Ren terbangun dengan napas tersentak. Cahaya putih lembut menusuk matanya, membuatnya mengerjap beberapa kali sebelum pandangannya perlahan menjadi jelas. Langit-langit berwarna putih ukiran lambang Legion Academy tampak di atasnya yang merupakan tempat asing baginya.
Udara di sekitarnya mengandung aroma herbal dan logam dingin khas ruang kesehatan Academy. Tirai putih bergoyang perlahan diterpa angin dan dia menyadari langit sudah berwarna hitam gelap yang mendakan hari sudah malam. Ren berusaha bangun, tapi nyeri tajam di kepalanya membuat tubuhnya kembali terhempas ke bantal.
“Kamu sudah bangun?.”
Suara lembut terdengar dari sampingnya. Ren menoleh pelan. Sosok Altheya berdiri di sisi ranjangnya, rambut pastel miliknya jatuh sedikit berantakan, matanya yang biasanya teduh kini dipenuhi kekhawatiran. Ia masih mengenakan seragam Academy, tapi tampak jelas penampilannya berantakan.
“Kamu sempat pingsan selama empat jam,” ujarnya pelan sambil memeriksa alat medis di samping tempat tidurnya.
“Kami sempat khawatir kamu tidak akan bangun, Ren.”
Ren mengerjap, mencoba mengingat. Potongan suara, bisikan lembut, dan cahaya putih samar berputar di kepalanya, tapi semuanya kabur seperti mimpi yang menolak untuk diingat.
“Bagaimana saya bisa sampai di sini?” tanyanya akhirnya.
“Setelah kamu jatuh, aku dan Instruktur Selphine membawamu kemari. Setelah kamu roboh sambil memegangi kepalamu, tiba-tiba kamu pingsan di ruangan penelitian instruktur Selphine.” Altheya berhenti sejenak, menatap Ren dalam-dalam. “Apa kamu ingat sesuatu sebelum kamu pingsan?”
Ren terdiam. Ia menatap tangannya masih terasa sedikit bergetar. Bayangan cahaya putih dan suara perempuan itu terlintas lagi di pikirannya. Temukanlah kebenarannya… Aku akan selalu bersamamu…
Sebuah suara yang dulu pernah dia ingat saat dia gagal dalam misinya kembali terdengar setelah empat tahun lamanya. Suara yang samar, namun jelas… seolah waktu tak pernah benar-benar memisahkan mereka.
“Jadi… suara itu benar-benar ada? Itu bukan cuma mimpi, atau halusinasi yang gue alami…” pikirnya dalam hati.
Ia menatap Altheya yang masih berdiri di sisi ranjangnya, menunggu jawaban dengan tatapan lembut.
Ren menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya berkata dengan suaranya yang masih serak, “Enggak. Saya… nggak ingat apa-apa. Entah kenapa, waktu lihat gambar itu, kepala saya tiba-tiba terasa pusing. Saya juga nggak tahu alasannya.”
Ia tahu, jika ia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, tentang suara itu, tentang doa kuno yang bergaung di kepalanya, Kekaisaran pasti akan segera menariknya dari Legion Academy dan menjadikannya bahan penelitian. Ia tidak bisa membiarkan itu terjadi.
Altheya menatapnya dalam-dalam dan pada akhirnya, gadis itu hanya menghela napas pelan dan berkata lembut,
“Baiklah… kalau kamu merasa nggak enak badan atau ada sesuatu yang aneh, tolong beritahu saya.”
Ren hanya mengangguk dan memberi senyum tipis kepadanya. Altheya pun beranjak, langkahnya meninggalkan aroma wangi herbal yang samar, perlahan menghilang di balik pintu ruang kesehatan.
Kini hanya Ren seorang diri.
Ia menatap ke luar jendela langit malam sudah mulai menggantung di atas menara Academy, dihiasi ribuan bintang yang redup di balik cahaya bulan. Cahaya itu memantul di matanya yang tampak sendu.
“Jadi… kamu masih ada di luar sana,” gumamnya lirih, nyaris tak terdengar. “Empat tahun, dan suara itu masih memanggil gue… tapi kenapa sekarang?”
