Refulgence of The White Wings Act II

Dimas Nugraha
Chapter #9

Chapter 8: Masa Lalu yang Menuntut Jawaban

Ren Pov

Terik matahari siang memantul di atas arena latihan Legion Academy. Udara terasa hangat, debu berterbangan setiap kali pedang beradu, dan kilatan sihir melesat di udara. Suara benturan, teriakan semangat, dan percikan energi membentuk harmoni khas tempat para calon prajurit menempuh ujian terakhir mereka. Di sisi lapangan tim Sigma berlatih tanpa henti. Altheya duduk bersila di tengah lingkaran sihir berwarna hijau muda. Di sekelilingnya, simbol-simbol penyembuhan dan serangan bergantian menyala. Keringat terlihat menetes di pelipisnya, tapi tatapannya tetap fokus.

Tak jauh darinya, Kieran berlari cepat di antara tiang-tiang latihan. Gerakannya lincah dan nyaris tanpa suara, setiap langkah seperti tarian bayangan. Ia berputar, melompat, lalu mendarat dengan ringan, menggenggam belati kembar yang berkilau di bawah cahaya siang. Di sisi lain, sang kapten, Olivier, menebaskan pedangnya berkali-kali. Suaranya mengiris udara whoosh, whoosh, clang! penuh tenaga, penuh amarah. Setiap ayunan seperti menumpahkan beban yang menekan batinnya. Kilatan tajam di matanya menunjukkan tekad yang tak bisa diukur dengan kata-kata.

Helena masih menembakan sihirnya dengan ceria, dia tidak akan ikut dalam ujian bertahan hidup untuk kelas dua, mengingat dirinya masih berada di kelas satu, namun dirinya juga ikut terbawa suasana itu dan berusaha berlatih lebih keras. Sementara itu, Julia berdiri dengan catatan di tangannya, menatap mereka satu per satu. Rambutnya berayun diterpa angin siang, dan wajahnya serius, namun sesekali ada senyum kecil muncul di bibirnya setiap kali melihat anak-anak didiknya menunjukkan kemajuan. Ia mencatat setiap gerak, setiap detail, seolah waktu ujian sudah di depan mata.

Dan di tepi arena, di bawah bayangan menara latihan, Ren berdiri diam. Tangannya memegang pedangnya, tapi ia belum juga bergerak. Pandangannya tajam, mengamati setiap rekannya dengan seksama antara Altheya, Kieran, Olivier dan Helena. Untuk sesaat, dunia di sekitarnya terasa lambat. Ren menarik napas dalam, menghela perlahan.

Cahaya siang menyorot matanya yang berwarna perak, membuatnya tampak seolah menatap masa depan yang samar. Masa depan yang mungkin akan mempertemukannya kembali dengan kebenaran yang selama ini ia cari… Atau menghapus segalanya yang ia lindungi sekarang. Dengan gerakan tenang, ia akhirnya melangkah maju ke tengah arena.

Bayangannya terpantul di tanah bersama bayangan rekan-rekannya. Empat sosok yang kini berdiri di bawah langit biru empat hari tersisa hingga ujian bertahan hidup di hutan utara, dan juga kesempatan untuk menaikan peringkat mereka. Cahaya matahari siang jatuh di wajahnya, membentuk bayangan panjang yang bertemu dengan bayangan rekan-rekannya di tanah berdebu. Empat sosok berdiri di bawah langit biru empat hari tersisa sebelum ujian bertahan hidup di hutan utara dimulai. Ujian yang akan menentukan bukan hanya peringkat mereka. Suara langkah ringan terdengar mendekat.

“Kamu melamun, Ren?” suara lembut itu menembus pikirannya. Julia menghampirinya sambil membawa catatan kecil di tangan. “Apa kamu sedang memikirkan sesuatu?”

“Butuh berapa poin sampai tim kita bisa kembali ditugaskan keluar Academy?”

Julia terdiam sejenak, menatap daftar pencapaian tim yang tertera di catatannya.

“Untuk perolehan tim… masih jauh dari cukup, tapi dalam beberapa kasus, Academy bisa memberikan pengecualian, kalau alasannya kuat dan disetujui langsung oleh dewan instruktur.”

Ren menatap lurus ke depan, matanya berkilat dingin di bawah sinar matahari.

“Baik, itu sudah cukup” ucapnya singkat.

