*Altheya pov
Dalam tatapan sang peri yang mengikuti kepergian Ren, satu hal perlahan tumbuh di dalam dirinya hal yang bahkan tak berani ia akui. Ada sesuatu yang berbeda dalam langkah lelaki itu… sesuatu yang membuat hatinya bergetar tanpa alasan yang jelas. Di balik punggung dingin dan sikap acuhnya, Altheya bisa merasakan ada luka yang belum sembuh. Luka yang begitu dalam, hingga membuat Ren tampak seperti bayangan manusia yang kehilangan arah, namun tetap memilih untuk berjalan.
Dan di sanalah, di kedalaman perasaan yang samar, tumbuh sebuah benih kecil yang tak bisa ia kendalikan rasa tertarik. Bukan karena belas kasihan, bukan pula rasa ingin tahu… melainkan sesuatu yang lebih halus, lebih lembut, yang datang dari lubuk hati seorang elf yang mulai melihat manusia dengan cara yang berbeda.
“Dia… tidak seperti manusia lain dari kekaisaran”.
Pikiran itu berbisik dalam benaknya, menolak untuk pergi. Ren mungkin pernah dicap sebagai kriminal, seorang pencuri artefak kerajaan, sosok yang seharusnya dijauhi dan dicurigai. Namun di balik sorot matanya, mata yang kelam tapi jujur Altheya melihat sesuatu yang lain. Sebuah sisa kecil dari rasa keadilan… secercah cahaya yang masih bertahan meski hampir padam. Dan untuk alasan yang bahkan tidak bisa ia pahami, Altheya ingin melindungi cahaya itu.
Ia ingin menjaga agar bara kecil dalam diri Ren itu tidak padam sepenuhnya, seperti saat Ren melindunginya dari Aldrich bulan lalu, dengan keberanian yang tidak pernah ia duga akan datang dari seseorang yang dicap sebagai penjahat. Angin malam berhembus lembut, membawa aroma bunga liar yang menari di udara taman. Altheya menutup matanya perlahan, membiarkan ketenangan itu menyelimuti dirinya.
Di balik keheningan malam, perasaan yang tak ia mengerti mulai tumbuh pelan seperti tunas kecil yang menembus tanah setelah musim dingin yang panjang. Tanpa sadar, ia mulai terikat… pada manusia yang justru berusaha menjauh darinya.
“Ren…” bisiknya pelan, nyaris seperti doa yang tersapu angin.
“Kamu sudah menolong saya waktu itu… dan saya melihat pantulan cahaya Selune dari mata silvermu.”
Ia tersenyum samar, senyum yang tulus dan hangat, meski tak ada seorang pun di sana untuk melihatnya.
“Maka kali ini, biarkan saya yang menolongmu,” lanjutnya lembut. “Dan biarkan saya berdiri di pihakmu…”
Lalu, dengan nada yang lebih ringan, hampir seperti gumaman yang mengandung tawa kecil, ia menirukan suara Ren dengan manja,
“‘Nggak butuh alasan untuk menolong seseorang,’ kan begitu katamu waktu itu? Hihih…”
Senyum manis terukir di wajahnya saat kenangan itu kembali. Bayangan Ren dengan mata silvernya yang dingin terlukis jelas di benaknya. Bagi Altheya, malam itu terasa begitu indah… Cahaya bulan purnama menggantung tinggi, memantulkan sinar lembut di danau kecil dekat taman, menciptakan pantulan perak yang menari di permukaan air. Dan di sanalah, untuk pertama kalinya, Altheya menyadari bahwa setiap kali ia melihat cahaya bulan Selune… ia akan selalu teringat pada mata silver milik Ren mata yang menyimpan kesedihan, keteguhan, dan secercah harapan yang ingin ia jaga, meski sang pemiliknya sendiri berusaha menolak dunia.
***
Ren Pov
Keesokan paginyam, langit di atas Legion Academy tampak jernih, diselimuti cahaya matahari lembut yang menembus jendela besar kelas Ren. Namun, keindahan itu tampaknya tidak berlaku bagi penghuni meja paling pojok dekat jendela tempat Ren dan Rose duduk bersebelahan tanpa benar-benar saling bicara.
Sudah lebih dari sebulan, suasana di antara mereka membeku seperti musim dingin yang enggan mencair. Rose bahkan nyaris tak pernah menyapanya, hanya sekadar tatapan singkat setiap kali tugas kelompok memaksa mereka berinteraksi. Ren, yang biasanya tak peduli pada pandangan orang, entah kenapa kali ini merasa terganggu oleh keheningan itu. Suara lembut notifikasi handphone Rose memecah kesunyian. Ia menatap layar sihir yang muncul di hadapannya, lalu mengerutkan alis dalam-dalam.
“Poin masuk?” gumamnya, sebelum menatap Ren tajam. “Apa maksudnya ini?”
Ren tetap ke depan kelas tanpa terganggu oleh nada tajam Rose.
“Itu untuk yang bulan lalu,” katanya datar. “Gue nggak suka berhutang.”
Rose membeku sejenak, sebelum matanya menyipit tajam.
“Serius, Ren? Lu bayar hutang lu pakai poin yang lu dapet dari ngalahin gue di pertandingan bulan lalu?”
Nada suaranya penuh amarah dan luka yang belum sembuh.
Ren baru mengangkat kepalanya, menatap Rose dengan tatapan acuh tak acuh.
“Poin tetap poin,” ujarnya tenang. “Nggak penting dari mana datangnya. Urusan pertandingan dan urusan utang itu dua hal yang berbeda.”
Rose mengerang pelan, jemarinya mengepal di atas meja kayu. Aura kemarahan samar keluar dari tubuhnya cukup untuk membuat beberapa kertas di meja ikut bergetar.
