Refulgence of The White Wings Act II

Dimas Nugraha
Chapter #10

Chapter 9: Kepercayaan Sang Peri

Altheya Pov

Saat hendak kembali ke asramanya, langkah Altheya terhenti. Kerumunan siswa dan siswi memenuhi jalan menuju asrama utama, sorak dan bisik-bisik menyatu menjadi riuh yang menusuk telinga. Di tengah lingkaran itu, ia melihatnya Ren, membungkuk di hadapan Putri Giana von Oswald, tepat ketika sang putri melemparkan lencananya ke tanah di depan pria itu. Kilatan cahaya dari lambang kekaisaran yang terukir di lencana itu seolah membelah udara, menjadi tanda jelas sebuah tantangan terbuka. Altheya terpaku. Matanya membulat, lalu perlahan mengecil ketika suara-suara mulai memenuhi udara di sekitarnya.

“Lihat tuh! Akhirnya dia bakal habis!”

“Habisi dia, yang mulia!”

“Putri Giana! Tunjukkan hukuman kekaisaran buat pengkhianat itu!”

Kata-kata mereka bagai racun yang menetes satu per satu ke dalam telinganya. Setiap kalimat penuh kebencian itu menusuk seperti jarum, menyayat sesuatu di dalam dirinya. Altheya mengepalkan tangannya erat, hingga buku-buku jarinya memutih. Wajahnya menegang menahan amarah yang mendidih dalam diam. Ia tahu betul, Ren tidak pantas diperlakukan seperti itu. Ia tahu alasan di balik keputusan Ren alasan yang tidak diketahui siapa pun. Ren menanggung semua tuduhan itu demi menjalankan tugas terakhir dari ibunya, sesuatu yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun.

“Dia rela di cap pengkhianat, hanya demi mempertahankan keadilan yang dia yakini,” pikir Altheya getir.

Dan entah kenapa, setiap kali mengingat itu, hatinya bergetar. Bukan karena iba, tapi karena kagum… dan takut. Kagum pada keberanian Ren untuk berdiri sendirian melawan dunia, takut karena perlakuan manusia di sekitarnya yang penuh kebencian dan penghakiman dengan tatapan sama yang juga diarahkan padanya hanya karena dia seorang elf. Ia menunduk pelan, matanya berkilat dengan emosi yang sulit dijelaskan.

“Manusia memang… selalu sama,” bisiknya lirih.

Namun di balik tatapan muram itu, satu hal semakin jelas baginya, Ren Flarehart bukan sekadar rekan satu tim. Ia adalah satu-satunya manusia yang membuatnya ingin mempercayai manusia kembali. Dalam diam, Altheya menggenggam ujung jubahnya dengan erat, menatap punggung Ren yang berdiri tegak di bawah sinar sore. Tekad tumbuh di dalam dadanya, kuat dan jernih seperti bara yang baru disulut.

“Kali ini… biarkan aku yang membantu kamu Ren.”

Kalimat itu hanya bergema di dalam hatinya, namun terasa seolah ia mengucapkannya langsung pada Ren. Ia tidak akan membiarkan Ren menghadapi semuanya sendirian lagi. Tidak kali ini. Ia akan membuktikan pada Giana von Oswald, sang putri pertama kekaisaran, bahwa dirinya yang seorang elf, rekan seperjuangan Ren, orang yang melihat ketulusan dan luka di balik matanya berhak berada di sebelah Ren dan memiliki tempat di sana. Ia akan menunjukkan pada dunia mereka berdua benar-benar bisa berdiri sebagai satu tim yang mempercayai satu sama lainnya.

Pada malam hari, suasana Academy sudah sepi. Hanya cahaya redup dari lentera-lentera jalan yang berayun tertiup angin malam. Langkah-langkah ringan Altheya terdengar lembut di antara sunyi, jubahnya bergoyang mengikuti irama langkah itu saat ia berjalan menuju area paling belakang dari kompleks asrama. Tempat itu… jauh berbeda dari area asrama lainnya. Rumputnya tumbuh liar, dinding-dindingnya retak, dan cat kayunya mengelupas dimakan waktu. Altheya berhenti sejenak, matanya yang berwarna zamrud menatap sekeliling dengan sorot tajam dan dingin. Tulisan-tulisan kebencian memenuhi dinding di bagian depan ruangan tersebut.

“Pengkhianat.”

“Sampah Kekaisaran.”

“Mati sana”

“Keluar dari Academy.”

Semua huruf itu tergores kasar, sebagian besar dengan tinta dan arang, beberapa bahkan dengan bekas goresan pisau. Dan di luar jendela, tepat di samping bangunan, tumpukan sampah menumpuk dengan bau busuk menusuk hidung Altheya.

Kejam, bagaimana seseorang bisa menempatkan calon prajuritnya di tempat seperti ini…?” gumamnya pelan.

Nada suaranya mengandung kemarahan yang tertahan, bukan hanya karena kondisi tempat itu, tetapi karena ia tahu siapa yang tinggal di sana. Ia mengetuk pintu beberapa kali.

Tok, tok, tok.

Beberapa detik berlalu, tak ada jawaban. Namun setelah ketukan ketiga, terdengar suara dari balik pintu.

“Siapa di luar?”

Begitu pintu terbuka suasana menyedihkan tempat itu terlihat, ruangan di dalamnya kecil, suram, dan jauh dari kata layak disebut asrama. Kayu dindingnya berjamur, tidak memiliki tempat tidur yang digantikan dengan Jerami yang di tumpuk, dan cahaya satu-satunya berasal dari lentera kecil di sudut meja. Ia menutup hidungnya sejenak, lalu menatap Ren yang berdiri di ambang pintu. Ada kemarahan yang membara di dalam dirinya, tapi juga rasa iba yang sulit ia sembunyikan.

