Refulgence of The White Wings Act II

Dimas Nugraha
Chapter #5

Chapter 4 : Rahasia yang Tak Lagi Sunyi

Keesokan harinya, di sebuah ruangan kantor kecil milik Moonless Café, aroma kopi panggang memenuhi udara. Cahaya matahari siang hari itu menembus kaca besar di sisi ruangan, menciptakan pola keemasan di lantai kayu yang berdebu lembut. Ren duduk bersandar di kursinya, pandangannya tenang namun tajam. Uap hangat dari secangkir kopi hitam di hadapannya menari pelan ke udara, sementara suara denting sendok dari barista di luar ruangan menjadi satu-satunya nada yang mengisi keheningan.

Hari ini adalah hari libur di Academy kesempatan langka bagi mereka untuk bernapas tanpa tekanan. Altheya duduk di seberangnya, memegang cangkir teh yang sudah mulai mendingin. Tatapan matanya lembut tapi waspada, seperti seseorang yang tahu ada hal besar akan dibicarakan.

“Jadi, ada urusan apa kamu meminta saya bertemu, Ren?” tanya gadis elf itu akhirnya dengan penuh rasa ingin tahu.

Ren menatapnya sejenak sebelum menjawab, pandangannya tak berpaling sedikit pun.

“Saya cuma… punya hutang penjelasan sama kamu, Altheya,” ucapnya pelan. “Saya udah tahu situasi kamu selama di Academy, dan rasanya nggak adil kalau cuma saya yang tahu semuanya.”

Ucapan itu menggantung di udara, membawa suasana yang tiba-tiba terasa berat dan sunyi.

Altheya menatap Ren dalam diam, matanya mencoba menembus ketenangan yang selalu ia tunjukkan.

“Saya nggak maksa kamu kok, Ren… tapi apa kamu yakin?” tanyanya pelan, suaranya terdengar ragu namun juga penuh perhatian.

Ren hanya tersenyum tipis. Tatapannya lembut, menenangkan, namun ada sesuatu yang tersembunyi di balik sorot matanya, sesuatu yang membuat dada Altheya terasa sesak tanpa alasan. Jantungnya berdetak cepat, tak mampu menolak tatapan itu.

“Nggak apa-apa,” ucap Ren akhirnya, suaranya dengan suaranya yang tenang. “Saya juga harus minta maaf… karena sikap yang mulia putri Giana waktu itu. Saya tahu, dia sempat mengancam kamu dan kapten Olivier.”

Altheya terdiam. Sebuah rasa sakit menyengat kedalam dadanya, namun dia tidak bisa menahan rasa penasaran dalam dirinya.

“Jadi, emang bukan sekadar kenalan ya?” tanyanya, mencoba menyembunyikan rasa sakit dalam dirinya dan rasa ingin tahunya dengan nada ringan.

Ren menunduk sedikit, bibirnya melengkung membentuk senyum samar, senyum yang seolah berasal dari masa lalu. Cahaya siang yang menembus jendela café memantul di matanya, membuatnya tampak jauh… tenggelam dalam ingatan yang sepenuhnya ia kenang.

“Itu hanya masa lalu…” suara Ren terdengar pelan, nyaris seperti bisikan yang terlempar di antara dengung lembut café. Tatapannya jatuh ke permukaan cangkir kopi yang sudah mendingin, seolah di sanalah kenangan pahit itu terpantul.

“Saya nggak berhak berdiri di samping Yang Mulia lagi… tidak setelah apa yang terjadi.”

Nada suaranya datar, tapi di baliknya ada kesedihan yang dalam, terlalu dalam untuk disembunyikan dengan sekadar senyum tipis. Sejenak, waktu seperti berhenti bagi Altheya. Ia menatap Ren, dan di matanya ia menangkap sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Sebuah luka yang membekas begitu dalam.

Dada Altheya terasa sesak. Ia ingin mengatakan sesuatu, apapun untuk menenangkan Ren, untuk membuatnya tahu bahwa tak semua dosa masa lalu harus ia tanggung sendirian. Tapi sebelum kata-kata itu sempat keluar, suara pintu yang terbuka pelan memecah keheningan di antara mereka.

Ckreeeak

Dua sosok wanita memasuki ruangan. Julia Brown berdiri di depan, dengan gaun berwarna hitam yang sangat cocok dengan tubuh proporsionalnya, Ren sempat merasa heran mengenang dirinya tidak mengingat dirinya mengundang Julia ke sebuah pesta. Di belakangnya, Rose mengikuti dengan ekspresi datar yang sulit dibaca, dia mengenakan sebuah gaun berwarna Turqoise.

