Refulgence of The White Wings Act II

Dimas Nugraha
Chapter #6

Chapter 5 : Kebenaran yang menyakitkan bagian (1)

Suasana di ruangan itu perlahan berubah. Udara yang semula hanya dipenuhi aroma kopi dan teh panas kini terasa berat menekan dada siapa pun yang berada di dalamnya. Tatapan mata Ren bukan lagi sekadar dingin dan datar seperti biasanya. Ada sesuatu yang lain di sana… sesuatu yang selama ini terkubur jauh di dasar jiwanya. Perlahan, sorot mata perak itu mulai berkilau tajam, menyala oleh tekad, amarah, dan dendam yang telah ia pendam selama empat tahun penuh. Dendam pada pada kekaisaran yang menghancurkan segalanya.

Wajah Ren tak lagi tenang. Bibirnya menegang, rahangnya mengeras, dan sorot matanya memantulkan kilau yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Aura yang dulu hanya tersirat kini terasa jelas menekan udara di ruangan itu seperti badai yang tertahan di ambang ledakan. Bagi Julia, Rose, dan Altheya… itu bukan lagi Ren yang mereka kenal di Academy.

Yang mereka lihat kini adalah sosok lain dingin, penuh dengan kebencian dan kemarahan .Tekanan yang memancar darinya begitu nyata, membuat Rose tanpa sadar menelan ludah, sementara Altheya merasakan hawa sihir yang samar bergetar di kulitnya. Bahkan Julia, sang komandan yang selalu tegas dan tenang, kini bisa merasakan bulir keringat dingin menetes di pelipisnya. Lalu, dalam keheningan yang mencekam itu, Ren mulai berbicara.

Suaranya rendah… namun setiap katanya menusuk seperti bilah baja yang ditempa dengan rasa sakit.

“Saya seorang yatim piatu,” ujarnya pelan. “Saya nggak tahu bagaimana rasanya hangatnya keluarga… nggak tahu bagaimana rasanya punya seseorang yang bisa dijadikan sandaran. Sejak kecil, saya cuma tahu satu hal yaitu untuk bertahan hidup.”

Ia berhenti sejenak, menatap kosong ke arah cangkir di depannya. Uap tipis masih mengepul dari sana, menari di antara bayangan wajahnya yang terpantul samar.

“Di saat itulah saya bertemu dengan Damian. Orang pertama yang bisa saya panggil teman…”

Julia menunduk perlahan mendengarkan kisah hidup Ren yang sekali lagi dia dengar setelah sebelumnya di ceritakan oleh Theresa. Altheya menatapnya dalam diam, dirinya sudah tahu arah kisah ini dari cerita Ren sebelumnya. Hanya Rose yang tampak benar-benar terdiam dengan matanya melebar, menatap Ren tanpa berkedip. Untuk pertama kalinya, ia mendengar langsung cerita hidup dari pria yang selama ini ia anggap dingin dan keras kepala itu.

“Tapi… bahkan di tengah kegelapan dan keterpurukan itu,” suara Ren terdengar pelan, nyaris seperti bisikan yang terpantul dari masa lalu, “dunia masih menyisakan sedikit cahaya untuk saya dan Damian.”

Tatapan matanya melunak, seolah bayangan masa itu kembali hidup di hadapannya.

“Seorang penyihir dari kekaisaran… menemukan kami.”

Julia terangkat sedikit dari duduknya, sementara Rose menahan napas.

“Awalnya saya dan Damian merasa waspada,” lanjut Ren, “kami pikir dia hanya salah satu dari banyak bangsawan yang datang untuk memanfaatkan kami. Tapi anehnya, wanita itu tidak seperti mereka. Dia menatap kami bukan sebagai sampah dari jalanan… melainkan sebagai manusia.”

Ren tersenyum samar, namun senyuman itu getir seperti luka lama yang terbuka kembali.

“Ada sesuatu dalam tatapannya… kasih sayang. Sesuatu yang nggak pernah saya rasakan sebelumnya.”

Ia menghela napas perlahan, menatap kosong pada cangkir kopi yang kini mulai kehilangan asapnya.

“Wanita itu akhirnya membawa kami bersamanya. Ia membuka pintu yang tak pernah kami tahu ada .Sebuah panti asuhan kecil di pinggiran ibu kota. Di sanalah, untuk pertama kalinya, saya tahu apa artinya punya tempat untuk pulang…”

Hening kembali mengisi ruangan. Julia menunduk, Altheya menggenggam tangannya di atas pangkuan, dan Rose hanya menatap Ren tak mampu berkata apa pun.

“Di sanalah… untuk pertama kalinya, saya merasakan apa itu kebahagiaan.”

Suara Ren melemah, namun di balik kelembutan itu ada getaran yang dalam.

“Saya bertemu dengan teman-teman saya… orang-orang yang akhirnya bisa saya sebut keluarga. Semuanya yatim piatu, sama seperti saya.”

Ia menatap jauh, seolah bayangan wajah-wajah itu masih hidup dalam ingatannya.

“Ada anak yang ditinggalkan oleh orang tuanya di depan pintu panti asuha … Ada yang diselamatkan dari kultus sesat, tubuhnya penuh bekas luka karena dijadikan bahan percobaan… Ada juga yang kehilangan seluruh desanya karena serangan bandit.”

Ren berhenti sejenak, napasnya terdengar berat.

“Kami semua sama… anak-anak yang tidak diinginkan kekaisaran, yang dibuang oleh dunia.”

Sebuah senyum kecil muncul di wajahnya, getir tapi tulus.

“Namun di antara kegelapan itu, ada dua orang yang menyambut kami dengan tangan terbuka Profesor Theresa dan Dr. Connor. Mereka… merawat kami bukan sebagai tanggungan, tapi sebagai anak mereka sendiri.”

Matanya bergetar halus saat mengucapkan nama itu.

“Theresa… selalu memanggil kami dengan lembut, menyuruh kami untuk belajar, tertawa, hidup seperti anak-anak normal. Sementara Dr. Connor… mengajari kami tentang pengetahuan dasar dan bagaimana memahami dunia yang sudah tak mau menerima kami.”

“Untuk pertama kalinya,” ucap Ren dengan suara yang nyaris berbisik, “kami tidak merasa sendirian. Untuk pertama kalinya… saya benar-benar percaya kalau dunia masih punya tempat bagi orang seperti kami.”

Ia terdiam sejenak, menatap kosong ke arah meja di depannya seolah di sana terpantul bayangan masa lalu.

“Saya mengagumi mereka berdua lebih dari siapa pun,” lanjutnya pelan. “Profesor Theresa dan Dr. Connor… mereka adalah cahaya kecil di tengah gelapnya kekaisaran. Di saat semua orang menutup mata terhadap penderitaan kami, mereka justru membuka tangan dan hati mereka.”

Ren menghela napas pelan.

“Saat saya tumbuh dewasa, saya berjanji… kalau suatu hari nanti, saya ingin menjadi seperti mereka. Memberikan cahaya itu kepada orang lain. Saya tidak ingin ada lagi anak-anak yang merasakan kegelapan yang sama seperti yang pernah saya alami.”

Lihat selengkapnya