Refulgence of The White Wings Act II

Dimas Nugraha
Chapter #12

Chapter 11 : Jalan yang sama (Bagian 1)

Waktu yang tersisa menuju ujian bertahan hidup kini kurang dari dua hari. Malam turun dengan tenang, menyelimuti ruang bawah tanah Moonless Café dalam keheningan yang terasa lebih berat dari biasanya. Ren dan Damian duduk berhadapan tanpa kata. Lampu kristal di langit-langit memancarkan cahaya redup, cukup untuk menerangi meja kayu di antara mereka. Asap rokok dari tangan Damian mengepul perlahan, melayang di udara sebelum menghilang di antara bayangan. Aromanya pahit dan pekat, menambah kesan muram yang menggantung di ruangan itu.

Ren bersandar di kursinya, pandangannya kosong menatap dinding batu. Pikirannya jelas tidak berada di sana. Di dalam kepalanya, waktu seolah berdetak lebih cepat, menghitung mundur menuju sesuatu yang tak lagi bisa ia hindari. Suara Damian akhirnya memecah keheningan.

“Kalau si tuan putri itu mulai bergerak, Imperial Knight pasti turun tangan buat ngawal,” ujarnya dengan nada kesal. “Seperti biasa. Cewek manja itu bikin ulah lagi.”

Ren terdiam sesaat sebelum menanggapi.

“Mereka tim yang sempurna,” katanya pelan. “Dipilih langsung oleh Leonardo untuk mengawal Giana.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih dingin.

“Dan juga… mengawasinya.”

Sorot matanya menajam ketika kata itu terucap. Ren tahu betul arti pengawalan itu. Leonardo, sang Kaisar, tidak pernah benar-benar memberi kebebasan pada Giana. Sejak dulu, ia sadar bahwa pria itu membencinya. Seorang rakyat biasa yang dengan lancang berani mendekati adiknya. Bagi Leonardo, Giana hanyalah sebuah adalah alat, sebuah bidak politik untuk memperluas kekuasaan. Sebuah simbol keluarga kekaisaran yang cantik, berharga, dan sepenuhnya terkurung. Dan Ren membenci kenyataan itu lebih dari apa pun.

Damian mendengus pelan.

“Semuanya jadi makin ribet,” katanya. “Giana tahu itu berisiko, dekat sama lu. Tapi otak cewek itu, tiap kali nyangkut sama lu, selalu berhenti berfungsi.”

Ia mengibaskan tangan kesal. “Gue masih inget jelas. Dulu dia bisa tantrum cuma gara gara cemburu lu lebih milih main sama Briana daripada sama dia.”

Ren menghela napas pendek.

“Gue tahu,” jawabnya datar. “Dan gue juga sering kerepotan ngadepin dia.”

Ia menyandarkan kepalanya ke kursi. “Tapi lu juga tahu sendiri, Damian. Lebih gampang nurutin kemauan dia daripada dengerin dia merengek seminggu penuh cuma gara gara hal sepele.”

Damian mematikan rokoknya di asbak batu. Asap terakhir mengepul, lalu lenyap. Ia menoleh, menatap Ren dengan ekspresi yang jauh lebih serius dari sebelumnya. Selama bertahun- tahun, Damian melihat semuanya dari jarak dekat. Ia tahu bagaimana Ren dan Giana pernah dekat, terpaksa terpisah satu sama lainnya, lalu kembali bertemu dengan kondisi yang sudah jauh berubah. Dan sekarang, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia melihat kegelisahan yang nyata di wajah sahabatnya.

Damian menghela napas.

“Bro, lu nggak bisa lari terus-terusan,” katanya pelan. “Setahun ini aja udah cukup buat kalian berdua saling menyakiti satu sama lainnya.” Tatapannya menajam. “Lu nggak pernah ngasih dia jawaban yang jelas soal apa yang sebenarnya terjadi. Yang lu lakuin cuma menghindar. Terus menghindar.”

Ia mencondongkan badan sedikit.

“Lu tahu sendiri. Cewek itu keras kepala, Ren. Apalagi kalau urusannya sama lu.”

Ren tetap menatap langit-langit ruangan tersebut dalam diam.

“Dia masih sayang sama lu, Ren.”

Kata kata itu jatuh keras. Ren menelan ludah. Selama ini ia terus menyangkal. Meyakinkan dirinya sendiri bahwa Giana hanya melihatnya sebagai sahabat. Bahwa perasaan itu tidak pernah berubah. Namun Damian, yang selalu lebih peka, sudah melihatnya sejak lama. Ren akhirnya menoleh dengan tatapan kosong dan wajahnya yang tampak lelah.

“Gue tahu…” katanya lirih.

Ia menghela napas panjang. “Makanya gue nggak sanggup liat mata dia.”

Damian terdiam, lalu mengangguk pelan. Ia tahu, akan jauh lebih mudah membantu Ren jika Giana bukan seorang bangsawan. Jika ia bukan Putri Pertama Kekaisaran. Namun kenyataannya, jarak di antara mereka bukan sekadar perasaan, namun sebuah dinding tebal yang bernama adalah kasta. Tembok sosial antara keluarga kekaisaran dan rakyat biasa terlalu tebal, terlalu kokoh, nyaris mustahil ditembus. Bahkan menjadi keajaiban tersendiri bagaimana Ren dan Giana bisa saling mengenal, apalagi sedekat itu, di masa lalu.

