Sementara itu, jauh dari ketenangan malam yang menyelimuti Academy di sebuah ruangan asrama siswa yang kacau seakan dilanda badai, Emilio Harper berdiri terhuyung di tengah tumpukan barang berserakan. Lantai kamar dipenuhi kertas latihan yang diremas, pecahan kaca gelas yang terinjak, dan beberapa benda yang jelas ia lemparkan saat amarah menguasai dirinya. Udara kamar terasa pengap, seolah ikut menahan napas menghadapi bara kemarahan yang membakar dada Emilio.
Wajahnya bengkak di beberapa tempat, memar-memar biru keunguan menghiasi lengannya. Luka-luka itu bukan datang dari latihan keras, melainkan dari tangan kakaknya sendiri. Selama sebulan ini, setelah kekalahan memalukan dari Ren, Aldrich Harper sang komandan dan sekaligus kakanya menghajarnya tanpa ampun. Bukan karena benci… tetapi karena malu. Karena harga diri keluarga Harper tercoreng oleh seorang siswa tanpa nama, seorang yatim piatu kelas bawah yang seharusnya tidak punya hak untuk mengalahkan bangsawan. Dan Aldrich memastikan adiknya mengerti betapa besar noda yang telah ia buat.
Emilio meraba tulang rusuknya yang masih nyeri.
"Ren Flarehart…,” gumamnya, napasnya tersengal oleh rasa sakit dan kebencian.
Nama itu berdenyut seperti racun dalam pikirannya. Dendam yang mengendap selama sebulan berubah menjadi kebencian hitam pekat, kebencian yang menyelinap masuk hingga ke sumsum tulangnya.
“Ren Flarehart!!” teriaknya, suaranya parau namun penuh racun.
“Bajingan tengik yang berani mencoreng nama bangsawan!!”
Matanya merah, bukan hanya karena kemarahan… tetapi karena rasa terhina. Karena dunia melihatnya tidak lebih dari bayangan Ren, seorang pecundang yang dipermalukan di depan umum. Tanpa menghiraukan kamar yang berantakan atau rasa sakit yang menyiksa tubuhnya, Emilio meraih mantel yang menutupi wajahnya dan keluar dengan langkah tajam. Ia tidak peduli malam sudah larut atau angin dingin menggigit kulitnya.
Ia harus melakukan sesuatu. Ia harus membalas. Ia harus membuat Ren Flarehart menderita, lebih dalam dari apa pun yang ia alami sebulan ini. Dengan dada yang membara dan pikiran yang makin gelap, Emilio melangkah menuju gerbang Academy, lalu terus berjalan menuju pusat distrik di Kepulauan Zale. Setiap langkahnya semakin menyeretnya jauh dari akal sehat… dan semakin dekat pada keputusan kelam yang tidak bisa ia tarik kembali.
Di kejauhan, bayangan kota malam Zale perlahan muncul, gemerlap lampu yang memantul di permukaan kanal-kanal, memecah kegelapan dengan cahaya tipis yang menggoda. Tapi di balik kilau itu, Zale menyimpan sisi gelap yang hanya dikunjungi oleh mereka yang haus kekuasaan. Tempat di mana seseorang bisa membeli apa saja, informasi, atau sebuah barang illegal di kekaisaran. Dan Emilio Harper datang untuk itu. Ia telah mendengar desas-desus tentang distrik bawah tanah Zale, rumor yang biasanya hanya dianggap sebagai mitos oleh para bangsawan. Namun malam ini, Emilio dengan rela menginjakkan sepatu mewahnya di lumpur, hanya demi satu tujuan yaitu. Menghabisi Ren Flarehart.
Ia melewati gang-gang sempit yang bau alkohol basi dan logam berkarat. Di beberapa sudut, lampu-lampu kristal kecil berkedip, seolah kehabisan energi. Suara bisikan samar mengikuti langkahnya para gelandangan, pedagang gelap, dan makhluk yang tak ingin terlihat. Hingga akhirnya ia tiba di sebuah gang kecil yang tersembunyi di antara bangunan tua. Di sana, berdiri sebuah bar yang tampak seperti siap runtuh kapan saja. Papan kayunya retak, jendelanya diselimuti debu dan noda, namun dari celah pintu terdengar alunan biola muram yang seolah memanggil jiwa-jiwa tersesat.