Ren segera mendongak, tatapannya bertemu dengan mata saphir Julia yang menatapnya dengan campuran lega dan khawatir. Sementara itu, Altheya spontan berdiri, menyambut kedatangan mereka dengan sopan. Suasana di café itu berubah. Udara yang semula hangat oleh aroma kopi dan cahaya matahari siang itu kini terasa menegang. Julia melangkah perlahan ke arah meja mereka dan berkata dengan suara lembut.

“Maaf sudah membuat kalian menunggu.”

Ren hanya mengangguk pelan, menatap komandannya dengan tatapan penuh arti. Ia tahu, mulai dari pertemuan ini masa lalunya yang selama ini ia sembunyikan mungkin tidak akan bisa ia jaga selamanya. Namun Julia menatap Altheya dengan seksama secara teliti dengan seksama dari ujung kepala hingga ujung kakinya, memeperhatikan hal itu, Altheya yang mengenakan seragamnya seperti Ren merasa tidak nyaman dengan tatapan dari komandannya.

“Baik, kalian pasangan yang cukup unik… Saya tau kalian anak-anak bermasalah, tapi saya rasa kalian cocok satu sama lainnya,” ujar Julia.

Mendengar hal itu Ren dan Altheya, memiringkan kepalanya dengan binggung, sementara Rose menghela nafasnya dengan keras.

“Saya tau ini terlalu tiba-tiba, tapi saya merasa sangat senang kamu akhirnya jujur kepada saya Ren. Sebagai wali kamu di Academy saya tidak keberatan dengan Keputusan kamu.” Lanjut Julia.

“Tunggu komandan ... apa maksud Anda?” tanya Ren.

“Tentu saja, sebagai wali kamu saya menyetujui hubunganmu dengan Altheya, kamu mungkin tertutup dan ngga bisa jujur sama saya, tapi saya senang akhirnya kamu mengakui saya sebagai wali kamu.”

“Tunggu komandan… Saya rasa Anda salah pah-“

Namun sebelum Ren selesai, Julia memotongnya dengan cepat.

“Altheya, sebagai wali dari Ren... saya tau anak ini memang bermasalah, tapi tolong jaga dia.” Julia menundukan kepalanya kepada Altheya yang membuat wajahnya memerah karena panik secara tiba-tiba.

“Tung… Ak… heh… Ren… Ada apa ini!?” serunya kepada Ren.

“Komandan Anda benar-benar salah paham,” ujar Ren sambil menepuk keningnya.

“Salah paham?” tanya Julia dengan memiringkan kepalanya.

“Saya meminta Altheya untuk menghubungi Anda untuk menuju kesini karena Handphone saya di sadap oleh kekaisaran, makanya saya memintanya untuk mengirimkan lokasi tempat ini kepada Altheya kemarin saat dia kembali ke ruangan saya.”

“A… apa?” Wajah Julia sontak memerah karena malu.

Sementara Rose mengehela nafasnya dengan keras seolah dirinya sudah menyerah menghadapi kakanya.

“Kan Gue udah bilang ka… dari semalem gue udah bilang… Ini bukan wawancara pernikahan atau minta restu ke lu.”

Mendengar kalimat itu, wajah Julia seketika memerah hebat. Untuk sesaat, pikirannya langsung melayang pada kemungkinan yang sama sekali berbeda dari kenyataan. Ia tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan salah paham sedemikian parah.

Semalam, Altheya menelponnya dengan suara serius, mengatakan bahwa ia dan Ren ingin berbicara dengannya secara langsung. Julia, dengan nalurinya yang terlalu cepat berasumsi, langsung menyimpulkan satu hal, bahwa dua orang itu akhirnya ingin membawa hubungan mereka ke tahap yang lebih serius. Sebelumnya mereka terlihat akrab satu sama lainnya, dan bahkan Altheya membawa dan bahkan merawat Ren saat dirinya pingsan kemarin.

Dengan penuh semangat dan sedikit kegugupan, ia bahkan menyeret adiknya, Rose, pagi-pagi buta dari tempat tidur untuk menemaninya dengan alasan sebagai perwakilan keluarga Ren, seperti layaknya wali pengganti seorang ibu yang akan merestui hubungan anaknya.

Lihat selengkapnya