“Jadi ini yang mereka sebut tempat tinggalmu?” ucapnya lirih, suaranya bergetar menahan emosi.

Ren menatapnya datar “Bagaimana kamu tahu tempat ini?” tanyanya tenang.

“Aku dengar dari rumor,” jawab Altheya pelan, pandangannya menyapu dinding kayu yang lapuk dan ukiran kata-kata hinaan di permukaannya. “Tapi tempat ini lebih parah dari yang kubayangkan. Boleh aku masuk? Aku perlu bicara denganmu, Ren.”

Ren memajang ekspresi bermasalah. Sejak tinggal di sana, hanya Damian yang pernah mengunjunginya dan tak ada satu pun siswa atau siswi lainnya yang mengunjunginya, apalagi seorang elf seperti Altheya.

“Tempat ini nggak layak, saya ngga bisa membawa kamu ke tempat kotor seperti ini,” ujarnya akhirnya.

Namun Altheya menggeleng pelan dengan tatapan matanya tegas.

“Justru karena itu, aku ingin melihatnya sendiri, Ren. Dengan mataku sendiri.” Jawab Altheya dengan lembut.

Ren terdiam, menatap gadis elf itu yang berdiri di depannya dengan keyakinan yang sulit ia mengerti. Ia menghela napas panjang, lalu menyingkir dari ambang pintu. Dalam hatinya, satu keluhan kecil terlintas.

“Kenapa semua cewek yang gue kenal… keras kepala semua, ya.”

Saat Altheya melangkah masuk, aroma debu dan kayu lapuk langsung menyambutnya. Pandangannya menyapu ruangan kecil itu perabotan seadanya, hanya ada satu meja yang tampak digunakan untuk makan sekaligus belajar, sebuah lentera kecil yang redup menggantung di pojok, dan kasur sederhana yang hanya berupa tumpukan jerami. Debu menempel di setiap sudut, dan udara di dalam terasa berat. Altheya menghela napas pelan, lalu menatap Ren dengan tatapan prihatin.

“Oke, pertama-tama… sebaiknya kita bersihkan dulu tempat ini,” ujarnya tegas.

Ren menatapnya tanpa ekspresi, kemudian menjawab dengan nada datar.

“Kamu tahu, meskipun kita bersihin tempat ini, nggak akan berubah banyak… Tempat ini tetap aja kotor, apalagi dengan tempat sampah di sebelah ruangan ini.”

Namun Altheya tak menggubrisnya. Ia sudah menggulung lengan bajunya, mengangkat tangannya perlahan, dan seketika angin lembut berputar di sekitar mereka. Debu-debu terangkat, melayang ke udara, lalu keluar melalui celah pintu dan jendela. Beberapa kertas dan serpihan kecil ikut beterbangan. Ren hanya bisa berdiri di sana, menatap pemandangan itu dengan pasrah. Ia tahu percuma mencoba menghentikan seorang elf yang sudah memutuskan sesuatu. Dan dengan pasrah dia ikut membantu membersihkan kamarnya.

Beberapa waktu berlalu. Lentera kini memancarkan cahaya hangat yang lebih jelas, dan udara di dalam terasa sedikit lebih bersih. Tempat itu memang masih jauh dari kata layak, tapi setidaknya untuk pertama kalinya ruangan itu terasa hidup. Ren berjalan ke sudut ruangan, mengambil teko kecil yang tampak sudah tua tapi masih terawat. Ia menuangkan air panas ke dalam dua cangkir sederhana, aroma teh herbal yang lembut perlahan memenuhi udara. Setelah memastikan suhu pas, ia menyerahkan satu cangkir kepada Altheya yang kini duduk di kursi kerjanya.

Altheya menerima teh itu dengan kedua tangannya, menghirup uap hangatnya perlahan. Pandangannya tanpa sengaja jatuh pada sudut meja kerja Ren. Di sana, berdiri sebuah bingkai foto yang tampak terawat di tengah ruangan sederhana itu. Di balik kaca yang sedikit buram, terlihat bayangan samar beberapa orang… dan senyum Ren yang jauh lebih muda. Namun sebelum ia sempat menatap lebih lama, Ren melangkah cepat ke arah meja itu dan dengan tenang menutup bingkai fotonya, membalikkan sisi depannya ke arah meja. Gerakan itu begitu alami, tapi cukup untuk membuat Altheya menatapnya dengan heran.

“Kenapa kamu melakukannya?” tanyanya pelan.

Ren terdiam sejenak, menatap cangkir tehnya yang mengepul.

“Itu bukan sesuatu yang penting,” ujarnya akhirnya, dengan nada datar.

“Cuman… kenangan lama. Sesuatu yang udah seharusnya terlupakan sama waktu.”

Suara itu tenang, tapi Altheya bisa merasakan sesuatu di baliknya bukan kebencian, melainkan kesedihan, masa lalu yang mengikatnya dan ngga bisa dia lepaskan.

“Jadi,” ucap Ren akhirnya, memecah keheningan, “apa yang ingin kamu bicarakan?”

Ia duduk di tepi kasur jerami yang usang, memandangi lantai kayu yang retak diterangi cahaya lentera yang bergoyang lembut. Bayangannya menari di dinding, seolah ikut berusaha menyembunyikan rahasia yang tak ingin ia bagi. Altheya tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri diam di tengah ruangan itu, memejamkan mata sejenak. Ia bisa merasakan beban yang disembunyikan Ren, beban yang membuat punggungnya terlihat lebih tegar daripada siapa pun, tapi juga lebih rapuh dari yang ingin ia akui.

Lihat selengkapnya