Julia memperhatikannya beberapa saat tanpa berkata apa-apa, lalu menunduk sedikit, menyembunyikan ekspresi cemas di balik senyumnya yang lembut. Ada sesuatu di mata Ren hari itu sesuatu yang berbeda. Sebuah tekad… yang terasa lebih tajam dari biasanya.

“Ngga biasanya lu keliatan serius gitu, Tuan Phantom Knight.”

Suara santai itu datang dari arah belakang. Kieran berjalan menghampiri dengan langkah ringan, memainkan pisau kecil di antara jari-jarinya dengan gaya khasnya yang seenaknya sendiri. Julia langsung menoleh dengan tatapan tajam.

“Kieran, kalau kamu masih punya tenaga buat ngoceh, sebaiknya kembali ke sesi latihanmu,” tegurnya ketus.

Namun Kieran hanya terkekeh, mengangkat bahunya tanpa rasa bersalah.

“Tenang, Komandan. Saya hanya mau ngobrol dikit sama Ren, nggak akan lama kok.”

Ia berhenti tepat di depan Ren, memutar pisaunya di telapak tangan sebelum menyelipkannya kembali ke sarung di lengannya.

“Gimana, Ren? Kalau di ujian nanti kita kerja sama, peluang buat bertahan sampai hari ketiga bakal jauh lebih tinggi. Gue ini rogue, loh. Kalau soal pengintaian dan kabur dari masalah, gue ahlinya.”

Nada suaranya terdengar santai, tapi di balik senyumnya terselip kesungguhan yang jarang muncul. Ren menatapnya sejenak. Dia menatap kearah ekspresi Kieran yang kali ini berbeda dari biasanya.

“Saya ngga ada niatan buat kerja sama sama siapa pun,” jawab Ren datar tanpa menatap Kieran. “Lagi pula, saya ini pengkhianat kekaisaran. Siapa juga yang mau percaya sama saya di timnya?”

Kieran hanya terkekeh, memutar pisaunya santai di jemari.

“Hmmm… gue percaya kok, bro. Bukannya kita pernah kencan buta bareng sebelumnya? Kalau lu setuju, gue bisa ngenalin lu ke kenalan gue. Siapa tau cocok,” ujarnya dengan senyum menggoda.

Namun belum sempat Ren membalas, hawa dingin tiba-tiba menyelimuti arena. Udara di sekitar mereka seolah menegang, dan Kieran spontan menegakkan tubuhnya begitu merasakan tekanan sihir yang familiar.

“Jangan coba-coba kamu menyeret Ren ke arah hal-hal sesat, Kieran.”

Suara itu terdengar jernih namun dingin menusuk. Dari sisi arena, Altheya berjalan mendekat langkahnya tenang, tapi sorot matanya tajam penuh teguran. Aura sihirnya berkilau lembut di udara, menegaskan ketidak senangannya. Kieran menoleh, dan bukannya gentar, malah tersenyum nakal.

“Wah, kenapa lu yang marah, Altheya? Tunggu sebentar…” ia menatap keduanya bergantian dengan ekspresi penuh arti. “Belakangan ini lu keliatan deket banget sama Ren setelah pertandingan bulan lalu… jangan-jangan kalian berdua pacaran, ya?”

Seketika telinga panjang Altheya memerah semerah tomat..

“A–apa!? Pa–pacaran!?” serunya refleks, wajahnya kini merah padam. Ia mengacungkan tongkat sihirnya ke arah Kieran dengan gerakan gugup tapi galak.

“Dasar manusia lancang! Kenapa kamu bilang begitu ke saya!? Mulut kamu bahkan lebih kotor daripada binatang!!”

Kieran tertawa terbahak-bahak, mundur selangkah sambil mengangkat tangan menyerah.

“Tenang, tenang, saya hanya bercanda doang, jangan marah gitu dong! Nanti Ren beneran mikir kamu baper, lho.”

Altheya makin salah tingkah, telinganya kini memerah sampai ujung. Ia menoleh cepat ke arah Ren yang hanya menatap mereka berdua dengan ekspresi datar, seperti sedang menonton dua anak kecil berebut mainan.

“KIERAN!!!” teriak Altheya akhirnya, wajahnya merah padam. Tanpa pikir panjang, ia mengacungkan tongkatnya dan melepaskan beberapa semburan sihir ke arah Kieran.

Lihat selengkapnya