“Lu bener-bener nggak punya hati, Ren,” desisnya tajam. “Lu pikir semua hal bisa diselesain kayak transaksi dingin gini?”
Ren tetap tidak bereaksi. Tatapannya kosong dengan suaranya yang datar
“Terserah lu mau anggap apa,” katanya akhirnya. “Yang jelas, kita impas sekarang.”
Kata-kata itu jatuh perlahan, tapi menusuk dalam. Rose menatapnya, pupil matanya bergetar seolah menyadari sesuatu yang lebih menyakitkan daripada sekadar amarah bahwa Ren benar-benar mencoba memutus hubungan mereka. Seakan tak cukup dengan jarak yang selama ini terbentuk, kini Ren sendiri yang menarik garis batas di antara mereka. Rose mengepalkan tangannya lebih kuat, menahan kemarahan dalam dirinya.
“…Lu selalu punya alasan buat nyakitin orang lain, ya,” katanya akhirnya, suaranya menurun tapi tajam seperti pecahan kaca. “Emang segitu nggak sukanya lu sama gue… atau kakak gue?”
Ren menghela napas perlahan, menatap keluar jendela. “Anggap aja begitu,” jawabnya datar.
Rose mendecak pelan, suaranya penuh getir. Ia memalingkan wajah dengan kesal. Tangannya membuka kembali buku di hadapannya, meski jelas matanya tak benar-benar membaca.
“Selamat atas kemenangan lu,” katanya tanpa menatap Ren. “Gue… seneng lu nggak jadi dikeluarin.”
Ren tak menjawab. Hanya diam, membiarkan kata-kata itu tenggelam bersama suara hiruk-pikuk pagi di kafetaria. Namun di balik diamnya, hatinya sedikit bergolak. Ada sesuatu di nada Rose tadi bukan marah, bukan sinis, tapi tulus. Dan justru itu yang membuatnya merasa… tidak nyaman. Ia menatap Rose yang kini bersandar di kursinya dengan wajah keras kepala, lalu memalingkan pandangan.
“Rose…” gumamnya lirih, hampir tak terdengar. “Lu harusnya nggak peduli sama orang kayak gue.”
Tapi tentu saja, Rose tak mendengarnya. Yang tersisa hanya keheningan diantara dua orang tersebut.
Beberapa menit kemudian, pintu kelas 2-2 terbuka dengan bunyi dan wali kelas mereka Selphine Farron, memasuki kelas.
“Selamat pagi semuanya,” sapanya dengan lembut. Suaranya bergema hingga ke sudut ruangan.
Serentak para siswa berdiri dan menjawab dengan semangat,
“Selamat pagi, Instruktur Selphine!!”
Selphine tersenyum dan melanjutkan.
“Wah, kalian bersemangat sekali pagi ini,” katanya sambil menaruh map berkas yang dia bawa di meja instruktur.
“Ada pengumuman dari pihak akademi. Ujian kalian minggu depan akan dilaksanakan dalam bentuk Tes Survival selama tiga hari di Hutan Utara.”
Sekeliling ruangan mendadak ramai. Suara bisik-bisik terdengar dari berbagai arah.
“Test survival?”
“Tiga hari? Di hutan utara?”
“Bukannya itu tempat latihan untuk kelas tiga?”
Selphine menepuk meja pelan, menenangkan keributan.
“Tenang,” katanya dengan nada yang mengandung senyum samar. “Ujian ini untuk menilai kemampuan adaptasi dan strategi kalian. Poin yang kalian dapatkan akan dihitung sebagai poin individu, bukan poin tim.”
Beberapa siswa langsung bereaksi keras, sebagian lainnya justru terlihat antusias. Namun Selphine melanjutkan, menatap murid-muridnya dengan sorot mata tajam dengan penuh keyakinan.
“Tapi bukan berarti kalian dilarang bekerja sama. Ingat, bertahan hidup bukan hanya soal kekuatan… tapi juga soal siapa yang bisa kalian percayai. Dan ingat hasil ujian ini akan dimasukkan ke dalam nilai akhir kalian.”
“Baik, Instruktur!!” jawab seluruh kelas serempak.
Namun di antara semua suara itu, Ren hanya duduk diam di kursinya. Matanya menatap papan tulis sihir di depan kelas, di mana peta Hutan Utara mulai terbentuk dari cahaya biru transparan. Gunung-gunung kecil, garis sungai, dan titik-titik merah yang menandai zona bahaya perlahan muncul, seperti peta medan perang yang ia kenal terlalu baik.
Tapi pikirannya berada jauh dari sana. Suara Selphine terdengar samar di telinganya, tenggelam oleh gumaman batinnya sendiri.
“Ujian bertahan hidup selama tiga hari, berarti kali ini gue nggak bisa langsung keluar di hari pertama kayak biasanya.”
Ia menatap jari-jarinya sendiri yang bertaut di atas meja.
“Identitas gue sebagai kapten dari Thistle udah kebuka waktu pertandingan bulan lalu… pihak Academy pasti lagi ngawasin gue. Kalau gue sengaja kalah lagi, mereka bakal curiga.”
Ren menghela napas dalam, suaranya nyaris tak terdengar. Sorot mata silvernya memantul lembut di cahaya sihir yang berkedip dari papan tulis.
“Ya sudah lah… masih ada satu minggu sebelum ujian. Gue bisa pikirin cara ngakalinnya nanti.”
Dari sudut pandang luar, ia tampak seperti murid biasa yang sedang termenung, tapi di balik ketenangan itu, pikirannya berputar cepat mencari celah, menghitung risiko, dan menimbang kemungkinan. Seperti prajurit yang tak pernah benar-benar meninggalkan medan perang, hanya berpindah dari pedang ke pena, dari darah ke strategi.