Tak ada yang bergerak. Julia menutup mulutnya, menahan isak yang hampir pecah. Ia ingin menyangkal, ingin berkata bahwa itu tidak mungkin, bahwa semua ini adalah kebohongan. Namun tatapan Ren tatapan yang tanpa ragu, tanpa kebohongan, dan tanpa ampun menghancurkan semua harapan itu.
Rose hanya bisa menatap kosong ke arah meja, sementara Altheya menggigit bibir bawahnya. Dalam benaknya, nama Professor Theresa bergema seperti doa yang berubah menjadi kutukan. Wanita yang dulu dikenal sebagai penyihir terbaik kekaisaran… kini menjadi dalang dari dosa terbesar di dalam sejarah mereka. Dan Ren murid yang paling ia banggakan menjadi saksi dan pelaku dari tragedi itu.
“Lu bego!! Itu bunuh diri!!” suara Rose menggema di seluruh ruangan, mengguncang keheningan yang sempat terasa menyesakkan. “Lu tau kan risikonya!? Kenapa masih lu ambil misi bunuh diri itu, hah!?” teriaknya lagi, matanya berair namun suaranya tetap keras, penuh amarah.
Ren hanya menatapnya tanpa bergeming. Tidak ada kemarahan, tidak ada pembelaan. Hanya ketenangan yang membuat semuanya terasa semakin berat.
“Gue tau risikonya, Rose…” ucapnya perlahan, tapi setiap katanya terasa menekan udara di ruangan itu. “Lebih tau dari siapapun… Dan dari semua orang, gue tau siapa orang yang paling gue sakitin…”
Ia berhenti sejenak, menunduk, suaranya nyaris tenggelam dalam keheningan.
“Orang yang sampai sekarang masih nuntut jawaban.”
Tatapan Ren kosong, tapi sarat dengan beban yang tak bisa dijelaskan. Rose yang tadi begitu berapi-api kini hanya bisa terdiam, napasnya memburu, sementara Julia perlahan menunduk dalam diam. Aura di sekitar Ren berubah berat, getir dan seolah masa lalunya kembali menekan dari balik punggungnya. Di sisi lain, Altheya menatapnya lama. Ada sesuatu dalam nada suara Ren yang membuat jantungnya mencengkeras. Kalimat itu… cara Ren mengatakannya… membuat pikirannya teringat pada sesuatu. Atau seseorang.
“Yang mulia… Putri Giana…” gumamnya lirih, hampir tanpa suara.
Ingatan itu menyeruak tiba-tiba percakapan singkat di tama Academy, tatapan Giana yang dipenuhi dengan amarah yang penuh makna saat menyebut nama Ren. Saat itu Altheya tidak terlalu memahaminya, namun kini semuanya mulai tersambung. Potongan-potongan kecil yang dulu terasa tak berarti kini membentuk gambaran yang utuh. Hubungan di antara mereka berdua, sesuatu yang lebih dari sekadar kenangan antara seorang bangsawan dan seorang mercenary. Altheya menunduk pelan, berusaha menenangkan hatinya yang terasa nyeri. Sebuah senyum kecil pahit dan getir muncul di wajahnya.
“Gitu ya…” ujarnya dalam hati. “Pantes aja yang mulia bilang hal itu… ternyata memang ada sesuatu antara kalian berdua.”
Sesak menjalar di dadanya. Ia tahu seharusnya tidak merasa seperti ini, tapi melihat Ren menunduk seperti itu, dihantui oleh rasa bersalah yang begitu dalam, hanya membuat perasaannya semakin sedih.
“Tenang dulu, Rose…” suara Julia terdengar pelan, tapi mengandung tekanan yang cukup untuk membuat adiknya berhenti berteriak. Ia menatap Ren dengan tatapan yang bergetar di antara logika dan keputusasaan. “Professor Theresa bukan orang yang akan melakukan hal itu tanpa alasan. Aku yakin… pasti ada sesuatu di balik semuanya.”
Nada suaranya lembut, tapi juga penuh penolakan. Ia ingin mempercayai kata-kata Ren, tapi hatinya menolak. Sosok Theresa dalam ingatannya , wanita yang hangat, penyayang, sekaligus terlalu baik untuk dikaitkan dengan pengkhianatan terhadap kekaisaran. Julia menggigit bibirnya, berusaha keras menolak kenyataan di hadapan dirinya.
Namun Ren hanya menatapnya dengan mata tenang.
“Memang benar, Komandan…Tapi bahkan saya tidak mengetahuinya.”
Julia membeku. Kata-kata itu sederhana, tapi terasa seperti pukulan keras di dada.
Ren menarik napas perlahan, matanya menatap kosong pada cangkir di depannya, seolah dari sana ia bisa melihat bayangan seseorang yang telah lama pergi.
“Saya nggak pernah mempertanyakan keputusan Professor…” ucapnya lirih. “Saya tahu betapa beliau mencintai negeri ini… bahkan meskipun beliau bukan seorang bangsawan.”
Ruangan itu kembali tenggelam dalam keheningan. Rose menatap Julia yang kini menunduk, menggenggam kedua tangannya erat hingga buku jarinya memutih. Altheya, dari sisi lain, melihat bagaimana ekspresi Ren berubah melembut dan penuh dengan ketegasan. Bagi mereka, jelas sudah apa pun yang dilakukan Theresa, apa pun yang membuatnya dianggap pengkhianat… bagi Ren, itu bukanlah kejahatan. Itu adalah keputusan yang masih ia percayai sepenuhnya, bahkan setelah dunia memusuhinya. Dan di balik tatapan matanya yang kelam, tersimpan keyakinan yang nyaris membunuh dirinya sendiri dan bahwa semua pengorbanan itu tidak boleh sia-sia.
“Karena itu saya harus mencari kebenaran, apa yang sebenarnya diperjuangkan oleh Profesor, dan meneruskan misi terakhir yang diberikan oleh orang tua saya …”
Kata-kata Ren menggantung di udara, berat seperti batu yang baru diturunkan dari punggungnya. Nada bicaranya tertahan dan setiap suku kata menanggung rasa bersalah yang tak pernah ia lepaskan sejak hari itu.
Ia menarik napas dalam, menatap satu per satu wajah yang ada di hadapannya. Mata peraknya menyala tekad yang dipahat dari luka.
“Dan—” lanjutnya, suaranya menukik dalam, “untuk menepati janji saya kepada seseorang.”
Sejenak ia terdiam. Di bibirnya tergurat amarah yang lama dipendam, dan dalam seluruh ruangan itu hanya terdengar detak jam yang seolah memperpanjang jeda itu.
“Kali ini saya tak akan gagal,” ucapnya akhirnya, kata-katanya jatuh seperti sumpahnya kepada dirinya sendiri. “Dan… saya tak akan membiarkan ibu dan ayah mati sia-sia.”