Angin malam berembus pelan, membawa kesejukan yang samar… bersama perasaan hampa yang sulit dijelaskan. Di dada Ren, sesuatu terasa berdenyut lembut ritme asing yang bukan luka, bukan pula rasa sakit. Lebih mirip… panggilan lama yang perlahan terbangun dari tidur panjangnya.
Seketika, pikirannya kembali pada reruntuhan dalam foto itu. Pada pintu batu yang tak bisa dibuka siapa pun. Ada sesuatu yang bereaksi di dalam dirinya ketika melihatnya, sesuatu yang seolah mengenal tempat itu jauh lebih dalam dari sekadar legenda. Dan di lubuk hatinya, ia tahu… semua ini pasti berhubungan dengan artefak yang ia curi empat tahun lalu, artefak yang kemudian menghilang tanpa jejak, lenyap bersamaan dengan kehidupannya yang lama.
Suara langkah tergesa memecah kesunyian ruang kesehatan. Ketukan hak sepatu menghantam lantai marmer, cepat dan berat, hingga akhirnya pintu terbuka lebar dengan hentakan keras. Udara malam yang dingin langsung menyusup masuk. Ren menoleh pelan. Sosok perempuan dengan rambut pirang Panjang yang berantakan dan basah oleh keringat berdiri di ambang pintu. Nafasnya tersengal, dengan mata Saphirenya memantulkan kecemasan menatapnya.
Wanita itu adalah Julia Brown, komandan dari tim Sigma.Wanita yang selama ini dikenal tegas, keras, dan tak pernah memperlihatkan kelemahan sedikit pun di depan bawahannya. Namun kali ini, Ren melihat sesuatu yang berbeda di mata Julia. Kekhawatiran dan ketakutan yang tidak ditutupi oleh sikap dingin atau kebohongan. Sosok yang biasanya tegak dan tak tergoyahkan itu kini tampak begitu rapuh di hadapannya.
“Ren… syukurlah kamu baik-baik saja,” ucap Julia dengan suara berat di antara napasnya yang masih tersengal. Ia melangkah mendekat, pandangannya menyapu tubuh Ren dari ujung kaki hingga kepala, seolah ingin memastikan bahwa Ren benar-benar masih hidup dan utuh.
“Apa yang sebenarnya terjadi denganmu?” lanjutnya dengan suara penuh kecemasan. “Wali kelasmu datang keruangan saya dengan wajah panik, bilang kamu tiba-tiba jatuh pingsan… bahkan sampai kehilangan kesadaran total. Apa yang sebenarnya kamu lakukan?”
Tatapan Julia bergetar saat menatapnya campuran antara lega dan kekhawatiran yang sulit disembunyikan. Namun Ren hanya diam, pandangannya kosong, seolah menolak untuk membalas emosi itu.
“Wanita ini… bisa menunjukkan tatapan seperti itu?” pikirnya dalam hati, nyaris tak percaya melihat sisi lain dari sang komandan yang selama ini dikenal dingin dan keras.
Ia menarik napas pelan sebelum akhirnya berbicara dengan suaranya datar dan nyaris tanpa ekspresi.
“Mohon maaf telah membuat Anda khawatir, Komandan. Tapi Anda tidak perlu cemas… mungkin saya hanya kurang beristirahat, itu saja.”
Kalimat itu meluncur dengan tenang, terlalu tenang seolah ini bukan sesuatu yang melibatkan Julia sebagai walinya. Julia menatapnya lama, nyaris tidak berkedip. Ada keheningan berat yang menggantung di antara mereka. Lalu, perlahan ekspresi di wajah wanita itu berubah. Dari keterkejutan, menjadi sedih… dan akhirnya kecewa.
Tentu saja Julia tahu Ren berbohong. Apa yang baru saja ia dengar dari Selphine bagaimana Ren tiba-tiba mengerang kesakitan, memegangi kepalanya hingga kehilangan kesadaran yang jelas bukan sekadar kelelahan biasa. Itu sesuatu yang lain, sesuatu yang bahkan Julia sendiri tidak berani bayangkan.
Ia menundukkan pandangannya sejenak, berusaha menenangkan gejolak di dadanya. Namun saat tatapan saphire itu kembali menatap Ren, sorotnya penuh pilu campuran antara kesedihan dan ketakutan kehilangan seseorang yang berarti baginya. Sebelum ia sempat berkata apa pun, sebuah suara lantang dan penuh amarah memecah keheningan ruangan.