Refulgence of The White Wings Act II

Dimas Nugraha
Chapter #8

Chapter 7 : Bisikan dari Masa lalu

Waktu sudah merambat menuju malam. Di sebuah ruangan bawah tanah yang remang, hanya satu lampu pijar tua menggantung di langit-langit, menebar cahaya kekuningan yang temaram. Dinding batu di sekitarnya basah oleh embun dan udara terasa lembap, seolah menyimpan rahasia yang tak seharusnya diucapkan. Dua sosok duduk berhadapan di tengah ruangan itu. Damian bersandar santai di kursinya, satu kaki diangkat dan diletakkan di atas meja kayu tua yang penuh coretan peta dan dokumen. Asap rokok tipis mengepul di udara.

“Jadi…” katanya sambil menghembuskan napas dan menatap Ren dengan tatapan penuh arti.“Gimana? Untungnya ngga berakhir kacau, kan?”

Ren tak langsung menjawab. Ia menatap lampu pijar di atas kepala, membiarkan cahaya redup itu memantul di mata silver miliknya. Langkah-langkah kecil waktu seperti berhenti sesaat sebelum ia membuka mulut.

“Seenggaknya mereka bukan musuh,” ujarnya pelan, senyum tipis melintas di wajahnya. “Bahkan… mereka menawarkan bantuannya kepada kita.”

Damian mengangkat alis, nada suaranya setengah heran.

“Menarik. Jadi kamu beneran percaya sama mereka?”

Ren terdiam sejenak. Ia menunduk, menatap pergelangan lengan kirinya yang dulu ada sebuah benda yang sekarang sudah tidak dia miliki lagi.

“Percaya?” Ren mengulang kata itu lirih, nyaris seperti gumaman yang terlepas di antara dengung lampu pijar di atas mereka. Senyum getir muncul di bibirnya, samar, seperti senyum milik seseorang yang sudah terlalu sering dikhianati oleh kenyataan.

“Ngga sepenuhnya,” lanjutnya pelan. “Tapi Julia… dia mempercayai Professor Theresa sepenuhnya. Bahkan setelah mendengar kebenarannya sendiri, dia masih menyangkalnya sampai akhir.”

Damian terkekeh dan tertawa mendengar hal itu.

“Wanita itu gila ya?” tanyanya, mencondongkan tubuh sambil menatap Ren dengan setengah heran, setengah geli.

Ren hanya menatap kosong ke arah gelas air di tangannya.

“Sepertinya memang sudah setengah gila… dan putus asa,” ucapnya datar. “Selama empat tahun dia terus mencari kebenaran, menggenggam delusi di kepalanya seolah itu satu-satunya hal yang bisa menyelamatkan hidupnya. Tapi realita…” ia berhenti sejenak, menarik napas tipis, “…lebih menyakitkan daripada pedang manapun.”

Suasana kembali tenggelam dalam keheningan. Suara lampu sihir di atas mereka berderit pelan, seperti detak jam yang menghitung waktu menuju kehancuran. Damian mematikan rokoknya di asbak logam, lalu bersandar, menatap Ren dengan pandangan serius.

“Jadi, gimana selanjutnya?” tanyanya datar.

Ren menatap tembok batu di depannya seolah melihat sesuatu jauh di baliknya, bayangan masa lalu, wajah-wajah yang dulu memanggil namanya dengan kehangatan.

“Selama ini kita bergerak sendirian,” katanya pelan. “Sekarang… kita manfaatkan apa yang mereka tawarkan.”

Suaranya berhenti sesaat, lalu menajam, dingin seperti baja yang baru diasah.

“Tapi kalau mereka menghalangi jalan kita—”

Ia menatap Damian. Silvernya dingin dan tak memantulkan cahaya apa pun.

“—kita tetap akan melangkah maju. Bahkan kalau itu berarti mengangkat pedang kepada mereka.”

Hening menguasai ruangan bawah tanah itu untuk sesaat, sampai Damian terkekeh kecil, menahan tawa getir.

“Lu nggak berubah ya, Kapten,” katanya akhirnya, senyum terbentuk di bibirnya. “Masih aja kayak dulu.”

Ren tidak menjawab, hanya menatapnya sekilas. Dalam tatapan itu tersimpan dua wajah, dua sisi yang bertolak belakang namun sama nyatanya. Selama menjadi Kapten dari Thistle, Ren memang dikenal hangat dan sangat ramah dan baik hati kepada teman-temannya terlebih lagi kepada Giana. Bahkan Ren yang selalu tersenyum dengan hangat, bahkan saat tubuhnya sendiri berlumur darah demi melindungi mereka.

Tapi di balik sosok itu… hidup sesuatu yang lain. Sisi gelap yang lahir dari jalanan kumuh tempat ia tumbuh. Naluri bertahan hidup yang menolak mati, bahkan ketika hatinya sudah hampir hancur. Sisi itu tidak mengenal belas kasihan, tidak mengenal penyesalan. Sisi yang sama yang membuatnya dijuluki Phantom Knight, sang hantu di medan perang yang tak pernah meninggalkan jejak musuh hidup.

Ren menatap sahabatnya itu sekilas. Tatapannya lembut, tapi di balik ketenangan itu, ada sesuatu yang lain, sebuah tekad dingin yang nyaris tak manusiawi. Damian terdiam. Ia tahu, di balik tatapan itu bukan ancaman, melainkan sumpah. Sumpah seorang yang dulu begitu hangat dan juga baik hati kepada siapapun, tapi kini berjalan sendirian di antara bayang-bayang, siap menodai tangannya dengan darah siapa pun yang menghalangi jalannya dalam menemukan kebenarannya.

“Damian,” suara Ren memecah keheningan ruangan itu.