Emilio mendorong pintu itu. Bar tersebut hanya diterangi cahaya lentera merah yang temaram, membuat ruangan dipenuhi bayangan panjang. Para pengunjung menunduk, seolah tak ingin mengenali satu sama lain. Aroma alkohol, asap, dan rempah-rempah asing menyelimuti udara. Di sudut paling gelap, tepat di belakang meja kayu yang goyah, duduk seorang sosok bertudung kusam. Saat Emilio mendekat, sosok itu mengangkat wajahnya sedikit, hanya cukup agar sepasang mata kuning pucat terlihat dari balik bayangan.
“Hmmmm,” gumam sosok itu, suara rendahnya seperti bergema di dada.
“Tuan dari Legion Academy, senang bertemu kembali dengan Anda.”
Meski bibirnya tersenyum, tidak ada sedikit pun kehangatan di sana. Senyum itu… datar. Kosong. Seperti milik seseorang yang sudah lama berhenti menganggap manusia sebagai manusia. Emilio mendengus sinis, lalu duduk di kursi yang berderit keras seakan memprotes keberadaan seorang bangsawan di tempat seburuk ini.
“Dengar,” ujarnya dingin, menatap tajam.
“Saya membayar mahal untuk meminta Anda membawa barang itu kemari. Jadi sebaiknya Anda tidak mengecewakan saya.”
Nada suaranya arogan, namun ada getaran kecil di baliknya campuran antara emosi, dendam, dan luka harga diri. Sosok bertudung itu terkekeh pelan, suaranya seperti batu-batu kecil yang digesekkan. Ia menepuk meja dua kali. Dari balik bayangan, seorang pelayan muncul membawa sebuah kotak kayu hitam, dipenuhi ukiran rune kuno. Ketika diletakkan di meja, udara di sekitar mereka bergetar tipis.
“Ini yang Anda minta,” bisik sosok bertudung.
“Namun saya harus mengingatkan Anda… kekuatan seperti ini selalu menagih harga.”
Emilio mencondongkan tubuh ke depan dengan matanya yang membara.
“Saya tidak peduli berapa harganya.”
“Kekuatan apapun… selama bisa menghancurkan Ren Flarehart.”
Sosok itu tersenyum lebar, jauh lebih lebar dari sebelumnya, membentuk lengkungan menyeramkan di balik bayangan tudungnya. Seolah kata-kata Emilio barusan adalah musik terindah yang pernah ia dengar.
“Kalau begitu…” suaranya menurun, hampir seperti bisikan setan di telinga.
“Senang berbisnis dengan Anda, Tuan…”
Kotak hitam itu didorong perlahan, dan Emilio meraihnya tanpa keraguan sedikit pun. Jari-jarinya menggenggam kayu hitam itu seakan ia telah memegang seluruh takdir di telapak tangannya. Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, tanpa menanyakan risiko apa pun, Emilio berdiri dan meninggalkan bar kumuh itu. Di bawah cahaya remang lentera gang, sosok bertudung itu menatap punggung Emilio yang menjauh dengan senyum yang tetap melekat dengan senyuman. Dan sementara Emilio menghilang ke sudut gelap kota, suara tawa pelan sang sosok bergema di dalam bar, seperti gema dari sesuatu yang jauh lebih tua dan berbahaya.
Emilio Harper melangkah kembali menuju distrik pusat, kotak kayu hitam itu ia genggam erat seolah menyimpan seluruh masa depan dan obsesinya. Udara dingin malam menyapu wajahnya, namun tak mampu meredakan panas amarah yang membara di dadanya. Senyuman mengerikan terus merayap di wajahnya, senyum seorang bangsawan yang sudah kehilangan akal sehatnya.
“Hahaha… dengan ini akhirnya kau akan mati, Ren Flarehart.”
Langkahnya semakin cepat.
“Tidak ada hukum yang bisa menyentuhku di Academy setelah aku menghabisimu… Tidak ada!”
“Kekayaan, Posisi keluarga, status bangsawan… semuanya akan melindungiku!”
Di pikirannya, ia sudah membayangkan Ren tergeletak tak bernyawa, sementara semua siswa memuji dirinya dan memandang rendah Ren seperti dulu. Dan itu… membuat darahnya mendidih penuh kepuasan.