Damian mengetahuinya. Ada dua alasan mengapa, di balik sikap dingin, Ren tetap memegang teguh keadilan dan rasa kemanusiaan. Mengapa ia tidak pernah melangkah terlalu jauh menodai tangannya dengan kejahatan yang tak perlu.

Yang pertama adalah bimbingan Theresa dan Connor.

Yang kedua adalah Giana.

Selama menjadi mercenary, Ren tidak pernah membunuh orang yang tidak bersalah. Ia juga tidak pernah mengobarkan seseorang demi kepuasan pribadi. Alasannya sederhana. Karena selalu ada tempat untuknya pulang. Karena selalu ada seorang gadis yang menantikan kelanjutan kisah petualangannya, mendengarkan dengan mata berbinar, seolah dunia di luar istana itu nyata hanya karena Ren pernah melangkah di dalamnya.

Namun kehilangan Theresa dan Connor meninggalkan luka yang terlalu dalam. Luka yang tidak pernah bisa disembuhkan. Ren telah kehilangan cahaya yang selama ini menerangi hidupnya, kehilangan tujuan yang memberinya alasan untuk tetap melangkah. Sejak saat itu, sikapnya berubah semakin dingin,penuh amarah dan dipenuhi kebencian terhadap kekaisaran yang telah merenggut segalanya darinya.

Dan Damian tahu. Jika Ren juga kehilangan Giana, maka yang hilang bukan sekadar seseorang yang ia pedulikan. Yang hilang adalah alasan terakhirnya untuk tetap memegang keadilan dan rasa kemanusiaan.

Jawabannya terlalu jelas.

Ren akan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Sebuah mesin pembunuh yang dingin, tajam, dan tidak lagi peduli pada batas. Damian tidak akan membiarkan itu terjadi. Ia tidak ingin sahabatnya sekaligus kaptennya, tenggelam dalam kegelapan tanpa menyadari bahwa masih ada ikatan baru, masih ada orang-orang yang benar-benar peduli padanya.

“Ren,” ucap Damian akhirnya, suaranya lebih pelan dari biasanya. “Jujur aja. Gue nggak pernah liat lu sebahagia itu kecuali waktu lu sama Giana.”

Ia mendengus kecil. “Dia memang cerewet, cengeng, menyebalkan dan berisik.”

Tatapannya berubah serius. “Tapi gue tahu. Lu juga punya perasaan yang sama ke dia.”

Ren tidak langsung menjawab.

“Itu udah berlalu, Damian,” katanya akhirnya dengan nada dingin. “Nggak bisa diperbaiki lagi. Gue yakin Gia juga tahu soal itu.”

Damian menegang tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.

“Bro… lu serius?”

Ren mengangguk pelan, tanpa menoleh.

“Hubungan kita udah nggak bisa kayak dulu lagi,” lanjutnya. “Dia punya kekaisaran yang harus dia jaga.”

Ia berhenti sejenak.

“Dan kita…”

Kata kata berikutnya keluar pelan, namun tajam seperti bilah es yang menusuk dalam.

“…adalah musuh kekaisaran.”

Kalimat itu menjadi penutup. Sebuah garis yang memutus masa lalu dan masa depan sekaligus. Sebuah pengakuan atas tekad yang selama ini Ren tunda, namun tak lagi bisa ia hindari lagi. Damian menatapnya lama, lalu menghela napas dengan pasrah.

“Gue harap,” katanya lirih, “lu nggak nyesel sama keputusan ini, Ren.”

Ren terdiam. Cahaya redup di matanya perlahan memudar. Ia tahu, ia tidak bisa terus bimbang. Ada kebenaran yang harus ia kejar. Ada rahasia yang disembunyikan kekaisaran. Ada alasan sebenarnya di balik kematian orang tua angkatnya yang belum terungkap. Dan untuk itu, ada harga yang harus dibayar adalah Giana.


***


Keesokan harinya, setelah menetapkan tujuannya, Ren memanggil Julia, Damian, Altheya, dan Rose untuk berkumpul di Moonless Café. Tentu saja, ia menggunakan kantor milik Kaeden, bukan ruang bawah tanah yang biasa dipakai Ren dan Damian sebagai markas mereka. Julia memandang Ren dengan heran siang itu. Waktu menuju ujian bertahan hidup tinggal sedikit, hampir tak menyisakan ruang untuk persiapan panjang. Karena itulah, permintaan Ren untuk mengumpulkan mereka secara mendadak terasa tidak biasa.

“Jadi… kamu akhirnya menerima tawaran bantuanku, Ren?” ujar Altheya lembut. Senyum tipis yang sedikit jahil terukir di wajahnya.

Ren menghela napas pendek. Sorot matanya tampak lelah.

“Situasinya berubah, Altheya,” jawabnya jujur. “Terus terang, saya sudah kehabisan taktik. Apalagi Yang Mulia menantang saya secara langsung.”

Altheya hanya tersenyum lebih dalam.

“Aku tetap akan berdiri di sebelahmu,” katanya ringan. “Jadi jangan khawatir. Aku tidak akan berpaling darimu.”

Lihat selengkapnya