“Gue nemuin jalan keluar dari masalah kita.”

Damian yang sedang menyalakan rokoknya menghentikan gerakannya. Api di ujung korek bergetar seiring sorot matanya menatap Ren dengan heran.

“Jalan keluar?” tanyanya datar.

Ren menatapnya dalam dengan mata silvernya yang memantulkan cahaya lampu.

“Iya. Setelah empat tahun, gue akhirnya nemuin sedikit petunjuk soal kebenaran artefak yang kita curi waktu itu.”

Damian mengangkat alis, lalu menghembuskan asap perlahan.

“Empat tahun, huh? Jangan bilang lu ngomongin artefak sialan itu lagi. Lu tau sendiri, itu udah hampir bikin kita mati.”

Ren tidak menanggapi. Ia hanya mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan.

“Lu masih inget penelitian Dr. Connor, kan?”

“Hmmm…” Damian berpikir sejenak, lalu menggeleng santai.

“Ngga sih. Tiap kali pak tua itu buka mulut, otak gue langsung masuk mode tidur. Lagian semua yang dia omongin kayak dongeng anak-anak, Ren.”

Ren menghela napas panjang sambil menatapnya datar.

“Lu emang tukang molor dari dulu.”

Damian menyeringai. “Dan lu emang suka ngedengerin hal-hal aneh.”

Ren tersenyum tipis, tapi senyum itu cepat memudar ketika ia melanjutkan dengan nada lebih serius.

“Lu inget Dr. Connor pernah meneliti reruntuhan dari abad kegelapan dulu, kan? Tentang sosok pahlawan manusia bernama Caitrynn Althiera.”

Damian menatap langit-langit, mencoba mengingat. “Hmm… iya, kayaknya ada nama itu. Si nenek lampir, Theresa, juga pernah nyebut-nyebut soal dia, kan? Pahlawan wanita yang dapet berkat dari… siapa tuh, naga suci dari benua Auroraven?”

“Tiamat,” jawab Ren pelan. Suaranya menurun, nyaris seperti gumaman.

“Naga suci Tiamat… Sang sayap putih pelindung dari Auroraven. Professor Theresa memang ngga bilang soal detail artefak itu apaan, tapi sepertinya itu berhubungan dengan Caitrynn Althiera dan Tiamat, bukan cuman sekedar relik kekaisaran.”

Damian mengerutkan kening. “Maksud lu?”

Ren menatap Damian tajam. Sorot matanya tidak hanya memantul dari cahaya lampu di ruangan tersebut, tapi juga dari sesuatu yang jauh lebih dalam kenangan yang baru saja terjadi sehari sebelumnya. Sebuah suara… samar namun nyata, memanggil namanya dari balik foto tua yang diperlihatkan oleh Instruktur Selphine.

“Coba lu pikir, Damian,” katanya perlahan, suaranya rendah dan menekan.

“Bukannya aneh? Dalam legenda itu, ras manusia, elf, goliath, dwarf, sampai dragonborn, semuanya bersatu. Mereka membentuk satu aliansi besar di bawah pimpinan Caitrynn Althiera, manusia yang konon dapet berkah dari Tiamat. Bersama-sama, mereka ngelawan invasi iblis di benua ini.”

Ia berhenti sejenak, menatap kosong ke arah langit ruangan tersebut.

“Tapi sekarang? Semua ras itu pecah lagi. Saling curiga, saling bunuh. Kalau dulu mereka bisa bersatu, kenapa sekarang bahkan ngelihat satu sama lain aja udah kayak musuh?”

Damian memperhatikannya diam-diam. Wajah Ren tampak tegang, serius, terlalu serius untuk sekadar teori kosong. Ia memastikan dulu, mencari tanda-tanda gurauan di mata sahabatnya itu… tapi yang ia temukan hanyalah keyakinan dingin.

“Itu cuma legenda, bro,” Damian akhirnya menegaskan sambil mengangkat bahu.

“Cuma dongeng pengantar tidur anak-anak.”

Ren menoleh perlahan dengan pandangannya yang menusuk.

“Lalu darimana asal ceritanya, Damian? Lu pikir Professor Theresa dan Dr. Connor yang ngarang? Nggak masuk akal. Cerita itu udah tersebar di seluruh kekaisaran. Bahkan di perpustakaan ibukota, buku-buku tua yang nyeritain hal sama.  Artinya, sumbernya jauh lebih tua dari mereka.”

Damian menghela napas berat, lalu menyandarkan diri di kursinya.

“Lu yakin nggak terlalu jauh mikirnya? Lu mulai kedengeran kayak si Pak Tua itu lagi, Ren. Lu yakin nggak terlalu jauh mikirnya, Ren? Serius deh, makin lama lu kedengeran kayak si Pak Tua Connor itu,” ujarnya dengan menyindir namun setengah khawatir.

Ren menatapnya. Tatapan itu tenang, tapi dalam dan terlalu dalam untuk diabaikan.

“Kalau Tiamat dan Caitrynn itu beneran ada,” lanjut Damian, suaranya kini sedikit lebih serius, “kemana mereka sekarang? Caitrynn mungkin udah meninggal karena dia manusia. Tapi Tiamat? Naga hidup ribuan tahun. Masa nggak ada satu pun jejaknya?”

Ren menarik napas panjang sebelum menjawab.

“Justru itu yang jadi pertanyaan gue,” katanya pelan. “Kalau legenda itu nyata… kenapa Tiamat nggak pernah disebut lagi dalam catatan mana pun? Dan kenapa kelima ras yang dulu bersatu malah sekarang saling membenci?”

Ia menatap lampu pijar di langit-langit ruangan, sinarnya redup, bergetar pelan.

Lihat selengkapnya