan Anda Julia Brown?”
“Saya nggak akan membiarkan kamu bernasib sama dengan professor Theresa mendiang ibumu, Ren. Tolonglah percaya kepada saya.” Jawab Julia dengan nada memohon.
Sejenak, udara di ruangan itu seakan membeku. Ren terdiam dan menghelanafasnya, dia tidak mengerti kenapa sang komandan dengan putus asa memintanya untuk mempercayainya, dia pun memutuskan untuk menyerah untuk sekarang dan menuruti perkataan dari Julia, akan terlalu berbahaya baginya untuk saat ini menarik terlalu banyak perhatian kepadanya.
“Baik komandan, tapi benar-benar tidak ada yang bisa saya sampaikan kepada Anda untuk saat ini. Dan juga untuk subclass saya, saya mempunyai alasan tersendiri untuk tidak menunjukannya, namun saya tidak salah di sini, saya hanya melakukan yang saya bisa agar tidak di keluarkan oleh Academy.”
Mendengarkan jawaban acuh tak acuh Ren Julia menghela nafasnya, setidaknya meskipun dia tidak sepenuhnya kooperatif, Ren akhirnya membuka mulutnya mengenai dirinya.
“Dan alasan tersebut?” Tanya Julia.
Mendengar hal itu, Ren tersenyum dengan menyindir kearah Julia dan menjawab dengan nada acuh tak acuh.
“Karena saya rasa tidak perlu untuk mengeluarkannya, kurikulum dari Academy untuk kelas dua baru akan mempelajari dasar dari sub class, saya hanya mengikuti standar dari Legion Academy.”
“Memang benar soal hal itu, namun bukankah akan lebih mudah untuk menaikan peringkat tim kita jika kamu memberitahu saya atau kaptenmu soal subclass mu?”
“Lalu Anda menyarankan untuk bergantung kepada saya? Bukannya itu merupakan tanggung jawab Olivier sebagai Kapten untuk menjadi panutan dan pemimpin dari tim sigma?”
“Baik saya mengerti, saya tidak akan menyanyakan lebih lanjut mengenai hal itu. Itu saja yang ingin saya bicarakan kepadamu, kamu boleh kembali.” Jawab Julia.
Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan meninggalkan tempat itu. Hembusan angin sore menyapu rambut hitamnya, sementara bayangan panjangnya terulur di sepanjang lorong Academy. Langit mulai meredup, warna jingga perlahan berganti ungu pucat. Ren berjalan pelan, pikirannya masih bergulat dengan apa yang baru saja terjadi. Namun langkahnya tertahan ketika ia melihat seseorang berdiri di lorong Academy.
Seorang gadis berambut pastel lembut dan berkilau seperti benang perak di bawah cahaya senja menatapnya dengan mata hijau giok yang memantulkan ketenangan sekaligus kecemasan. Ren mengerutkan kening, tak yakin dengan apa yang dilihatnya.
“Altheya? apa yang dia lakukan di sini?” ujarnya dalam hati.
Begitu jarak mereka semakin dekat, Altheya menegakkan tubuhnya dan menatap Ren dengan tatapan yang sulit diartikan antara khawatir dan menunggu.
“Kau sudah selesai dengan Komandan?” tanyanya pelan.
Ren tak segera menjawab. Hanya keheningan yang menggantung di antara mereka, sementara langit senja perlahan diselimuti bintang pertama malam itu. Udara terasa dingin, namun tenang seolah dunia sengaja menahan napas menunggu percakapan di antara keduanya.
“Iya,” akhirnya Ren menjawab lirih, matanya menatap lurus pada gadis itu. “Dan… apa yang kamu lakukan di sini, Altheya?”
Gadis elf itu tersenyum tipis, angin senja mengibaskan helaian rambut pastelnya yang lembut seperti serpihan cahaya.
“Saya sedang menunggumu,” jawabnya dengan nada tenang, namun di balik suaranya terselip sesuatu entah kegelisahan atau keberanian yang dipaksakan. “Bisakah saya meminta sedikit waktumu, Ren?”